Saturday, November 14, 2009

postingan yang berisi gue, Ridho, hujan dan separator Busway

Ya, musim hujan datang lagi.
Kegiatan hari jumat biasa aja, belajar sampe sore, dan pulangnya latihan marawis.
gue tekankan, seharusnya biasa aja.

karena musim hujan, hal ini berubah menjadi gak biasa.
gue dan beberapa orang temen terperangkap di sekolah dikarenakan oleh ujan lebat yang membasahi jakarta. awalnya gue pikir cuma hujan pendek yang numpang lewat, gataunya hujan ini terus datang hingga beberapa jam kedepan. Pantesan paginya banyak banget capung berkeliaran.

lanjut, hingga malam menjelang hujan mulai brhenti,
hujan berhenti setelah brapa jam = banjir
banjir = macet
macet = gak bisa pulang
gak bisa pulang = mati kelaperan


untung dibeliin mie rebus sama ma'eng.

beberapa lama setelah itu, gue masih disekolah. dengan beberapa penantang yang tersisa. gue masih memikirkan bagaimana menyambung hidup ketika Aim balik lagi ke sekolah, dia ngasih kabar, dan entah kenapa kabarnya selalu buruk "gak bisa jalan. Macet. parah"

kedaaan gue makin terpuruk.
jam mendentangkan lonceng 8 kali (emg ada jam lonceng di DU?), gue ambil pilihan nekat buat balik, gue pulang jalan kaki kalo emang gak bisa naek kendaraan atopun nebeng temen. Emang dasarnya gue untung, ridho tergerak hatinya buat ikutan pulang setelah tau keadaan jalan gak sesadis yang tadi.

Ah, ya, sedikit yang gue bisa ceritain tentang ridho. Anak jangkung pake kacamata, kalo ngomong suaranya datar dan serak om-om. Banyak hal indah yang terjadi antara kami, antara lain
hapenya ridho dicopet ketika pulang bareng gue naek mikrolet.
Ridho bayarin gue pulang gara2 gue bokek.
dll,
dan gue setuju dengan pernyataan ridho bahwa, klo dia pulang bareng gue, dia sial.

Berbekal bismilah dan jas hujan kuning cerah. Gue duduk dibonceng ridho, dempet2an, posisi yang bisa bikin fitnah. Alhasil, sampai fly over senen kami baik2 aja, terguyur, aman, senang.

Well, buat postingan kebawah, gue gak bisa mendeskripsikan nama jalan dengan baik, gue buta arah, hhe.

Ridho ambil jalur bawah lewat atrium, pokoknya tujuan kita cuma satu : gak kejebak macet walopun musti lewat goa hantu. Gue baru inget, di belokan toko buku obor, macetnya 17 setan. Maka gue dan Ridho ambil jalan ke kiri,

Gue : Do, lo tau jalan gak?
Ridho : (diem sejenak) Engga. (suara datar robot gedek)

Inilah kata2 Ridho yang masih membekas di benak gue, entah tujuannya untuk menenangkan gue ato supaya gue loncat dari motor:
"Tenang aja Kit, selama masih ada jalur busway kita aman"
"oiya ya do, lo pasti gak kehilangan arah kalo ada jalur busway" ucap gue lega.

"BUKAN. ADA JALUR BUSWAY ARTINYA KITA MASIH DI JAKARTA"

Bodohnya kawanku. Nenek2 salto juga tau.

Semua basah, gelap, dingin, yang paling jelas gue tau adalah kita saat itu ada di daerah monas. Ingusan dan dalam keadaan tinggal-senggol-jatoh.

saat ini, kami berdua bener2 gatau dimana kita berada, kecuali di jakarta, deket monas dan masjid istiqlal, selebihnya kehendak yang maha kuasa kemana menuntun kita.
"ke kiri ato kanan kit?" tanya ridho, bertanya pada gue tentang jalan yang sama sekali gak familiar bagi gue.
"kanan, do"
Pesan moral : Jangan pernah bertanya pada orang nyasar. Akibat dari ucapan 'kanan', motor melaju ke daerah pamer paha (padat merayap tanpa harapan). Ridho dan gue melongo, tapi gak mau begitu saja menyerah pada takdir, anak muda kok loyo (lha?)
anywey, sejurus kemudian timbul pikiran untuk balik arah, dan ya, pikiran itu langsung kita jalankan detik itu juga, begonya setelah itu ridho malah masuk ke daerah hiperboden.

Sekembalinya kami ke jalan yang benar, puncak dari acara-satu-jam-menerjang-badai-asoy muncul disini. Mungkin ini karma karena kami nggak menjadi pengguna jalan yang baik, ato ridho nembak SIM, ato mungkin karena diem2 malam sebelumnya gue ngutil pensil ade gue lagi. Entah, pkoknya tuhan menguhukum kami disini,

Gak ada bahaya mengintai.
Engga ada bau maut mengancam.
mulut segar nafas lega.

Motor melaju cukup kencang, hujan juga masih turun dengan deras.
entah mengapa ridho jalannya dari tengah makin ke pinggir.

gue nyantai aja, biarpun pake kacamata, matanya ridho masi mendingan daripada gue. Kayaknya. Gak lama, gue ngeliat jalur busway. Dimana ada jalur busway, disitu ada separator busway. Separator busway yang apik dengan warna kuning spongebob mencolok ini pasti diliat sama ridho, pikir gue, jadi gue masih santai.

makin lama, arah motor Ridho makin lurus ke separator busway.

gue mulai mempercayai mata dan insting gue. Batin gue tergoncang, nabrak-engga-nabrak-engga?
gue masih percaya sama ridho, walaupun tiap 5cm motor menambah jarak presentase percaya gue pada ridho turun 15%

cap cip cup belalang kuncup. jarak 2 meter, ridho masih lurus. batin gue meronta, JATOHNYA BAKAL KEKIRI ATO KEKANAN NIH??

jarak 1 meter, seandainya di motor ini ada kotak hitam, gue mungkin bakal rekam pesan2 terakhir disitu sayangnya disitu cuma ada knalpot.
Separator busway itu keliatan sangat dekat, dan ridho keliatan sangat bego karena terus bengong. Gue udah membayangkan berita esok bila hal yang tidak diinginkan terjadi, "2 remaja menabrak separator busway, satu koma, satu patah kaki, motor jatuh ke kali. Pengendara dicurigai menggunakan motor dalam kondisi mabuk."

GOD!
Ban motor mencium separator Busway yang miring, menyebabkan efek goncangan yang besar, imbasnya lalu ke pengendara. Sejenak gue merasakan sel-sel dalam tubuh gue bergeser 5mm. Saat nabrak, jarak antara pantat gue dengan jok motor kurang lebih 15 cm karena mental. Masih dalam kondisi shyok, gue masih mencoba mengantisipasi kemana gue akan jatoh dan apakah ridho ato gue duluan yang jatoh.

untung99x, berasa menang togel, ternyata kita nggak jatoh. Ridho punya ability naek motor yang seimbang atao lebih dari syukron. luar biasa, ditambah, saat itu lagi ujan. ckckck....
saat kembali mendaratkan tubuh ke jok, gue ngerasa nyawa gue hilang satu.
kata2 yang pertama diucapkan Ridho setelah detik-hampir-cilaka :
"tadi separator busway ya?" masih dengan nada bicara datar robot gedek.

gue beneran beryukur, gapapa deh coccigis gue tepos, atopun costa vera gue bergeser, yang penting pubis gue gak kenapa2. Huhuhu....

sepajang perjalanan, dengan lugunya kita malah ketawa2, dan menertawakan kebodohan yang bisa dilakukan manusia serta keberuntungan luar biasa bisa selamet dari kecelakaan.
do, 1 pesan buat lo,
separator busway itu bukan halang rintang buat ngetes ketahanan motor.
hehehe...

pulang dengan selamat, nyampe dirumah secara resmi gue dinyatakan sakit.

next time, kita libas trotoar. Adios!

5 comments :

Anonymous said...

kit, yg bener belok kiri bukan kanan yg pas macet itu hahahaha

-zack-

chodelia said...

LOL. dasar anak ipa, bawa2 rangka mulu

eris said...

Haha. Asik abiis

Anonymous said...

serius ini lucu untuk dibaca haha niceee (y)

Anggi said...

Hei, gue link yaa :)

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design