Monday, November 1, 2010

H untuk Halimun


Bersamaan dengan rasa gatal akibat alergi yang menjalar, iringan lagu maliq serta (masih) stabilizer yang ga kunjung diam, gue bakal nyampein request yang terus2an dilontarin Richard sejak 3 hari lalu, "UPDATE, KIT!"

iye, bawel. 

Yak, 3 hari ini, sejak kamis lalu, angkatan 2011 IPA sman 68 jakarta ngadain study Tour ke taman nasional gunung Halimun. dan demi apapun yang bernafas, berkelakar dan berjidat, 3 hari yang lalu memang luar biasa.

Rencana perjalanan adalah, berangkat ke bogor naik bus, dilanjutkan dengan naik Truk menuju taman nasional Halimun, nginep di rumah penduduk selama 2 hari, praktikum biologi dan mengamati hutan halimun. 

Tapi kenyataannya gak sesimpel itu juga sih. 


Singkat kata, kita berangkat pake bus TNI AL menuju bogor, suasana di bus pewe banget, ada Moses yang maestro maen gitar, lawakan-lawakan prabu, sampe kentutnya erza yang secara bergantian berkumandang selama beberapa jam dalam perjalanan. Berikutnya, bus jadi studio rekaman tembang kenanga, ganti2an anak2 pada request lagu ke moses, 

"ses! What A wonderful world!"
"SES! lagunya samson!"
"Ses! Air dan Api!"
"Ses! Cinta ini membunuhku!"
"Ses! naik-naik ke puncak gunung!"

" Ses! LILIAN TAU TAU!"

kuping gue berbusa duduk tepat dibelakang moses yang ngiringin semua lagu permintaan anak-anak. 

Sampe di bogor, dengan keadaan sedikit budek, kami pindah ke truk bak terbuka-yang-biasa-dipake-naro-ternak. Semua tas dinaikan duluan dan disusun dengan rapi, terpal dipasang separuh badan truk untuk nyelametin tas karena potensi bakal terjadi hujan amatlah gede. Semua orang di tiap kelas masuk ke truknya masing-masing, truk di kelas gue memuat kurang lebih 34 orang. sempit? IYalah. semua berdiri (cewek cowok)  kecuali yang dibawah terpal jagain tas,sisanya beratapkan langit. 

Tepat semua orang naik dan pintu truk ditutup, hujan turun, deras pula. Ganteng. 

Raincoat dipasang, truk berjalan, uap nafas muncul dimana2 karena dinginnya suhu, rasanya eropa dan korea jadi deket tiba2, semua bersorak. 

kurang lebih 3 jam perjalanan pake truk menuju taman nasional Halimun (lagi, itu rencananya).

30 menit pertama, truk bak terbuka itu berubah jadi truk goyang berisi penumpang dugem tanpa musik. semua teriak2 berasa lagi di dufan, dan lebih ramenya lagi karena sangking sempitnya truk dan ramenya manusia, tiap kali truk ngelewatin jalan buruk maka penumpangnya bakal kelempar kesana kemari dengan sesasi dupan yang ruarr biasa. Yang em te bakalan moshing dan belom berhenti kalo belom ada yang jatoh ato rusuh. Ujung2nya tetep, ketawa2 sambil teriak "luar negeriii" sambil menghembuskan uap nafas kemana2. Bau iya. 

45 menit kemudian, keadaan memburuk, hujan makin gede, masih ada yang ketawa2. masih ada yang dorong2an, masih bisa kentut, sisanya kecapean.

50 menit kemudian, semua kicuap. Badai menggila, langit gelap mampus, petir beberapa kali menyambar. Gue menggigil, terdengar gumaman2 tobat di beberapa penjuru, suara bencong2 mulai terdengar, angan2 dufan semakin menghilang, berganti dengan pertanyaan dikepala "ni kapan nyampenya yaoloh??". 

Beberapa lama memasuki cagar alam halimun, selain dari jalanan yang udah bukan aspal lagi melainkan batu2 doangan, ranting2 pohon mulai bermunculan dan menabrak muka2 para penumpang yang planga-plongo. Gue sendiri kebacok ranting dimulut, erza dimata. Awalnya lucu, makin kedalam, rantingnya upgrade jadi berduri, atau tambah gede dan kasar. 

Satu hal yang gue pelajari dari perjalanan truk terbuka adalah :

Jaket hujan itu ga pernah ada. jaket hujan itu cuma mitos. karena seketat apapun gue pake jaket hujan, baju gue tetep ancur basahnya. 


2 jam kemudian kita sampe, jam setengah 8 malem dengan keadaan kayak penjelajah katro dengan kapal bocor ketabrak dugong, menggigil, luka2 karena ranting, ngantuk. Ngambil tas yang setengah basah, masuk ke rumah yang udah disediakan dan berlayar ke pulau kapuk. kalo gue player dalam game RPG, mungkin gue udah naik 5 level dan dapet skill "twig evading!". 

Keesokan harinya. Menu utama dalam acara ini, mengamati hutan gunung halimun (baca : masuk hutan untuk pertama kalinya, [baca lebih dalam : mencari ksempatan nemplok dengan si doi dengan melakukan tindakan heroik kek di komik cantik seperti bantu naek tebing2 curam dengan mata berbinar2 dsb])

Praktikum biologi seleksi alam sebelum masuk ke hutan, formalitas, setelah bikin lahan, menebar kacang dan pura2 jadi predator dan ujungnya dibilang salah ukuran lahan oleh Bu Nyoman, kami berangkat masuk ke hutan.

Ratusan meter kedalam hutan, banyak yang gue temuin mulai dari pacet genit yang ngisep darah (yaiyalah), medan berat yang isinya cuma melulu tanah dan lumpur yang keduanya licin, lalu lebih licin lagi setelah hujan, medan curam yang musti didaki ato dituruni dengan tali karena kemiringannya yang sungguh bencong, jalanan setapak sempit yang sebagian besar kiri kanannya jurang serta oknum2 yang kalo khilaf becandanya bisa dorong2an sampe masuk jurang. 

Sulit untuk nulis hal lucu disini karena kebanyakan perjalanan kaki 12 jam yang kami tempuh seutuhnya berisi paling sedikit 75 % hal jenaka tiap menitnya. Gue bingung untuk mulai darimana entah itu ketika

prabu kepleset tanah untuk pertama kalinya dengan posisi terduduk, serta merta dia merem melek dan berujar "sensasi plong" sambil mengusap punggungnya yang kecoklatan.

atau ketika

Moses dan payung cantiknya merosot mesra menuruni landasan curam dan berakhir dengan corak pakaian orang cepirit.

atau bahkan ketika guru olahraga gue membebaskan dirinya dengan berteriak di tengah hujan sambil nyeburin diri abis2an di air terjun bersama gue dan lutfi, yang kemudian ketiganya jadi keliatan kayak melakukan ritual sekte sesat dan ditontonin anak2 satu angkatan.

dan masih banyak lagi sampe gue males nulisin atu2. 

Anyhow, 12 jam perjalanan itu menjadi 'agak' gasping ketika memasuki pukul 7 malam, padahal tahun2 sebelumnya para peserta harusnya udah nyampe penginapan jam 4 sore. Mungkin karena hujan lebat di daerah air terjun pukul 2 siang bikin medan jadi makin sulit dilewati karena tanah berubah jadi lumpur licin dan beragam alasan yang bikin kami masih ngalor ngidur dengan raincoat-cap-macan-hina ga guna di tengah hutan yang gelap. 
Kabut makin tebal, makin laper, makin nabok(nahan boker), jalan makin ga keliatan, kelas IPA 4 berada paling belakang dengan guru2, masih wander around meniti jalan setapak yang berasa kayak muter2 doang. 

Hal yang paling ngehe saat itu adalah kata2 "dikit lagi", "bentar lagi", merupakan kumpulan janji2 surga yang bikin sanubari jadi panas, karena puluhan menit setelah kata itu diucapkan, kami masih dihutan, nahan pup dengan susah payah. 

Ada lagi Hazu yang dengan ceria bilang "wooooi, dikit lagi jalan besar!!!" 
semua nyengir, karena jalan besar berarti udah sampe pedesaan, cerah, terbayang air hangat nunggu di penginapan. Hazu terlihat begitu ganteng. Bersinar.

Trus Hazu berbalik dan nyengir kuda sekuda-kudanya "Jalan besar, sebesar ini" dengan isyarat tangan kayak lagi megang kardus indomie.

hazu terjun bebas ke jurang dilempar anak2

Selepas 1 jam dari sana, (dengan, masih kejenakaan yang gue denger tentang gimana prabu, hario dan iwa nyaris jatoh ke jurang, cara mereka ngucapin tolong dan pasrah serta hal dongo yang mereka lakuin saat itu) saat gue rasa jalannya masih jauuuuuuuuh aja, medan sulit terakhir yang gue jalanin adalah jalan sempit dengan sisi kanan jurang jadi musti dititi (gak pake t lagi belakangnya) dengan tali untuk melaluinya. 

Jaket hujan gue berkibar dihajar angin, berasa betmen kampung, gue meniti tali,trus gue denger suara yang sangat familiar, yang nyuruh gue buat merapat ke tali. Bukan, itu bukan nyokap gue yang nyuruh ngangkat jemuran, 
Pas gue nengok belakang, gelap, masih hujan lebat, tapi gue tau disana ada Irwin. Sobat gue dari IPA 1, yang seharusnya udah nyampe di penginapan dari jam 5 sore, dibelakangnya ada aceng dan asep, ternyata mereka semua bantu menjemput orang2 di kloter terakhir seperti kelas IPA 3 dan 4. 

Lega banget gue ngeliat muka mereka, seneng mampus, berasa ketemu malaikat penolong jerawatan berjaket kuning, apalagi pas Irwin ngebantu ngeraih tangan gue dengan mesra buat nyebrang dan ngoper ke Aceng serta Asep. Beberapa meter dari sana, ada barikade cowok2 berotot IPA 1 lainnya yang udah berjaga sepanjang jalan dengan senter ditangan, bantu kami menyusuri jalan setapak terakhir buat nyampe ke desa, Bu Nyoman, guru biologi gue tersayang yang nunggu dengan teh manis hangat sebakul2 buat kami semua, fadli, alfian, ipul, marlon, dan banyak lagi orang yang gue pikir lagi pada istirahat di penginapannya masing2. You guys dont know what we felt that time, lol, real thanks to all of you, its more than just a glass of warm tea or nice helping hand. 

still, malam itu dihabiskan dengan meranjang(jelek amat bahasanya) semalam suntuk, yeha, beberapa menit gue habiskan di tengah malam buat ngeliat tumpahan bintang yang gak pernah bisa gue liat di jakarta karena polusi cahaya. Sisanya gue molor kayak orang mati dengan baju dalam penuh lumpur. 

Besoknya? Balik ke jakarta dengan hasil sampai di Salemba pukul setengah 11 malam. 
Rasanya kayak sedetik yang lalu gue masih teriak2 di truk kek bocah idiom bersama anak2 Holland bakrie yang ga kalah imbisilnya, lari bentar dari hal2 yang disebut orang dewasa sebage "realita", dan sekarang gue disini lagi, ngarepin balik ke hari kamis tanggal 27 itu. 

Pesan moral : Jangan pernah taro kancut sembarangan pas nginep2. Jangan.

okeh, balik ke kasur!



4 comments :

irmacchi said...

Demi Tuhan gue ngakak baca postingan ini kit! Langsung kebaayang lagi pas kita disono. Tadinya mau nahan ketawa ampe kaya kucing kejepit,tp ujung2nya ditanya nyokap kenapa dan gue malah ngakak XD

Itulah saya said...

hehehe,
thanks ya ma, baru tau gue ente ada blog, tukeran link yok.

irmacchi said...

ayoooo :D

irmacchi said...
This comment has been removed by the author.
 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design