Saturday, February 12, 2011

Off to depok, and passed out


Sabtu, 12 Februari 2011, cuaca cerah.
Setelah memutuskan untuk tidak membusuk di rumah hari ini, gue menjalankan rencana untuk pergi ke depok, ngecek lokasi (enggak jelas) yang bakal dipake buat foto buku tahunan. Rencana awalnya adalah pergi dengan teman-teman, berhubung tadinya pada mau minggu ato selasa, dan ternyata minggu gue engga bisa, jadi kaburnya hari ini.

Faktor lain yang menjerumuskan gue untuk pergi pada hari ini adalah gue pengen sepedahan di depok dan belajar tata cara masukin sepeda ke kereta. Dengan tas keramat, mp3 player dan celana merah pendek yang asoy gue pun berangkat.

Begitu sampai di stasiun kota, setelah gue nanya petugas yang menyarankan gue untuk membeli 2 tiket, 1 untuk gue dan satu lagi untuk sepedanya (tar gue pakein baju sekalian deh) gue menenteng sepeda ke arah jalur 12. Sampe di ujung gerbong (yang gue tahu, pesepeda biasanya meletakannya disana, agar ga trlalu ganggu penumpang lainnya) gue bertanya pada petugas lainnya
"Pak, depok kan?"
petugas melengos bentar dan bilang "engga" (gue pikir dia ga denger)
gue memandang karcis 'Ekonomi AC, sudirman-bogor, Rp5500'
"Bogor?" tanya gue lagi
"iya bener,"

Maka naiklah gue ke gerbong sebelum terakhir, karena gerbong trakhir khusus buat wanita. Cuek waktu diliatin bawa sepeda gunung masuk2 kereta, gue duduk dengan manis (dan bau keringat) AC kereta yang berhembus bikin ngantuk, hampir gue tidur sebelum gue sadar bahwa gue lagi dalam marabahaya.

Kemanisan itu sirna dalam sesaat.


Interkom kereta memberitahukan bahwa kereta yang lagi gue naiki adalah PAKUAN EKSPRESS dan hanya berhenti di beberapa stasiun sebelum mendamparkan gue di BOGOR. Dengan kata lain, dia TIDAK berhenti di depok baru. Mamam.

Gue terdiam setengah tidak percaya, kembali memandang tiket yang gue pegang. Yak, mampus, gue salah naik kereta.

Dengan sok coolnya, dan antisipasi matang kalau2 bakal dilempar tiba2, gue ngasitau kondekturnya bahwa gue salah naik kereta, penumpang yang lain, sebagaimana umumnya orang, melihat gue dengan tatapan heran, dan ibu2 di gerbong wanita, sebagaimana tipikal Ibu-ibu Indonesia, dengan alis diangkat dan wajah tak santai ala pemeran opera sabun Ind*siar, berbisik2 dengan sesamanya seakan tengah mengadili gue dengan sangsi dikucilkan masyarakat karena gue abis malingin kolor orang.

Untung gue ngadu di saat yang tepat, karena gue bisa turun di halte berikutnya (Gondangdia) sebelum gue benar2 terdampar di Bogor. Gue udah membayangkan apa yang akan gue katakan pada teman2 gue di kelas kalo akhirnya gue ga nyampe depok,

"Yak teman2, dengan sangat menyesal, karena kemarin saya akhirnya malah cengok di Bogor dan makan mie kocok, saya harap teman2 memaklumi. Saran saya kita ganti saja tema BT kita menjadi 'tersesat', agar jerih payah saya tidak sia-sia, terima kasih" ucap gue dengan muka serius.

Kemudian gue dijejelin mie kocok sampe pingsan.

Untunglah hal tersebut tidak terjadi, kembali pada realita, gue duduk di stasiun Gondangdia dengan seorang bapak yang nyaranin gue untuk naik kereta ekonomi biasa karena keretanya AC baru datang pukul 14.30, gue menyanggupinya dan 10 menit kemudian gue lagi berada di tengah2 hamparan manusia yang menghimpit, mengobrol, pura2 kehimpit dan kemudian mencopet (tadi betulan ada orang kemalingan hape).

Dari harusnya tidur dibawah AC, gue kehimpit antara karung berisi dagangan plastik, kursi penumpang, penumpang lainnya, dan tengah menghadap pintu kereta yang tetap terbuka walaupun kereta tengah berlari. dengan kata lain, gue kehilangan 8000 perak karena ketidaktelitian gue. Terbayar dengan pengalaman ini.

Untunglah gue sampai di halte depok baru walaupun dengan TIDAK selamat, karena ketika seharusnya gue keluar dari pintu yang benar, pintu tersebut lagi dipenuhi gumpalan manusia yang bahkan tidak membiarkan secercah cahaya pun masuk, mereka seperti zombie dengan tangan diatas2 gitu dan bergeming kesana kemari, hendak menarik siapapun yang mendekati pintu kereta dan memakan ususnya, gue menghentikankan igauan gue dan terpaksa keluar dari pintu lainnya (tanpa pijakan, dan langsung ke kerikil2 samping rel) gue melompat dan jatuh, tidak keren, untung ditolongin anak muda yang bantu nurunin sepeda.

Selain dari cuaca yang panas melebihi teh panas kantin sebelah, hal yang paling bikin gue gondok adalah lokasi yang disebut-sebut padang ilalang sebelah mal Depok adalah FIKTIP alias nggak ada, kalaupun ada pasti tempat itu upil di dalam peta karena gak ada orang yang bilang daerah sekitar situ ada lapangan/padang ilalang. Hasil terakhir dari pencarian gue adalah :
1. Kebun pisang dengan ilalang yang mungkin isinya ular, tikus dan kotoran orang.
2. Lapangan sepak bola becek
3. Lapangan futsal
4. Kebon
dan makin banyak kebon

Sepanjang gue menggowes sepeda keluar masuk kampung dan gang gue nemuin beragam hal absurd. Misalnya aja lagi gue berhenti sebentar dan minum, gue menengok kiri dan nemuin pedagang cendol dgn judul gerobak seperti ini :

C E N D O L
BANDUNG

"AKU-INI-DIMANA ???" tanya gue sambil memegangi kepala dan ingus naik turun.

Ato ketika gue lagi menjelajah gang kecil yang turun dan agak nyeremin (berasa downhill), gue denger dari suatu sudut serangakai kalimat yang ga asing,

"you know meee so weeeeellll......"

pas gue balik muka disana ada anak2 cewek SD lagi pada dengerin lagunya SM*pip*SH, sambil joget, ada yang pake headset, loudspeaker.
Sambil meneteskan air mata, ingin rasanya gue berdoa "Tuhan, ambil nyawaku tapi selamatkan mereka", menimbang mati tersungkur dan hanyut di kali kampung2 depok itu tidak keren, gue membiarkan jiwa2 mereka dikuasai SM*pip*SH, maafkan aku gadis2 belia.

Setelah sekian kebon terlampaui, gue capek sendiri.
Kebawa gondok karena muter2 1 jem kayak orang bego, gue menciptakan tujuan lain untuk menutupi kegagalan ini, yakni makan es pocong. Ya, maafkan kenorak-an saya yang belum pernah makan es pocong.

Dari niatan naek sepeda sampe Stasiun Pondok Cina doang, gue kaget karena tau2 gue udah nyampe stasiun UI Depok, tepat di samping kiri jalan gerai Es Pocong hadir seperti panggilan2 surgawi.

Es Pocong ini tidak seperti yang digembar-gemborkan di Televisi seperti "Maknyuss bener...!" dengan ekspresi lejat tak tertahankan dan sebagainya.
Memang, rasanya unik, campuran dari sirop, soda, bubur sumsum, dan buah entah apa. Tapi untuk menghilangkan haus, kurang ngena. Sedotan pertama gue hasilnya malah sedotan gue penuh bubur. Tapi kalo ditanya enak apa engga, enak, beneran deh.


15 menit disana dan 5000 lenyap barulah gue pulang ke Jakarta.

Gue kembali naik kereta ekonomi karena duit gue ga cukup buat 2 tiket kereta ekonomi AC dan gue ga mungkin ngantongin sepeda ini di plastik item kayak bawa tahu. Betapa beruntungnya, kereta tersebut kuosssssssong kalo dibandingin kereta sebelumnya, ga kegencet, aman sentosa, gue duduk bersila di lantai paling blakang sambil megangin sepeda dan dengerin mp3, dua anak kecil (7-8 tahun) tengah bercengkrama, wanna know what they chattering about?

A : Eh, B! Ntar pas dari Kota (stasiun) ke Depok lagi NAEK DI ATAP KERETA yuk! (dengan tatapan berbinar)
B : Ayo deh (cengangas cengenges)

Seorang ibu2 ngasitau bahwa hal itu berbahaya sambil melotot2, dan kalo ga salah anak itu jawab bahwa hal itu biasa dia lakukan. Antiklimaks.

Ga cuma gue penumpang yang cengo mendengarnya, kalo anda juga cengo, welcome to the club.

Dan, oh ya, sewaktu gue gowes sampe di stasiun Tebet, gue sempet nanya dulu sama tukang ojeg arah ke Salemba.
"Bang, ke salemba....?" belom selesai ngomong dipotong abangnya,
"Hah?!"
"Salemba!"
"Ayo deh, 8 ribu yah!" sambil nyalain motor.
Tanpa ngoceh apa2 dan dengan muka narik ingus sekuat tenaga gue menunjuk sepeda yang lagi gue naikin berulang kali.

'astofiruliloalajim' cuman itu yang terucap dari mulut si abang2,

After all, its been a good short trip. Truly.

And Passed Out? Itu lain cerita. Wkwkwkwkkwkw

Jadi, teman gue ini tengah ngobrol sama gue di FB, dan mengingatkan gue sama permainan di jaman SMP, namanya Pingsan Instan. Ketika kemarin gue maen ke rumah Andra sama oknum2 salah asuh yang antara lain Mail, Irwin, Ridho, Prabu, Wisnu, Asep, Rahadian, dan Andra sendiri, gue menggunakan kesempatan ini untuk mempraktekannya, karena gue sendiri belom pernah coba.

Aturan mainnya, ketika pernafasan diatur sedemikian rupa, korban menahan nafasnya sementara dada atas ditekan oleh temannya, dia akan kehilangan kesadaran dan pingsan, lalu beberapa detik kemudian siuman kembali. Efek keren yang ditimbulkan pada korban adalah sensasi setelah tidur beberapa jam (beneran!! Kayak abis tidur lama) gue sendiri heran mampus kenapa gue segar bugar abis pingsan 4detikan.

Disitu dijelaskan dengan seksama langkah2nya.

Dan ampun, gue ga bisa berenti ketawa waktu liat efek yang berbeda2 sama temen gue ketika hendak kehilangan kesadaran, ada yang kayak sapi dipotong, Irwin dengan muka bahagia, Ridho yang mangap2, dan sebagainya.
Saran gue, permainan tidak sehat ini jangan dilakukan berulang, walaupun adiktif.

Kesimpulan yang bisa gue tarik :
1. Ambil tempat di gerbong terakhir untuk naro sepeda, dan kunci.
2. Usahakan untuk ga di jam sibuk, atau naik kereta yang frekuensi penumpangnya lebih kecil.
3. Kalau bisa milih, lebih baik bawa sepeda lipat ke dalam kereta untuk ruang ga terlalu banyak.

Have a Great Weekend!!!


1 comment :

Anonymous said...

nice share
gaya bahasanya itu loh :)
bikin mata lekat sampai tandas

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design