Monday, April 20, 2009

Potongan rambut sejuta umat.

Gue baru potong rambut.
Hari ini adalah hari yang spesial, yaitu hari kelahiran nenek gue. Jadi keluarga besar nenek gue bakal ngumpul di Cipete minggu sore. Dengan rambut gue yang berantakan gini, dengan mudah gue pasti dipecat sebagai cucu, makanya gue berinisiatif untuk potong rambut. Disamping itu, banyak yang bilang rambut gue kayak jeng kelin, awut-awutan dan gak jelas arahnya.

Dan lagi, gue ogah disebut wajah tak bermuka oleh pak Budi. iye, gue juga gak ngerti apaan maksudnya.

Tempat untuk motong rambut bermacam2, salah satunya salon,
tapi gue gak pernah menginjakan kaki di salon.
1. Karena gue takut banci
2. Gue takut dipotongin rambutnya sama banci
3. Gue takut dibilang ganteng sama banci (lagi)

Kalopun masih banyak salon yang bebas dari banci, gue kurang suka duduk berjam-jam nungguin rambut gue dipotong. Abis itu bayar biaya potong rambut dengan selembar uang yang berisi sebuah angka bulat diiringi dengan 4 buah angka nol.

Karena itu, gue selalu potong rambut di pinggir jalan, murah, praktis, cepat.
Kalo mau cepet 5 menit juga selesai, rambutnya terpangkas, kupingnya juga terpangkas.

kabar buruknya adalah,
Karena sejak kecil gue terdoktrin untuk berpisah dengan rambut gue di tukang-potong-pinggir-jalan, belakangan gue nyadar, bahwa apapun yang gue katakan pada si pemegang gunting, gue bakalan dapet potongan rambut yang sama.

Ketika gue kecil, gue bilang "pendekin dan rapiin, tapi jangan botak"

hasilnya, gue jadi kayak kloningan kobo-chan. Pendek (banget) dipinggir, tebal di atas.
dan itu berlangsung setiap bulan, sampai rambut gue tumbuh kembali dengan liar,
itu juga yang terjadi kepada bocah-bocah yang gue liat keluar masuk dengan rambut yang sama. Rambut sejuta umat.











kobo(k) - chan


seiring waktu berlalu, gue semakin dewasa dan gue semakin ganteng. Gue jadi lebih pintar dengan berpesan pada si abang "pendekin, rapihin, tapi jangan pendek-pendek"

Hasilnya, gue kayak kobo chan abis disunat.














Gue curiga sebenernya kobo chan itu ada, trus dia pernah buka kios potong rambut, dicontek orang indo dan jadilah model rambut sejuta umat ini.


intinya, model yang pasti pas kalo potong di pinggir jalan adalah
1. Botak
2. Cepak

Ngomong2, gue masih lebih bersyukur potong rambut diluar daripada dipotongin bokap gue. Soalnya waktu gue SD, bokap gue pernah motongin rambut gue. Waktu maen kerumah tetangga, nyokap sodara gue nanya siapa yang motongin rambut gue, mungkin karena rambut gue terlihat kayak pantai yang terkena abrasi, atau entah luar biasanya rambut gue,
dengan lugunya gue jawab 'bokap'

"Ooh, pantes jadi mirip Anjasmara gitu." ucap nyokap sodara gue sambil ketawa.

Tapi waktu itu, Anjasmara lagi naik daun berkat filmnya yang berjudul "SI CECEP"

Oya, selamat ulang tahun untuk Tania, 19 April lalu. Panjang umur dan sehat sentosa yo,,,
kuenya mana? hehehehehe

.

4 comments :

Nadia said...

KIT!!LO JUGA SUKA KARIAGE & KOBO CHAN???SERIUS?

Itulah saya said...

lumayan. Sering baca waktu kecil.
oooh, namanya kariage, gue kira kobo chan dewasa.

Anonymous said...

kit, gw juga pernah kayak gitu pas sd-smp emang sih nyebelin. Tapi gw sh nyoba u/ beradaptasi aj...

Prbzt said...

salon ga selalu berisi banci kit,gua biasanya ke salon....eh atau barber shop lupa gua.yang pasti lebih enak di salon karena
-udah pake ac
-dipijet
-rambutnya top gan
dan salon gua juga ga terlalu mahal,35rebu untuk ukuran dewasa.ya lumyan 0 nye cuma 3

peace

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design