Wednesday, July 17, 2013

3676 mdpl, nyaris (1)

Entah darimana datangnya ide untuk menjajaki puncak tertinggi di pulau jawa, puncak Mahameru, yang ditawarkan kepada sekelompok pemuda yang alot olahraga dan kesehariaannya bergulat dengan pensil dan bersetubuh dengan buku gambar A3, anak ars, muncul begitu saja. Bentuknya postingan di FB. Raihan, berhasil mengumpulkan 12 peserta. Semuanya batangan, alias laki-laki. Jadilah acara pendakian itu lebih seperti pesta pelepasan bujang, minus stripper dan segala bentuk alkohol. Hanya ada kami,  sejumlah peralatan dan logistik yang disebar kurang merata di masing2 tas, dan mimpi bahwa porter kami nanti Tyas Mirasih –copyright Kevin.

Mengenang hari itu, 10 juni adalah hari keberangkatan yang bersinggungan dengan waktu sholat jumat. Kami paham keputusan itu agak terbirit2 karena kami akhirnya melakukan sholat dengan kondisi kurang nyaman, terhimpit dan terburu2. Pendek cerita, kami berhasil duduk di kursi kereta menuju malang hari itu, tegang menghilang setelah Hakim, yang kehilangan KTP entah kapan dan akhirnya ketahan penjaga tiket (mungkin disangka penduduk gelap. Mungkin) dan nyaris dipulangkan berhasil bergabung dengan kami. Konyol. Asli. Gimana bisa lolos? Kami cuma berasumsi bahwa si penjaga tiket tiba2 dapet bisikan2 surga untuk melepas hakim, melihat dari raut wajahnya yang memilukan.

Ehem. Kami tiba di malang, jam 9 pagi. Lelah masih menjejak ketika kami tengah beradaptasi dengan tempat yang asing. Kami lalu menumpang mikrolet menuju pasar Tumpang dimana kami harus menunggu sekian jam untuk menyambung truk menuju kaki gunung semeru. Belakangan kami tahu sedang ada perbaikan jalan yang membuat kami harus menunggu di Tumpang. Imbas dari penungguan ini adalah kami memulai pendakian pada jam 4 sore, ujung waktu mendekati malam.

 Benar saja, malam menyapa ketika kami belum setengah perjalanan. Dinginnya hujan membuat kami rindu peluk mesra kasur dan selimut. Dinginnya bagai hati sang mantan. Akhirnya setelah sedikit musyawarah, kami mendirikan tenda di pos 3. Tempat yang sebenarnya kurang mumpuni untuk itu. Pos 3 berupa pos yang tiang2nya telah hancur, sehingga gentingnya saja yang tersisa tengah melindungi tanah. Masih tersisa ruang kosong didalamnya. Sialnya, tempat itu sudah terisi sampah dan sepasang kekasih yang tengah menghangatkan diri dalam acara saling-peluk dibalut sebuah kantong tidur. Gelisah, iri dan dengki menyayat jiwa saat gue nyalain lilin persis di sebelah mereka. Sambil gemeteran.

Sejenak kepikiran. Bakar aja apa posnya?

Api parafin menyala ringan, panasnya tidak seberapa, tetapi cukup untuk menghilangkan getar telapak. 

2 tenda didirikan karena tanah miring disebelah pos cinta itu hanya cukup menampung 2. Satu tenda berisi 4 orang, tenda lainnya dijejali 8 orang. Diluar dari kebiasaan. Setelah merebus sejumlah mie, yang mana Saleh lupa naro bumbu didalamnya dan keburu dimakan sehingga menimbulkan rasa hambar menjalar di lidah, yang kemudian si bumbu yang dirindu diketemukan di tanah belum dibuka, yang terus dicampur kedalam mie yang tersisa, menimbulkan rasa asin seasin-asinnya orang kebelet kawin, kami pun mengalahkan dingin dengan tawa, lalu tidur dengan saling berhimpitan, bahkan bertumpukkan. Etika sudah hilang ketika kebutuhan survival menjadi tuntutan, saat pantat harus bertemu kepala, kaki bertemu telinga, perut ketemu hidung dan selangkangan bertemu... oke stop, kita lanjutkan ke hari esok.

Keesokan harinya dimulai dengan tawa, dengar punya dengar, tengah malam luhur minta tisu basah ke aday untuk memenuhi panggilan alam. Hal ini lucu, karena buang hajat di alam masih asing bagi kami. Namun, hal yang memecahkan pagi adalah fakta bahwa, ketika tengah melakukan hajat dengan penuh khidmat di ronde kedua (entah apa makanannya, Luhur boker dua kali dalam semalam), Luhur disorot lampu senter oleh pendaki lain yang tengah turun gunung bagai maling dengan celana turun, harfiah. Kronologisnya, luhur sedang mengejan, menimbulkan raut muka semenjijikannya manusia, saat pendaki malang itu menyorot ke arahnya. Arah yang salah. Keduanya terdiam selama beberapa detik, yang hendak keluar masuk kembali. Pendaki malang itu hening, mungkin mencerna, mungkin menghayati. Lalu selang beberapa detik si pendaki melengos begitu saja dan memalingkan senternya, seakan menolak kenyataan bahwa doi baru aja menyaksikan detik2 paling membahana dalam hidupnya: memergoki orang tengah membuat jejak di gunung.

Luhur terdiam. Lalu melanjutkan urusannya kemudian tidur. Tidak diceritakan apakah ia mencuci tangannya setelah membuat jejak.

Cerita lain berasal dari kevin. Malam sebelumnya saat hujan mereda dan mie instan mulai dimasak, datanglah dua pendaki yang mendirikan bivak di sebelah tenda kedua, dekat semak2. Bivak adalah tenda darurat yang terbuat dari ponco dan tali. Mengalami rasa dingin yang sama, timbul iba dan rasa berbelas kasih dari kami. Maka kami, kevin dkk, membuatkan 2 porsi mie goreng untuk mereka yang diterima dengan suka cita berlebih. Paginya, saat kevin hendak buang air kecil di semak2 sebelah bekas bivak mereka, merekah segumpal sosok yang tidak asing, sisa2 dari pencernaan manusia yang dicampur sedikit air dari usus untuk menciptakan bentukan yang aduhai dan dikenali dimanapun di seluruh dunia. Segumpal Tai. Menurut kesaksian kevin, benda terlarang tersebut masih segar ketika diketemukan, bahkan mengeluarkan uap, fresh from the oven. Gede lagi. Saat kami berpaling ke semak2 dari jarak beberapa meter untuk membuktikan kebesarannya, tokai itu mengintip malu2 dari balik semak.

Sori bentar, otw ketawa.

Oke, kita cuma bisa berasumsi bahwa dua pendaki tersebut bermaksud memberi oleh2 yang tak terlupakan untuk kami. Dan mereka sukses dengan gemilang. Setelah puas bergunjing mengenai tai dan tokai, kami sarapan.

Kami memasak dibantu tokai (merk korek apinya).
Udah ah, nanti jadi garing, soalnya nanti ada lagi yang boker.

Pendakian berlanjut. Sebuah keputusan yang benar untuk mendirikan tenda selamam di pos 3. Trek sisa menuju Ranu Kulombo licin dan terjal serta tidak ada tanah lapang yang tersisa untuk bertenda. Perjalanan kami dihiasi kabut dan dingin yang menyegarkan. Betapa nikmat ketika gue membunyikan TTATW dengan keegoisan yang diwujudkan dalam bentuk earphone.

Di tengah perjalanan kami berhenti sejenak ketika sampai di lereng gunung, berpapasan dengan pemandangan lapang antara semeru dan bromo, entah apa namanya. Tanah hijau melengkung yang dibentuk oleh pertemuan lengan gunung,  membentuk sebuah celah/kerak yang mulus tertutup pepohonan kerdil (atau terlihat kerdil?). sungai(?) atau tanah menadi didalam bentangannya. Bentang luas yang melewati batas pandang peripheral manusia. Sebuah daerah konservasi wajib hijau yang gue sangsikan pernah dilintasi manusia lebih dari hitungan jari. sebuah pemandangan menakjubkan yang ga bisa gue gambarkan secara lebih baik karena -maafkan gue kawan, terbatasi lingkup vokabulari dan wawasan alam gue yang masih culun.

Beberapa jam kemudian –tidak selama yang dibayangkan, kami mencapai daerah Ranu Kumbolo. Dalam balutan kabut, si Ranu(danau) menyapa. Kebesarannya tidak berkurang didalam kabut. Gue yang tadinya menyesal melakukan riset dan melihat2 foto si manis Ranu Kumbolo karena merasa nggak akan terkejut lagi nantinya, menarik penyesalan itu. Rasa terpukau tidak berkurang ketika melihat kecantikan Ranu Kumbolo dari balik kabut yang mondar mandir. Biru, lapang, tenang, mengundang.

Rasa terpukau kami terkikis saat sampai di lapangan perkemahan. Sebenarnya tidak ada yang memantek tempat itu sebagai lapangan perkemahan, hanya karena tempat itu lapang, banyak tanah landainya dan berdekatan dengan gubuk peristirahatan bobrok sajalah ia menjadi lapangan kemah. Akibatnya, para penggiat alam (ingat, bukan pecinta alam) menyalahartikan kondisi tersebut sebagai daerah bebas menyampah (ingat, bukan bebas sampah).

Sampah2 plastik yang jelas2 tidak dapat mengurai sendiri tersebar dimana-mana. Pemahaman dimana-mana ini perlu diperjelas dalam arti bukan merata memenuhi lahan kemah, melainkan tersebar tidak merata tetapi ada dan nyata setiap kali mata berpaling. Mungkin, selama pemahaman ini belum berubah menjadi ”memenuhi lahan kemah sampai tidak ada tempat berpijak dari sampah”, para penggiat alam pura2 buta dan turis lokal yang ketahanan tubuhnya hanya sampai setengah puncak sementara bawaan mereka dibawa porter yang mereka sewa seharga 150k perhari akan terus menutup mata-telinga dan memberaki dan menyampahi lahan ini hingga pemahaman tersebut berubah(bahkan, memberaki lebih baik karena tai dapat mengurai secara mandiri dan menjadi gizi bagi rerumputan, tidak seperti plastik). Ini menyedihkan, orang2 yang mengaku mahasiswa dan pecinta alam yang kelihatannya terdidik tidak sadar seberapa bahayanya plastik bagi lingkungan. Mereka yang mengaku kuat nan perkasa yang telah menaklukkan puncak Mahameru, tidak becus memberdayakan keperkasaannya untuk sekedar memanggul sampah mereka kembali turun ke bawah. Mereka membawa pulang cerita sekaligus mencuri kebersihan dari semeru, kemudian menggembar gemborkan hal tersebut (ceritanya saja) kepada entah siapa yang sialnya jadi ingin ikut2an “nyoba manjat” sementara kebiasaan mereka untuk nyampah di kota masih ikut dibawa2 ke gunung.

Gue tahu bahwa teman2 gue bukan malaikat yang selalu menjaga kebersihan, tetapi kenyataan bahwa mereka membawa trash bag untuk sampah2 kami tanpa meninggalkan secuilpun sampah plastik yang tersisa dan menjinjingnya bersama sepanjang jalan pulang, serta pilihan membawa rokok kretek dengan alasan karena rokok filter lebih sulit untuk terurai terus terang membuat gue bangga.

Kami hanya 1 jam di Ranu Kumbolo. Ngopi sejenak, mencuci, mengisi air dan beristirahat. Lalu melanjutkan perjalanan dengan pikiran masing-masing.

Gue akan lanjutkan tulisan ini untuk memberi waktu pada teman2 yang membaca untuk sejenak ikut merenung, bukan berduka. Sebab, berduka adalah suatu tindakan berempati yang pasrah, ketika merenung dapat menghasilkan sebuah solusi dari penghayatan kalian. Semeru menunggu.



2 comments :

fadhline said...

Keren tulisannya, ditunggu kelanjutannya!

Bangquito said...

thankyoooooo :D :D :D

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design