Saturday, October 5, 2013

3676 mdpl, nyaris (2)


Setelah kongko sebentar di ranu kumbolo, kami segera menghadapi tanjakan cinta yang melegenda itu. Konon katanya bila kita melewati tanjakan ini tanpa menoleh ketika mendaki sambil mikirin doi, baik itu lawan ataupun sama jenis, maka cinta kita akan tersatukan dengannya. Dan seperti halnya kekonon-kononan lainnya, legenda ini merupakan omong kosong bagi gue. Kalo benar demikian, maka tanjakan cinta pasti lebih rame ketimbang orang tawaf setiap harinya. Biar begitu, pas nanjak gue berusaha keras mengingat wajah Tyas Mirasih tanpa menoleh dan berenti.

Habis melewati tanjakan cinta, kita dihadapkan pada padang savana yang terlah meng-ungu. Kalo kata aday padang lapang yang landai ini "Ars banget" karena dept Ars berwarna simbol ungu, hampir aja gue colok aday dengan pasak tenda karena mengingatkan gue pada kuliah. Aslinya di musim2 kering padang ini berwarna kuning dan keliatan lebih menghebohkan bagai tanah Afrika. Namun tanpa keliatan seperti itu savana ini juga sudah awesome enough untuk membungkam kami berduabelas.

Langit masih meneteskan gerimis dengan ragu-ragu.

5 menit pake ponco, 5 menit buka. ulangi. Siapa bilang kegalauan hanya milik peserta snmptn dan ababil bb, Langit juga bisa galau bung.

Kamipun sampai di cemoro kandang. Beristirahat sejenak sambil mengabadikan momen berdiri sebelah papan penunjuk area. Setelah itu ngga ada yang menduga bahwa medan yang dilewati lumayan menyebalkan. Menyebalkan karena hujan terus merintik, dan lelah terus menerpa. Lapar, gara2 nggak sarapan dengan baik ngebuat kami berenti di tengah jalan untuk masak ransum, dua kotak untuk berdua belas. Hangat dan renyah nasi (yang seharusnya enggak) mengisi tubuh dan memberi tenaga baru untuk pendakian, sementara.

Jam 3 sore, kami tepat tiba di kalimati. Tenda segera berdiri, api segera dinyalakan, perut-perut segera diisi. Nyawa kembali berkumpul. Nggak ada yang terlalu lucu selain ngeliatin figo boker diantara semak, atau si luhur yang make handuk adit buat cebok. Sore itu kelabu, dingin kurang bersahabat, tetapi mentari masih menembuskan sinarnya malu2. Its just pure fun.

Malam tiba, pukul 11 kami sudah bersiap melakukan pendakian akhir.
Gue dengan tololnya bermaksud menghangatkan sarung tangan yang lembab diatas api unggun berakhir membakar habis bagian kelingking sarung tangan tersebut. Dengan tangan seperempat bugil gue dan sebelas batangan lainnya berkeliling untuk doa sebelum pendakian. Dingin menyusup, kaki bergetar, lembar roti2 terakhir dikunyah, pendakian dimulai.

Pendakian akhir menuju Arcopodo memakan waktu 1 jam. Tidak sekampret pendakian sebelumnya memang, karena kami meninggalkan seluruh beban carrier dalam tenda di Kalimati. Namun perbekalan yang dibawa begitu tiris, sehingga kami agak was2 kalo nantinya harus ngisep batu kalo haus.

Arcopodo, sebuah tandamata untuk yang dikenang terhujam disana. Nama dan isi tidak perlu disebutkan, khidmat berdoa sepantasnya dirasakan bagi mereka yang hendak belajar pada alam, bukan yang duduk dan menanti. Kami berdoa untuknya, dan berharap langkah kami dijaga olehnya. Malam semakin pekat, dingin semakin nyata, hasrat ingin pipis begitu bergelora.

Tanjakan akhir, siluet maha agung dari mahameru terlihat dalam gelap, memperlihatkan kebesaran serta kegagahan. Puncak? Tidak tampak.

Kemiringan 45 derajat plus-plus ditambah tanah vulkanik yang dinamis membuat pendakian begitu melelahkan. Kekhawatiran akan bekal juga menjadi pikiran. Berkali kami berhenti untuk duduk sesaat, melepas penat yang instan sebelum menapak kembali satu dua langkah.

Oh ya, bintang jatuh. 3-10 kali terlihat malam itu. Langit amat cerah. Dosa rasanya kalau lupa untuk berbaring dan bersyukur telah dilahirkan. Awan dibawah kami, menyelimuti kota malang yang tiba2 menjadi kecil. Kami menjadi bagian dari kebesaran, disaat yang sama, masih tahluk pada dekap bunda mahameru yang keliatan tidak berujung. Air makin tiris, tidak ada batu yang bisa diisep disekitar.

4 jam berlalu dalam jarak yang tidak terlalu signifikan. Mahameru begitu keras. ujung malam semakin terlihat. Sirat mentari mulai menjaring di langit lapis kedua. sirat tersebut mengintip dari balik punggung gunung, oranye, kuning, emas. Sebuah tanda fajar baru dilahirkan.

Kami harus mengakui, kami takluk. Pendakian yang aman hanya sampai pukul 7 pagi. Saatnya kembali ke kaki untuk berkaca. Tepat mengambil keputusan, kabut menyelimuti gunung. Serangan dingin. Membutakan kami dalam jarak pandang dua puluh meter. Gue menggigil deras. Gue takut. Lebih ketika takut ketahuan nilai nol waktu sd sama bokap, lebih ketika takut gagal ujian SNMPTN 2012, gue, takut, mati.

Gue enggak tau film homo apa yang baru ditonton 2 teman gue, yang tiba2 memeluk untuk membagi hangat (atau menular dingin?) kepada gue yang berbalut sarung. Kampret, asli. Gue cuma bisa bergidik dalam glemetuk gigi yang gak berenti, diam2 bersyukur. Bertanya kapan kabut mereda.

Tuhan mendengar, Tuhan menjawab. Kabut menghilang, menghidangkan sarapan pagi berupa kemilau matahari dan deretan gunung berselimut awan putih berarak yang memanjakan mata, terbentang cakrawala yang (seharusnya) dapat membuat orang tobat dalam sesaat. Gak, belum mempan.

Kami turun, menuju kalimati untuk istirahat, makan sejenak dan kembali ke ranu kumbolo. Menghabiskan malam penuh bintang disana dalam teguk kopi dan mie instan yang hangat diatas matras setengah basah bersama sekelompok orang yang baru dicerahkan. Betapa melankolis kali ini gue menulis dan betapa persetannya gue dengan tanggapan mengenai ini sekarang.

Ranu Kumbolo, apa kabarmu? Sampai jumpa lain waktu.

No comments :

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design