Tuesday, March 9, 2010

Palu dan panggung

mengurangi tekanan menjelang UTS. Mending gue ngeblog. supaya kisah ini gak hilang dimakan waktu (tsah)

Rohis 68 ngadain acara maulid jumat kemarin, bertempat di menza. Hasilnya :

Damage calculation :
1 orang (hampir) koma.

H-1 sebelum acara hari jumat. Rohis mempersiapkan segala sesuatunya di gedung menza semalaman suntuk. yah, mungkin tidak terbayang bahwa mabit yang konon sejinak pesta tidur anak gadis bisa mengundang marabahaya yang sekonyong2 sulit dilupakan.

flashback~~~~~~~~~ (sontrek tsubasa [LHO?])

Kamis malam,
Gue, dengan penuh kebanggan dan rasa aman sentosa karena dengan selamat bisa mengerjakan elemen2 dekor dengan waktu mepet, balik ke sekolah di kamis malam, menunggangi bajaj (yang mana abangnya mencoba merampok gue), membawa spanduk dan umbul2 yang hendak dipasang di gendung menza.

hati dan firasat berkata tiada yang akan berantakan.

Ternyata bok, proses pemasangan umbul2 nya ajegile minta ampun. Anak rohis yang notabene mengabiskan sebagian besar waktu diatas sajadah, seperti gue, kicuap ketika menemui medan kerja.

waktu mau masang umbul2 setinggi 3 meter. Gue baru nyadar betapa 'lumayan tingginya' tangga yang harus didaki buat memaku umbul2. Kami berfikir, kalo jatuh, kalo luka, dan kalo jatuh kepala duluan, apa yang bakal terjadi?. Maka dari itu banyak yang berfikir 2 kali buat naik.

Kepalang tanggung, gue naikin itu tangga,
anak2 seperti tsani berujar "eh parah tinggi banget" ketika gue setengah jalan.
langkah gue terhenti. mengutuk tsani, lalu kembali memanjat.

Beberapa anak tangga sampai kepuncak, dengan bego ada yang menggoyangkan tangga, sengaja. Buat lucu2an. Fatal.

Pemasangan umbul di delay hingga beberapa saat.

--------------------------->

Setelah persiapan matang, gue kembali naik. Membawa palu kerja dan paku yang gue kantongin. Ketika di puncak tangga, gue baru sadar bahwa space untuk memaku sangatlah terbatas ketika badan gue nempel di tembok (soalnya kalo gue mundurin badan, Insya Allah gue jatoh, dan jadi bahan tertawaan 1 semester). Maka, dengan perhitungan nilai fisika yang remedial palu yang gue pegang gue cantolin di tepi anak tangga.

malang tak dapat ditolak, nilai fisika gue emang rendah, begitu pula dengan Bab kesetimbangan. Ketika gue berbalik sebentar untuk mengambil paku di kantung, serentak gue mendengar suara besi berbentur dan berurutan. WTF,

gue berbalik,

voila, Palunya ilang.
Yak sodara-sodara, palu yang kurang lebih beratnya sekilo itu hilang ketika dicantolin. Kemana? kebawah, jatuh, mematuhi hukum gravitasi, dan pertanyaan yang langsung muncul dipikiran gue,

siapakah mahluk yang sedang berada di bawah?????????


Ketika dentuman (palu) terakhir berbunyi. Gue cengok. Semua anak marawis a.k.a Band Tabok yang lagi latian di tengah panggung berhenti. Ruangan sunyi. Gue menunggu suara jeritan, umpatan, dan bersiap2 kalo2 palunya dilempar balik.

Gue melihat kebawah, pelan.
Dibawah gue, ada Lutfi, tepat di bawah lintasan palu jatuh.
Dan yang megangin tangga, rahadian. beberapa saat,

"^*&*&^&%&^%^&$%#"^*&*&^&%&^%^&$%#"^*&*&^&%&^%^&$%#"^*&*&^*&!!!!"

semua emosi. yaiyalah. Rahadian langsung ngeguncangkan tangganya, memaksa gue buat turun (ato jatuh dengan pose nista), sambil ngakak. Lutfi keliatan sangat syok, sambil nyengir kuda. Anak marawis, ada yang ketawa, banyak yang langsung ngerubung. Yang ada di pikiran gue saat itu adalah, tuhan, tolong jatuhkan saya ke tempa yang empuk.

Sialnya, gue gak jatuh. hhe,
Gimana dengan lutfi? Alhamdulilah dia selamat.
cuma bayangin aja wahai para pembaca, gimana kalo palu 1 kg jatuh menimpa kepala anda yang hanya tertutupi rambut dan ketombe? Pasti terasa.

Point of view from Lutfi Muzaki A.K.A korban (nyaris) koma :

"aku berdiri di samping tangga. Mengobrol dengan rahadian sambil memegang tangga agar tidak jatuh dan tetap seimbang. Biar bagaimanapun bangkit sudah bersusah payah untuk berusaha naik ke atas. Tetapi ketika melihat bahwa palu yang dipegang bangkit berada di atas kepalaku, aku pindah ke sisi dalam tangga, tetap memeganginya, hanya saja aku berfikir bahwa disana lebih aman. Tanganku dalam posisi menyilang di atas kepala, karena dengan demikian aku tidak terlalu pegal. Ketika tengah bersenda gurau dengan Rahadian, kami bercanda mengenai kalau-kalau ada yang tertimpa palu, lalu kami tertawa.


ha ha ha


Sejurus kemudian aku mendengar suara yang datangnya dari atas, dentuman besi. sebelum sempat menengok, aku merasa ada yang jatuh menimpa tanganku. Kupikir hanya peralatan ringan serupa paku saja, ketika kutengok ke lantai


PALU! &$*@^^@$&(&@!!!!"


Kira2 seperti inilah.

.\Gue & palu
|.\
| ..\
| ...\
| ....\
* .....\
Lutfi .\ Rahadian

Yah, tapi alhamdulilah semua berjalan lancar. Setelah dibantu 2 orang malaikat yang diutus Allah SWT (sayang keduanya kaga solat), dekor sukses dipasang.

NB : Gue rasa lain kali gak perlu pake ada sesi maen capsa menjelang subuh, kawan. :D

5 comments :

eris said...

Hahah tergoblok maret 2010

Itulah saya said...

hahahaha, thx dah

Boyke triono p said...

jah anjir ini gue udah tidur sih ye,jadi ga tau ah nyesel juga tidur akakakaka

Itulah saya said...

ahahaha, mantap tuh padahal boy.
Thx udah dibaca yak

Anonymous said...

parah lo kit hampir bikin luthfi koma.. hha..
klo seandainya tuh palu mendarat dengan mulus di kepala luthfi, maulidnya bakal jd kyk gmana ya?? wkwkwkwk.. (adit)

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design