Wednesday, April 21, 2010

Ketika si abang bertanya 'Mane?" dan tanpa sepeser uang pun di saku.


Sejak beberapa minggu gue nyoba untuk menabung.
berhubung skill tabung menabung gue nggak jelas, jadi gue cuma berfikiran pendek dengan meminimalisir pengeluaran gue secara sembrono. Misalnya, sebelum berangkat sekolah gue ngambil uang seadanya di laci dan selalu nominal terkecil dengan perkiraan 'cukup' buat bayar mikrolet. Berharap uang yang gak kepake/terambil bakal jadi aset yang baik.

Alhasil hal ini berefek buruk.

Semua menyenangkan hari ini, tidak kurang dan tidak lebih.
Gue pulang, sebagaimana biasanya, Mikrolet M01, kendaraan paling gahol se salemba.
Sejak beberapa hari yang lalu, gue menemukan bahwa gue bisa menghafal dengan cukup baik di mikrolet dibanding di sekolah (mungkin karena di sekolah tergoda bercanda, hahaha). Jadi, dengan penuh sukacita gue keluarin kertas hafalan hormon dan duduk dengan manis disebelah pak kusir.


Dengan tenang mata gue meneliti satu persatu isi kertas dan menghafal. rasanya semua bakal berjalan lancar, begitu pikir gue.

Mobil melaju memasuki kawasan senen, time to pay the bill.
Gue merogoh kantong dada gue, hanya ada 2 kartu joker bekas maen capsa disekolah.
Gue merogoh kantong kiri, kosong.
Gue merogoh kantong kanan, isinya bolpen, kertas ulangan dan catatan kimia.
Gue kembali merogoh ketiga kantong tersebut lebih dalam,
Lalu gue perpindah merogoh tas, sampe ke akar-akarnya

there is no money. Nothing at all.
(thunder roaring)

Gue panik. Ini kejadian pertamax bagi gue dan gue pikir ga bakalan terjadi. Gue ga bawa dompet dan uang berlebih. watdepak.
Sementara abangnya udah bete gitu ngeliat gerak-gerik gue yang ga jelas, rogoh sana rogoh sini kea exibithionist, trus dia malah bikin gue tambah eneg dengan bilang "Mana?" entah maksudnya :
"turun dimana?" atau "mana duitnya, nyet?"


Di kepala gue cuma terngiang, bergaung, cepat

"Tiroksin kelenjar tiroid mempercepat metabolisme basal"

Sementara gue nganga, nyaris gak bisa mikir apa2. Seandainya gue kabur sekarang,
kemungkinannya gue diteriakin, digebukin, koma.
atau gak diteriakin, ditabrakin mikrolet, patah tulang.
GASWAT.

Ditengah keterpurukan itu gue ngeliat di tangga penyebrangan, sesosok siswa sma, dan ya gue cukup yakin itu anak SMAN 68. Tengah turun.
Harapan gue untuk tidak digebukin gara2 ga bayar mikrolet kembali merekah. Gue langsung berujar ke si abang yang bete, "Bang, jujur duit gue ilang. Ni tas gue titipin disini, tungguin bentar gue temuin temen gue disana tar gue balik lagi" ucap gue terbata-bata.

Gue lari. Ke arah cewek sman 68 yang kurang beruntung itu.
Ternyata dia Rabikah, anak ipa 4. Orang yang sama (kalo ga salah) yang pernah nyasar di Veldrome bareng gue waktu kelas 1 ketika nyariin lapangan lari.

gue tarik tasnya dan langsung ngerocos gak jelas ketika dia nengok dengan muka heran.
"serius. Duit gue ilang dan gue butuh bantuan lo. pinjemin gue duit bakal bayar mikrolet dong" ucap gue imbisil.

Dia diem sejenak. Mungkin bingung tau2 tasnya ditarik gitu dan entah gimana dipalak anak dari sekolah yg sama. Air mukanya berubah menjadi sedikit prihatin, lalu bertanya "berapa?"

Gue menjawab dengan securah harap " 2000 perak!"

sedetik kemudian eksprasinya tambah prihatin. Dia ngerogoh kantong kiri dan kantong depan, lalu bilang,
"YAH, GUE JUGA CUMA PUNYA.......... (menunjukan uang seceng dan koin gopek) CENGGO"


Gue kembali cengok, ini gawat. Cenggo bisa beli gorengan, cenggo bisa beli 3 biji akua, cenggo bisa buat bayar banci di perapatan. Namun, cenggo tidak bisa ngebayarin biaya mikrolet 2 orang.
gaung2 dan suara "tiroksin kelenjar tiroid meningkatkan metabolisme basal" di kepala gue kembali lagi. Lebih keras.

Gue nyaris pasrah. Rabikah cabut setelah bertanya "kok bisa sih?" sementara gue terus melengos karena bimbang.

Sebenernya banyak pilihan yg ada tetapi tanpa mengindahkan nilai moral,
1. Menjilat abang mikrolet dengan bilang abang ganteng,
2. Jungkirbalikan mikroletnya
3. Kabur dengan tas
4. Kabur tanpa tas (bisa jadi alasan klo bsk ditanyain pr)
5. ngaku anak jendral,
6. pura2 mati

Lalu gue inget, bahwa gue ada kenalan di Pasar Senen ini. Gue langsung lari-
Ke arah rimbunan penjual DVD BAJAKAN.
Mata gue mencari, lalu dengan gampang menemukan penjual langganan gue tengah kongkow2 dengan tmen2nya. Beberapa diantaranya preman, seriously.
singkat kata gue minjem duit dia, dengan terbata-bata, diliatin orang, diliatin preman, bersiap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi seperti di film2 seperti suara botol pecah dan pertanyaan "LO MO JADI JAGOAN?".
Untungnya hal itu ga kejadian.
Dan diluar dugaan, yang ngasih gue goceng rupiah adalah salah satu orang garang bertato.

Lihat? Bagaimana hubungan dengan pedagang dvd bajakan aja bisa sebegini menguntungkan.

After all, gue selamat sampai rumah, sisanya naek ojeg.
Have a nice sleep folks. Doakan saya berhasil dalam nilai besok.

5 comments :

QILLING BLOG said...

Kit, kayaknya cerita lo banyak berhubungan dengan angkutan umum yah? Hahaha

Itulah saya said...

Hahaha, begitulah qil kalo pulang dan kemana2 pake angkot.

QILLING BLOG said...

hahahaha eh lo view-view blog gue nggak. ngerasa ga eksis ni blog gue

QILLING BLOG said...
This comment has been removed by the author.
Itulah saya said...

Liat kok qil, org gue follow, hahaha.
Blogwalking lah, pasang chatbox juga.

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design