Huge Thanks to Apip, Ridho, Judi, Mail, Irwin dan Boyke, serta motor2nya.
we should do this again sometimes. hehehehe
we should do this again sometimes. hehehehe
187 adalah angka yang ditunjukan motor Ridho, jarak yang ditempuh mulai dari sekolah hingga akhir perjalanan kemarin. Dimana gue hampir bawa helmnya Ridho pulang.
Kemana tuh?
Jawabannya, Puncak
------------------------>
Dimulai dari percakapan ngalor ngidul bahwa mail dan gue hendak ke taman safari naek kereta. Kemudian muncul ajakan untuk ke bogor naik motor oleh Judi, yang emang kayaknya dilahirkan diatas motor dan netek dari tangki bensin.
Besoknya, 4 motor, 7 remaja labil, cabut ke bogor, menuju puncak, berbekal mimpi dan hormon testosteron.
Setelah menjemput Apip yang rumahnya di Ciputat, kami beli jaket ujan Rp 8.500 di Indomaret dan kudapan2 yang dimakan dengan penuh kerakusan, belinya pas udah diluar Jakarta, sponsored by Boyke.
Tujuan : Mesjid Atta'awun
Mampir : Cimori, kios ubi cilembu.
Berikut susunan barisan motornya :
Paling depan ada Apip, guide yang nganter dari rumahnya menuju bogor dan berakhir di puncak.
Belakangnya ada Judi+Mail,
Belakangnya Irwin+Boyke
Belakangnya Ridho+gue.
Waktu gue pikir jas-ujan-hampir-ceban ga bakalan kepake, hujan turun. Good call. Maka kita menepi dan mulai mengenakan jas-ujan-hampir-ceban, jas dipake, celana digulung sampe dengkul, helm dipake, gue terlihat kayak ibu2 pamer betis. Irwin kek emak2 hamil di punggung, dan boyke adalah remaja dengan jas ujan bolong.
Keputusan mengenakan jas hujan sangatlah tepat karena ternyata tas gue KERING JAYA! Ternyata, cara mengenakan dengan baik, terlepas dari betapa konyolnya itu, memaksimalkan efisiensi jas ujan.
Sebelum sampai puncak, mampir dulu di cimori
Kenyataannya, tepat dibelakang orang2 ini adalah Bak Sampah
Hal oke hari ini terjadi beberapa saat ketika memasuki area puncak yang medannya tanjakan :
Setelah turun hujan, kabut muncul, sangat-banyak. Dan hujan masih tetep turun.
Dari bawah memang cuma keliatan sedikit, namun dari dekat, berasa lagi foging nyamuk DBD. Kabut bikin jarak pandang terbatas 5 meter kedepan, angin dan hujan bencong (Karena curah hujannya lembut, ga setajam di jakarta) menerpa. Biarpun bencong, namun tetep kami menggigil. Kalo tadinya di jalan kota gue yang paling belakang bisa ngeliat sampe orang terdepan yakni Apip, sekarang gue cuma bisa sampe ngeliat Irwin dan Boyke.
We were full of joy, excited, and cold.
Beberapa kilometer kemudian kami berenti sejenak di kios tepi jurang. Hal pertama yang diucapkan orang yang pertama turun adalah HAHAHAHA, dan semua ikutan ketawa seperti penjahat2 dalam serial pahlawan bertopeng. Labil. Kemudian ngetawain mobil yang memasuki kabut dan hilang begitu aja sangking tebalnya kabut, ngetawain motor Apip yang jadi anteng karena ada di habitatnya dan ngobrol2.
Dari kiri ke kanan, Motor Apip, Apip, boyke, mail, gue, judi
Dilanjutkan dengan dokumentasi dan tos2an, berdoa, lalu melanjutkan perjalanan sampe mesjid yang ternyata ga jauh dari situ, hanya gara2 ga keliatan akibat kabut.
Entah apa yang bikin tujuan kita sampe ke mesjid, dan uniknya setelah saling melihat, anggota touring cupu dadakan ini adalah anak rohis semua. Ajaib.
Jam 2 saat itu dan kita makan siang soto mie, dengan pemandangan kabut tebal dan udara dingin, soto panas seketika jadi ga panas. Cuma apip, yang lagi puasa dan harus menahan siksa dingin dan lapar disaat bersamaan, sementara temen2 grupnya makan dengan rakus.
Kembali, gue rekap percakapan yang bikin keselek,
TGAS : Tukang Gemblong Alim sekali
I : Irwin
TGAS : Ayo mas, boleh, gemblongnya..
I : (Lagi bersandar di tiang kios, dengan mantap, gagah dan hanya melirik, memberi isyarat tangan melambai) Enggak bang,
Semua : (berfikir, Okelah, kita ga bakal jajan gemblong)
TGAS : (membuka tudung gemblong) masih hangat mas,
I : .......... berapaan bang? (mupeng)
Semua : (ngakak sejadi2nya)
Terhitung limabelas Gemblong masuk ke mulut 6 orang hari itu, kecuali Apip. Gue ga membayangkan pahala Apip hari itu, termasuk dari perjuangannya berpuasa diantara kaum Sodom ini.
Irwin tengah menyantap Koko Crunch pribumi
Koko Crunch Pribumi dapat menyebabkan ekspresi menggelinjang, waspadai
Hal oke kedua adalah ketika turun dari Mesjid, sekitar pukul 4 sore, hujan dan kabut udah reda, jalanan terlihat jelas dan udara begitu sejuk, tidak terlalu dingin.
Tanpa digas, motor melaju hingga kecepatan 60km/h, bahkan 80 kalo ga di rem. Ini terjadi akibat dari pengaruh jalanan menurun. Sejauh 4 kilometer ++, Ridho dan gue serta 5 ekor anak sma jakarta lainnya berkendara dari mesjid sampe bawah tanpa menekan gas, jalanan bersih, hanya meluncur dan menikmati udara, untuk sementara melupakan bahwa sabtu ngambil rapot, melupakan hal2 berat yang sedang dan akan dihadapi beberapa bulan kedepan, melupakan pak win dan TO2nya, kabur dari kenyataan bahwa idup ga semulus motor di atas jalan ini. Bahagia kuadrat.
Sebelum ke kemayoran, gue dan Ridho mampir dulu ke seven eleven, beli big gulp, dan punya Ridho sendiri dikasihin sama anak kecil yang lagi ngamen di jalan karena anak itu ternyata ga minta duit sama Ridho, tapi big gulpnya.
Beruntunglah gue, nyokap yang ga tau bahwa gue abis dari bogor ga jadi ngamuk setelah gue jelaskan bahwa semua anggota konvoi ini adalah anak rohis yang pengen maen ke mesjid di puncak, ditambah gue pulang bawa ubi madu dan susu cimori. Huahuahahahah,
Oke, Untuk semua yang punya rencana liburan, semoga lancar!
Have a nice day!







4 komentar:
ini goblok coy, ini goblok wkwkwkwkwkwk
hahahaha,
ayo jalan2 lagi kapan-kapan,
Hey, I am checking this blog using the phone and this appears to be kind of odd. Thought you'd wish to know. This is a great write-up nevertheless, did not mess that up.
- David
@Anonim
why, thanks!
tried my best to write, really appreciate your comment, if you see something wrong please let me know,
Poskan Komentar