Wednesday, March 10, 2010

Selalu ada yang pertama dalam berbagai hal

Double entry!
ho oh, goblok emang. Gue sengaja bangun jam segini. sekaranglah gimana menyiasatinya agar kepala gue gak menghantam meja (ketiduran tengah jalan).

Saya tidak bisa bertahan dengan keberadaan lembar soal fisika disekitar saya. Rasanya saya bagaikan Superman yang dikelilingi batu kryptonite sambil makan sate.

SEMUA, Bermula ketika upacara hari senin lalu. Dan, oh ya, gue lupa solat subuh hari itu.
Seperti biasa, tidak ada tanda2 musibah. Gak ada PR ketinggalan, topi pun dibawain sama Rahadian. its all beautiful.

Pak pono menyudahi pidato singkatnya. Sebelum beranjak dari lapangan upacara, semua siswa/i kelas XI ditahan di lapangan (sekilas terdengar umpatan murid) menunggu anak kelas XII untuk salam dan cium tangan kepada guru2 dalam rangka meminta restu untuk UN. (yep, its getting closer, fella)

setelah murid terakhir menyalami, barisan kelas XI disuruh berjalan satu per satu, dimulai dari kelas XI ipa 1, semua berjalan searah sebanyak satu baris saja. bagai napi digiring kembali ke selnya.

Here comes the trouble.

ketika sampai dimulainya kelas gue beranjak, gue berada paling depan, masih memakai topi. tetep nyantai. tiba2 pak budi memberi ultimatum yang sangat tidak tepat waktunya,

"SEMUA TOPI DILEPAS"

Terjemahan : GUE PENGEN LIAT RAMBUT LO SEMUA, BERANDAL. SINI GUE GUNTING SATU-SATU.

wtf, gue percepat langkah gue, namun gue malah beradu pandang dengan pak Budi. Cukup Dongo. Okelah kalo cuma beradu pandang dan bertukar senyum, sst-sst-an ato kedip2an, gue masih rela dengan sedikit fitnah, lah ini pandangan menelanjangi, gak ada pilihan gue buka topi gue, dan dengan sukses gue menjadi orang pertama yang ditarik hari itu.

Rencana tinggal rencana, kata Pak Budi.
Gue memandangi serpihan rambut2 gue yang bertumpuk di sekitar pangkuan gue. Gue gatau tampang gue kayak gimana, tapi sekitar gue pada gak bisa komentar, mungkin terlalu tegang ato gue yang terlihat bagai ubi dengan rambut yang janggal. Lalu gue memandang Ridho, sobat sial gue, kenapa gue bilang sobat sial, hampir semua hal yang gue lalui bersama dia berakhir sial, inget2 ato bayangin aja

Tragedi separator busway
Banci
dan sekarang ini,

gue memandang tumpukan rambut Ridho. WOLAH! Gue gak bo'ong bahwa itu rambut bisa dikumpulin jadi sebuah wig ato BH bulu (emang ada gitu BH bulu?), banyak banget.
waktu gue liat gimana tampangnya Ridho,

gue bagaikan ngeliat ahli kungfu, dia kayak kancut ranger yang tobat jadi pemeran film IP Man. Sumpah. wokakakakak,

yang paling gembel adalah kita harus ngisi surat pernyataan dari sekolah karena melanggar peraturan sekolah. sekali2nya gue kena yang kaya beginian dan gue bener2 nyesel seubun2, harusnya tadi gue lari aje ato bikin alasan bahwa kalo topi gue dibuka nanti tumor ganas dikepala gue bakalan lompat (hmm, patut dicatat).

Segera setelah semua selesai, gue langsung nyosor ke kantin, ngaca.
Dari depan sih, ah, gak terlalu buruk gue rasa, apalagi didukung wajah gue yang diatas rata2 (rata2 kecoa, kuda dan jerapah)

waktu gue masuk kelas, beberapa orang melempar pandang. ketika gue duduk, Erja nyengir2 homo gitu ngeliat gue, trus bilang "kayak orang bego kit"

waktu gue sadar, ternyata rambut bagian kiri gue bopak, membelah seperti laut merah yang dibagi 2 oleh nuh. Awalnya biasa saja, toh ini adalah buah tangan dari pak budi sendiri. Apalagi ada oknum2 yang bilang rambutnya bagus, tapi pandangan gue langsung berubah mantap ketika ketemu Pak Pono di darul ulum.

ketika gue menyalaminya setelah solat, beliau ngeliat muka dan rambut gue, lalu dengan bijak berkata

"KAMU SISIRAN YA BIAR CAKEPAN"

kata2 itu menyentuh jiwa gue. Bayangin, klo rambut gue disisir, gue cakepan. Gimana dipotong rapi? Pak Pono pula yang ngomong. wah, ckckck, kita bisa liat bahwa Jabatan bisa meng-influence manusia2 berakal maupun tidak.

Demi mendapat anggapan ganteng untuk pertemuan berikutnya dengan Pak Pono, segeralah gue motong rambut di tempat yang direkomendasikan Ridho. Dan hasilnya...

Rambut gue cepak. 2 cm. Rata.
hampir semua orang yang gue temuin di sekolah terkejut. Bahkan sampe gue dipanggil botak oleh orang botak, cuma gara2 rambutnya lebih panjang dikit (gimanapun pala lo tetep bulet ki).

kata abang2nya rambut gue gak ketolong gara2 bopak, diratain aja. Gue pikir cuma dipotong pendek dikit, Gataunya ketika gue sadar, pala gue udah botak separuh,
dan tiba2 si abang2 itu ngankat telepon dulu di tengah kerjaan. Maka, gue bisa ngeliat gimana tampang gue ketika botak separuh. Hal itu bisa banget diterapkan untuk shyok terapi.

mirip banget pasien leukimia.

NB : Tadinya gue mo bikin ad gratis model kayak gini, tapi apelnya pengen gue ganti duren. Siapa tau gue dikasih duren gratis ketika lewat karena membantu dagangan mereka. Slurp



















sigh, physic is a hard stuff.

6 comments :

Rafi said...

Kasihan sekali, Anda semalang teman saya... tsk tsk. hahaha

Itulah saya said...

hahaha, makasih udah dikunjungi ya raf

Anonymous said...

woi raf, kok lo bisa nyasara ke sini? hahaha
wah temen lo nasibnya sama kayak gw ya ternyata ckckck

-ridho-

Itulah saya said...

Jiahahaha, thx ya mi dah dibaca

Anonymous said...

mi apaan? hahaha

-ridho-

Itulah saya said...

Oiya salah sambung,

do, maksud gue. hahaha

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design