Tuesday, January 24, 2012

Empat Lawan Sembilan


Gue bukan saksi di tempat kejadian, gue gak kenal si tersangka dan korban2nya. Bisa dibilang gue adalah salah satu pemrihatin yang bersikap berlebihan.

Nah, pas tau korbannya itu ada balita dan pemuda 17 tahunan, gue baru shyok. Pasalnya, hidup mereka harusnya masih panjaaaaaang banget, dan tiba2 mereka harus berhenti bernafas karena manusia egois yang bawa mobil pas ngantuk, mabok, dan drugged.

Iya, iya, banyak orang diluar sana mati, ini hanya satu dari jutaan kasus tabrakan, dan dunia terus berputar.
Tapi ini terjadi di jakarta, di tempat yang peluangnya lebih besar bahwa itu ANDA, ini terjadi karena kecelakaan tolol, sebuah kematian yang..... harusnya tuh gak perlu terjadi, paling tidak, tidak mati disebabkan oleh orang seperti itu.

Imagine this. You are on the way home, exhausted after 60 minutes of running and dribbling ball with your mate. All you thinking about is home, maybe mom will cook your favourite food, no? Of course not, its end of the month! you thought. then you walk with slight smile on your face, still chatting with your friend while wipe sweats that still coming, you dont know either it comes from the heat or your exhaustion, but you seems not to care, its a good day after all, and by 5 or 6 more months you'll graduated from high school and starting a new life.

Lalu, roda 4 menyapu semua pikiran tersebut, hitam dan merah.


Benjamin Burton dalam film the curious case of  benjamin burton memaparkan analogi kecelakaan kekasihnya dengan memberi permisalan kecil yang bisa mencegah hal tersebut terjadi, tapi dibolak-balikpun, hal itu tetep hanya sebuah permisalan. Dan kekasihnya tetep tergeletak di rumah sakit.

Orang yang jadi korban bisa aja terlambat bangun, lalu memutuskan untuk membesokkan saja kunjungan ke monas.
kalo saja harga makanan di monas nggak terlalu mahal, mungkin ibu yang berasal dari tegal akan menyempatkan waktu sejenak untuk makan siang di monas.
Kalo saja salah satu korban menuruti permintaan neneknya untuk gak main futsal, mungkin dia akan menghabiskan waktu untuk nonton tv di rumah.
Kalau saja, si sopir mati malam itu juga karena overdosis opium (my fav thought), atau kalo polisi bisa menangkap basah dia and the gank, there will be no acident, dan gue gak perlu menulis postingan subjektif ini.

Tapi kita hanya bisa prihatin, dan prihatinlah yang bisa kita lakukan. Sejauh yang bisa dicanangkan batin, kita bisa merasa berempati, mencoba menempatkan diri kita pada posisi mereka, ketika semua habis, nggak ada masa depan, hanya hitam dan merah. Lalu kita bisa bersyukur atas kehidupan kita sekarang.

kita jadi (kembali) mikir, bahwa kita bisa dicabut kapan aja dengan alasan apa saja. Kita bisa saja mati konyol keselek cendol, ketimpuk bata, atau kepeleset sabun di kamar mandi. Namun, yang gue maksudkan bukan supaya kita menjadi religius dadakan yang paranoid mati, tapi untuk hidup maksimal dan berguna hari ini dan seterusnya, sounds cliche, eh? Not at all, 9 nyawa melayang akibat alasan 'konyol' tersebut udah lebih dari cukup untuk menjadi wake up call. Sangat lebih dari cukup.

Kalo lo merasa itu terlalu patriotis dan gak perlu, tanya sama diri lo sendiri,
Lo punya hari yang buruk? Coba tebak, lo gak mati ditabrak orang mabok siang ini.
Dan hidup akan terlihat lebih baik.
Yang jelas, jangan biarkan 9 nyawa itu sia-sia.


No comments :

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design