Wednesday, July 22, 2009

Parodi Klasik

Terorisme hanyalah sebuah organisasi berisi pengecut kelas kakap. Orang2 yang menekan tuas detonator bom lalu bersembunyi dan meninggalkan kegaduhan dibelakang sana. Orang2 yang gak mau menampakan wajahnya pada dunia, dan hanya menekan manusia hingga level paling bawah ketakutan mereka dengan serangkaian teror bom. Kenapa gue sebut menekan manusia, karena teroris itu bukan manusia. Secara harfiah, mereka manusia, memiliki otak (yang gak dipake), anggota tubuh, dsb, namun secara naluriah, mereka monster.

Masih saja tangan itu terbujur kaku
Walau berulangkali diguncang oleh seorang bocah,
Yang terus-menerus berujar “ Ayah.. Ayah..”
Entah darimana si bocah dapat mengenali si pemilik tangan,
Wajahnya remuk redam, garis-garis wajahnya tak lagi tampak
60 menit lalu ia menyantap piring terakhirnya
Saat hendak berpaling pada sebungkus rokok

Cahaya itu hanya sekejap
Begitu pula dentumannya
Kemudian gelap
Lalu dentuman kembali
Seraya menutup cakrawala indera, mereka diam
Hingga diambang kesadaran mereka, mereka bertanya,
Tuhan, inikah saatku?

Tiada yang mengibakan derai air mata
Wanita yang kehilangan segalanya,
Seorang anak menjerit parau, telinganya bersimbah darah
Bahkan tiada yang menggubris,
Ketika sesosok tubuh bergulir naas ditengah jalan

Ironis
Tangan itu, tangan yang kotor
Mereka pikir dirinya tuhan?
Apa yang ada dalam dunia kecil mereka?
Tawa mereka lebih buruk dari suara radio bututku
Hati kecil mereka telah beku rupanya
Mereka bukan lagi manusia, bukan pula tuhan
Mereka hanya tikus- tikus pengerat yang mengotori lumbung padi kita

Hanya untuk menunjukan eksistensi mereka,
Sekadar untuk mengadu pada dunia, ‘kami masih ada’
Celaka, benar-benar celaka,
Yang mengadu justru tak tampak
Hanya tamparan keras pada wajah pertiwi, tanda keangkuhan mereka

Klasik. Sungguh klasik.
Parodi 7 tahun silam, parodi yang dungu
Parodi yang tak seorang pun akan bayar untuk melihatnya
Bahkan orang terdungu sekalipun
Kini,
Siapa yang kembali membuka panggung tersebut?

Turut berduka cita untuk korban bom kuningan 17 Juli lalu. Semoga mereka tenang disisi-Nya.


...

6 comments :

Alvina said...

Keren kit puisinya, boleh juga.

Itulah saya said...

haa, thx

Anonymous said...

bagus kit
lanjutgan haha

Anonymous said...

paling kopi paste dari tempat laen tuh

Itulah saya said...

kaga kopas. bikin ndiri
nanya gue langsung mangkenye, yan

eris said...

Nice post gan!

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design