Friday, March 26, 2010

Study Tour, kelompok 15

Postingan kali ini mungkin cukup panjang.
tapi gue rasa cukup menarik buat dibaca sampai habis.


Liburan,
adalah satu kata yang bisa memberi esensi2 kehidupan bagi siswa2 yang kehilangan jiwanya setelah dibantai(makna kasar) oleh tugas sekolah.

Ya, Bromo, Desa Ngadirejo, Jogja adalah menu liburan yang disuguhkan sekolah.

Kami, angkatan 2011 sman 68 berangkat hari senin dengan menu perjalanan 5 hari. 22 jam perjalanan menuju bromo untuk menikmati terbitnya matahari, semua bersorak gembira, berharap bertemu sang surya ketika bangkit dari peraduan, sambil merangkul sahabat, atopun menggengam tangan sang pacar.

rencananya sih begitu..........

karena adanya oknum2 yang terlambat habislah mimpi kami untuk melihatnya, jadwal ngaret dan roda bus memang cuma 16, gak kurang gak lebih, karena kecepatan dan jarak yang segitunya, kami gagal melihat sunrise dan sampe di bromo jam 9.

Alhasil, kami hanya mendaki gunung bromo dan menikmati pemandangan kawah. Disana udah kayak ada migrasi bedol desa, sebujug2 banyaknya orang, dan hampir dibedakan menjadi beberapa golongan berjaket abu2, ijo dan ungu dan merah, mungkin beberapa orang akan menyangka adanya pertemuan universitas ato kelompok urban.

Dari gunung bromo kami menuju desa Ngadirejo, meninap dan merasakan hidup di desa selama sehari, membantu meladang dan sebagainya. Rumah yang kami tempatin sumpah pewe abis. Perkenalan berlangsung gagap, tapi anget. Apalagi pisang goreng yang disuguhkan tuan rumah, uh, Enak gak maen2, bisa buka otlet dijakarta kali. Pisangnya langsung dan terigunya gak bikin gatel tenggorokan.

Acaranya adalah kami membantu penduduk desa berladang dan sebagainya.
Fatalnya, kelompok kami (tiap rumah penduduk diisi 10 orang) yang isinya Gue, Rahadian, Fadli Mardian, Oditrio Irawan, Prabu Rizal, Adnan Farid, M. Abdul Rosyid, Hario Nugroho, Fithart Salman, Wisnu Sambraha, dan Boyke Triono (klik aja namanya untuk liat fbnya) melakukan hal yang gue rasa lebih ekstrim ketimbang menanam. yah, walopun gak se ekstrim elpala ato klub pecinta alam.

Awalnya kami cuma mencabuti rumput di antara tanaman Pak Tonari (maafkan saya pak, saya pikir tadinya nama bapak Ponari, huhu), sementara prabu malah nyabutin tanaman yang sengaja ditanam dan bukan rumputnya, dan dongonya masih saja bilang "ini rumput, bodoh". Menantu pak Ponari, mas Heli mengajak kami menebang pohon, Prabu gak tau kalo hal ini bakalan dia sesalin sepanjang perjalanan.

Mas Heli menjawab begini saat ada yang bertanya seberapa jauh perjalanannya,
"dekat, kesana tuh" katanya sambil menunjuk arah yang rancu bagi kami. Soalnya ia menunjuk rimbunan pohon yang kurang jelas dan jauh bener.

Lalu berjalanlah kami, menuruni gunung terlebih dahulu, menyapa penduduk lokal yang kemudian bertanya pada Mas Heli, " mo kemana?" (kayaknya sih gini artinya), Menembang kayu, jawabnya. Tapi pendapat penduduk lokal yang gue tangkap malah membakar semangat gue,
"orang kota kok diajak menebang kayu, mana kuat. Hahaha" (masih. kayaknya sih gini artinya)

Berlandaskan lagu-lagu perjuangan, bangun pemudi-pemuda, sorak sorai dan mata indah bola pingpong(emang tu lagu perjuangan?), gue terus berjalan, gue pikir tempat penebangan kayu itu adalah sebuah lahan datar terbuka yang dilindungi oleh pohon2 lebat, di tengahnya ada tumpukan kayu yang siap dibelah dengan kapak tajam yang sudah siap menghajar serta kicauan burung yang menghias seperti di film x men, Ternyata eh ternyata, gak kayak gitu.

Oke, penggambarannya seperti ini,
Setelah kurang lebih 500 meter di jalan utama yang turun naik, kami melewati jalan "pintas" Mas Heli.
Namun kami lupa bahwa hakikat jalan pintas adalah "dekat belum tentu aman"
Ternyata kami melewati jalan setapak yang berbentuk zig-zag menuju atas bukit, curam dan lahan yang dipijaki oleh kaki kami hanya sekitar 60 cm. Kalo kami ngeliat kanan, maka kami melihat pemandangan indah dan seraya berkata "gila, keren banget", tapi kalo ngeliat bawah, maka kami melihat lahan sumpah-curam-yang-ujungnya-sungai, tanaman yang entah gimana ditanamnya, maka seraya berkata "astagfirulah, astagfirulah".

Kurang lebih cobaan itu berlangsung 20 menit, gue dibaris depan memengang handycam abang, merekam semua kejadian, menyemangati yang bawah, di tengah jalan prabu boyke dan hario tiba2 berhenti, mengisyratkan bahwa mereka pengen balik aja, tetapi ketika mereka melihat kembali ke titik awal mereka naik, jauh, dan terlihat begitu kecil, belum lagi jurangnya, prabu kembali berjalan, dengan wajah bertambah pucat. Alhamdulilah gue gak takut ketinggian, karena gue lebih merasa bernyawa ketimbang takut ketika melihat kiri atopun bawah, mungkin karena pemandangan macam itu biasa gue saksikan di layar komputer sebagai wallpaper desktop.

Sesampainya di tempat landai sebut saja checkpoint, posisi terbelakang ditempati oleh prabu dan boyke, gue segera menghampiri prabu dengan handycam menyala dan bertanya bagaimana kesan dan pesannya.
Prabu diam sejenak, menunduk, menghela nafas, tadinya gue kira dia bakal menjawab hubungan antara ciptaan tuhan dan kecilnya manusia, ternyata dia jawab

"mending gue nyabutin rumput deh tadi"

ekspresi datar menyesal lainnya ditunjukan oleh Adnan, ketika yang laen asik2 mencoba mengukur berat kayu, dia bilang "ude-ude-ude, udah mual nih gue"

Oke2, sampai di gubuk penyimpanan, ternyata pohon yang ditebang masih berjarak lagi dan melewati medan yang sama, maka kami diminta menunggu disana, melihat Mas Heli dengan cepatnya turun dan menghajar sebuah pohon dengan sebilah kapak. Kita bengong, sapi ompong, dan cuma bilang gila.

Sambil menunggu kami ngomongin pantangan2 Bromo, dan yang paling gue suka adalah quotes dari Prabu ketika ada yang bilang "katanya kalo ngelempar batu ke kawah gunung berapi nanti kita mati"

Prabu jawab "Kita semua memang bakalan mati, kan?"

Dipikir pun, semua memang bisa dijelaskan berdasarkan logika, penduduk lokal sendiri mengiyakan, bahwa ngga ada hal mistis disini dan pantangan yang aneh2. Semua beralasan dan inti dari percakapan mas Heli sendiri adalah,

Sugesti merupakan jawaban dari semua hal mistis yang ada. Kalo kamu bilang dingin, maka kamu akan merasa dingin.

Berikutnya adalah
"How To Cut a Tree's Stick" lesson by Mas Heli.

di Checkpoint, kayu itu ditidurkan, dan kami satu persatu mencoba membagi dua kayu tersebut. Mas Heli memberi tahu letak kaki yang benar, cara memegang kapak, cara mengayun serta bagaimana caranya agar kapak gak nyasar ke kaki. Gue masih pegang handycam, merekam satu per satu temen2 gue menggerogoti batang nista itu dengan semangat muda mereka.

Sampe pada saat Wisnu yang pegang kapak, entah dia terinspirasi (baca: kecanduan) warcraft, dia mulai menebang kayu dengan semangat 45, tenaga 120% dan cara ketawa yang freak abis, omg. Inilah Wisnu versi Ogre, seperti kalo karakter ngeluarin skill trus berkoar "RAMPAGE".

Sementara fadli, masih tetap dan akan selalu. Dalam tiap kondisi, stay cool, termasuk menebang kayu. Mantap lah gan.

swt, serpihan kayu hasil tebangan wisnu kelempar kemana2, kena muka mas Heli dan kena mata gue. Beneran. Suatu keajaiban kapak yang dipegang wisnu engga nyasar kemana2.

Kayu telah terbelah dua, kami bergantian mengangkatnya sampai ke rumah. Ternyata Mas Heli udah melakukan ini sejak usia 12 tahun. Kami bengong, kami yang dikota umur segitu cuma bisa mainin GTA San Andreas, itu juga nge-cheat. Salut kami gak berhenti sampe situ, ternyata gelonggongan kayu segede gini (kurang lebih 3-4 meter dan diameter 30 cm) cuma bisa dipakai untuk memasak selama 2 jam. Dengan kata lain Mas Heli harus mengambil kayu semacam ini setiap hari.

Kalo saya mungkin sudah asma di minggu pertama.

Kembali kerumah, beberapa oknum mencabuti bunga-bungaan untuk orang yang dikasihinya. Tapi cuma boyke yang beneran ngasih ke Nunung(nama samaran untuk menyelamatkan privasi orang tersebut) katanya sih si nunung ini tersenyum ketika menerimanya, mengingat boyke mengambilnya dari tepi tebing,tsah. Sayangnya 1 dari 3 video yang terekam tidak tersimpan karena baterainya abis.

Mandi di kamar mandi yang bukan kamar. Suatu kesenangan tersendiri mendapat pengalaman macam itu. Jadi tempat untuk mandinya adalah sebuah ruangan tidak beratap dan dikelilingi dinding bambu bercelah. dan sebelahnya, anak kota boleh kaget,
adalah tempat mandi tetangga yang sama persis. dan hanya ditutupi pagar bambu yang cukup rapat namun bercelah.

dan yang tinggal di sebelah saat itu adalah kelompok cewe.

ajegile nenek berondong.
Untung gue menemukan metodi lain untuk mandi, begitu pula temen2 gue, walaupun ada yang numpang di rumah orang lain. Menyenangkan. Mandi memandang pegunungan, cemas2 ada orang lewat. Mandi bareng, coba gue rekam. Jadi deh skandal 68 dengan video berjudul bromo.3gp

Malamnya, setelah kembali dari obrolan ringan dengan kepala suku tengger yang benar-benar gentleman dan ramah, kami pulang dan tidur berdempetan di lantai. Cuma Hario yang tidur dengan baju lengan pendek dan celana pendek. tanpa selimut. pulas. Sumpah demi. Padahal suhunya cukup buat ngebuat asma gue kambuh kalo jalan2 sebentaran tengah malam. kurang lebih belasan derajat. Entah si hario ini mimpi apa ato belajar kesaktian apa ampe bisa kayak gitu.

No comments :

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design