Sunday, October 6, 2013

A note for brokenharted

Sahabat gue baru putus dengan cowoknya, she took it pretty good tho. *angkat topi*
Tapi memang, dalam minggu pertama dia ngalamin kehapitan yang cukup berat. Manusiawi.

Sampe pada titik dia bilang semua cowok brengsek. Generalisasi ini memang cukup sering dilontarkan oleh yang dikecewakan, atau diputusin. Generalisasi yang sama yang bikin gue mempertanyakan orientasi seksual gue pas doi bilang gitu.
'sis, aku ini cowok apa bukan? katakan, katakaaan!'

Why do we love?
Kita tau rokok itu berbahaya, yet umatnya tetep menghisap rokok terus menerus.
Same goes for love, kita tau main cinta itu beresiko. banget. Kalopun jadian, ujungnya putus. Kalopun terus sampai menikah, kita bakal dipisahkan oleh maut. In the end, kita bakal ngerasain sedih. Bahkan, sedihnya berbanding lurus dengan kebahagiaan yang dirasakan selama pdkt, jadian, menikah.
The greater the happiness, the greater the sadness when its end. Hukum ketiga Newton.

Gue pikir, kita main hati dengan resiko yang kita tau tersebut simply because the reason.
Kita pengen dianggap spesial oleh seseorang.
Kita pengen disentuh.
Kita pengen membuat cerita.
Kita pengen bahagia.
and all the reason that blinded up the risk.

Inti tulisan melankolis ini bukan ngebahas kenapa mencinta. Tapi kenapa mengulang. Gue becermin, dan melihat bahwa gue juga punya cerita2 berjudi hati yang kebanyakan berakhir dengan nestapa. Yet, gue masih siap untuk ngelempar hati gue ke meja judi. Kok goblok kit?


What doesn't kill you, makes you stronger. -Nietzsche
Lo nggak akan benar2 mati karena patah hati. Gue percaya, bukan cuma wolverine yang punya healing factor, masing2 dari kita punya. Ada orang yang benar2 pengen bunuh diri karena putus, 4 bulan kemudian punya pacar baru. Bukti empiris.

Kita mungkin sakit banget2, waktu ditempeleng kenyataan bahwa kita ga cukup ganteng/cantik dalam standar sinetron indosiar, berkarisma atau bermaterial untuk bersatu dengan orang yang hadir di mimpi kita, atau diselingkuhin, atau karena suatu alasan doi pergi. Atau kita nggak bisa menerima fakta bahwa ternyata dia lesbian/gay. At first, its motherfucking pain in the ass.

Emang sakit, mengingat pipi dibelai2 baru dua minggu yang lalu, sekarang banjir air mata. Baru seminggu bersandar ke pundak kasih, sekarang nyender ke kulkas. 5 hari yang lalu ada yang nyariin, hari ini nyari temen. 3 hari yang lalu dititipi salam selamat tidur, hari ini selamat tinggal. Oke cukup, gue nggak mau tiba2 ditusuk dari belakang besok.

Tapi, ketika kita mengalami itu untuk kedua, ketiga atau keseribu kalinya, kita bisa bilang
"yaelah, gue pernah lebih parah" atau, "ini mah udah pernah"
Bonusnya, ketika kita menemukan the chosen one, kita bisa bersyukur karena kepahitan yang kita rasakan dibelakang, ngebuat kekurangannya terasa manis.

Gue nggak bilang 'sabar ya'. Karena ucapan itu lebih basi dari bakwan ga laku. Kenapa kita nggak coba menikmati sedihnya daripada menahan2. kentut yang ditahan itu nggak sehat. Kalo emang sedih, sekalian lah, nyalain musik, ambil bantal. Buat cowok, ambil tisu dan ke kamar mandi. Pilihannya mudah, menjadi semakin sedih dari hari ke hari atau melepasnya pelan2. Gue pernah baca tentang orang yang mati karena nahan kencing, belum ada sih berita nahan sedih dan dendam bisa berujung maut. Intinya, menahan dan berpura2 tegar itu nggak bagus sama sekali.

Atau, dengan cara yang lebih mutakhir, mengubah sudut pandang dengan melihat masa2 bahagia sebagai bagian dari ingatan manis, bukan dikenang sambil gigit kursi. Ini dilakukan Chuky di kartun sore Rugrats waktu kelabangnya mati.

On the brighter side, setelah ngepak semua perasaan itu dalam satu folder, kita bisa berjudi lagi dengan persiapan yang lebih matang. Hati yang lebih besar dan kuat, harapan yang tidak terlampau besar, dan rasa syukur yang syahdu untuk kebahagiaan mendatang. Mengulang judi hati adalah satu cara memperkuat diri. Naif? bodo amat.

Kenapa gue nulis hal kayak gini? Lucu juga enggak.
Gue ngeliat temen gue yang sedih kayak gitu dan berharap pikiran yang bisa ngebantu temen gue bisa juga ngebantu orang lain yang ngebaca blog ini. Mohon ampun kalo akhirnya malah bikin lo pengen menyiksa gue dengan obeng. Yah, hal emosional semacam ini memang yang terakhir dalam daftar kepentingan umum kaum terpelajar, tetapi gue percaya, omongan soal hati adalah omongan paling humanis, omongan yang paling memanusiakan manusia dan membedakan kita dengan mahluk lainnya. Its cliche, but never simplified them.

Mari mencinta. *kecup basah*

2 comments :

Yolanda Dwi Oktaviyani said...

huooo wise version of bangkit

chaxsf said...

hey, saya suka tulisan ini.
couldn't agree more!
"bercinta" itu seni memanusiakan hati manusia.
tulisannya jelas nggak berbasa-basi, dan berteori.
so, enjoy berjudi dengan hati ya ;)

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design