Friday, December 10, 2010

Bicara tapi jangan muncrat

Sore ini, gue kembali bermotor bersama Ridho menuju rumah(kian hari kami makin dekat *dilempar onderdil motor*). Di tengah perjalanan (salemba-senen), Ridho tiba2 tercekat karena sebuah keramaian. Dari jauh gue melihat bus2 yang ditumpangi orang di atapnya, duduk berdempetan sambil mengibarkan bendera dengan lambang yang gue gak kenal, bersorak-sorak dengan toa, mencoba menarik perhatian orang di sekeliling. Gue dan Ridho mencoba ngeliat apa yang ada di depan, orasi kah? FBR kah? Ondel-ondel kah(siap2 turun buat ikutan)?

Oh, bukan, ternyata sekelompok mahasiswa (?) yang lagi berpawai ria di tengah jalan. Belakangan gue ketahui namanya adalah SKAB ; Suara Kreasi Anak Bangsa. Ya, keren, gerakan 1000 pemuda berbasis pancasila yang menolak ketidakadilan di masyarakat, wih, mantap.

Namun, kesan itu hilang sesaat kemudian,  

Di internet gue nemu SKAB adalah kelompok keren pemuda yang berusaha meluruskan negara,
Di lapangan yang gue temui adalah kelompok rusuh yang melampiaskan amarahnya.
Mungkin ga biasanya mereka gitu, tapi itulah yang gue liat, dan inilah kesan pertama gue,


Dibanding menarik perhatian publik, gue malah merasa terganggu, sangat, dengan yel-yel kakak-kakak ini.
Dan gue yakin smua pengguna jalan berfikir sama, lihat saja ekspresi mereka.


Gue ga bilang bahwa pawai semacam itu adalah perbuatan terkutuk dan berdosa, hanya saja, gue merasa hal itu tidak tepat. Bayangkan, siang bolong, panas, macet, masih dengan pikiran gimana besok, kapan sampe rumah dan kenapa lampunya ga ijo-ijo, lo harus menelan mentah2 syair yang kurang bersahabat ini :

Aparat keparat
Polisi gadungan
koruptor bajingan tai kucing (Irama riang gembira)

Gue dan Ridho ketawa, lusuh abis. Gak heran polisi juga ga turun tangan, pawai semacam ini rasanya hanya bakal tambah nurunin martabat kepolisian kalo diusut-usut. Kalian tahu, biarkan anak kecil nangis sepuasnya, kalo disuruh diem, bakal makin rewel.

Apa tujuan dari Demonstrasi (gue juga bingung nyebut kegiatan ini apa) ini?
Menyuarakan aspirasi pemuda? Mungkin.
Ato marah-marah?

"ayo mahasiswi-mahasiswi, ajak pacar-pacar kalian untuk bergabung dengan kami, SKAB, bersama kita membangun INDONESIA!!" Ucapnya dengan lantang diatas bus dengan toa. asek.

Sesaat kemudian, si pria toa ini berteriak.
"WOI SWEEPER, BUKA JALAN DONG!" teriaknya karena bus mereka stuck di lampu merah. (tidak) asek.

Ini jelas, menimbulkan kesan buruk diantara para pengguna jalan. Dibalik rasa kesal, khawatir, dan takut yang nggak terucap.

Gue pemuda, dan gue lebih muda dari mereka, tapi gue bisa melihat bahwa ajang arak-arakan di jalan ini tidak menarik minat siapapun untuk bergabung memberantas "koruptor bajingan tai kucing" itu, kecuali pemuda/i yang juga lebih suka bakbukbakbuk ketimbang menyelesaikan masalah dengan tenang.

Pastinya, ada cara lain untuk bersuara, tanpa harus membuat pengguna jalan menutup kuping anaknya. Ada cara, dimana kita bisa dipandang, dimana kita bisa seutuhnya didengarkan, tanpa harus menggeber motor sekenceng mungkin, mengibarkan bendera di atas bus kota, atau menyanyikan yel-yel aneh agar pengguna jalan menengok pada kita. Ada, ini Indonesia, bukan negara komunis.

Kita punya hak bicara, memang, tapi bukan mencekoki orang dengan kebencian2 terhadap aparatur negara kayak gitu, Siapa sih yang mau mendengarkan yel-yel itu, mereka yang merasa dirinya paling benar, iya. Itu menyebalkan. Mending dengerin Fransoa kemana-mana (brb ngakak).

100% Indonesia, proyek pemerintah yang lagi kenceng-kencengnya hadir di tengah kita, adalah contoh keren gimana membangun ketertarikan pemuda untuk lebih memerhatikan hal-hal dalam negeri. Dan itu ga dilakukan dengan berarak-arakan keliling kota dengan toa sambil teriak "100% INDONESIA! 100% INDONESIA! 100% INDONESIA SODARA-SODARAA!!!!!", tapi dengan jalan nyaman melalui media Internet yang sehat berupa forum, blog, iklan di televisi, majalah, produk jual, dsb.

Iye, gue tau ada hal-hal bobrok di negara kita, mungkin pengangguran, mungkin mafia kasus, mungkin koruptor, mungkin DPR yang kelihatannya ngga mau mendengar jerit2 rakyatnya, dan banyak lagi. Dan kita ngga mau menambah daftar hal bobrok baru berjudul 'pemuda yang doyan demonstrasi', bukan?

Kita cinta negara kita, ya kan?
nah, Jangan sampe tetangga ngetawain kita cuma karena kita musti bikin rusuh dulu untuk didengar sama bapak negara sendiri.

Kakak-kakakku,
ayo berbicara, mari bersuara, tapi jangan sampe muncrat, karena yang mendengarkan juga bisa bete.

No comments :

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design