Tuesday, December 24, 2013

Redefinisi kemalangan


"...Aku bersamamu, orang-orang malang" 
-Soe Hok Gie


Gue bertanya, apa yang dimaksud dengan malang? Orang malang itu kayak gimana? Temen gue en orang malang sih. asik orangnya. 

Lelah berkiblat dengan KBBI, gue nyoba untuk menelaah sendiri istilah malang. Berkutat sebentar dengan waktu, gue mengartikannya kurang lebih 

Malang : memiliki sifat celaka atau kurang beruntung. Berkaitan dengan nasib dan ketidakmampuan. 
                  Kondisi buruk yang tidak terelakan dan tidak dapat diubah

Premis 1 : Andi sedang berlari
Premis 2 : Andi terjatuh
Premis 3 : Andi kepalanya bocor
Premis 4 : Andi ditertawakan

Kesimpulan non matematis : Andi anak yang malang. 

Kemalangan terjadi ketika kita tidak mengharapkan, tidak mengetahui akan terjadi, dan tidak mampu mencegahnya. Orang-orang yang tidak dapat mengubah nasibnya karena faktor luaran (fisik turunan, kondisi ekstrim, kekuatan kosmik) adalah orang-orang yang malang. Maka, berbahagialah jomblo, karena jomblo masih dapat mengubah nasibnya. Percayalah. Calling gw aja kalo mau pensiun jomblo. Jenis kelamin nomer dua, yang penting kasih sayang.

setuju dong.

Mengusut perkataan Gie tersebut, orang-orang malang yang dimaksud saat itu merujuk pada masyarakat Indonesia umumnya dan orang sekitarnya khususnya. Melihat kebobrokan pemerintahan saat itu dan jenjang kemakmuran yang sangat tajam, Gie mendiktekan orang-orang tersebut sebagai orang malang.

Benarkah orang-orang tersebut malang?

Kalau kita setuju dengan pernyataan diatas, bahwa parameter kemalangan yang utama adalah ketidakmampuan untuk mengubah kondisi, maka orang-orang tersebut bukanlah orang malang.

Ketidakmampuan berbeda dengan ketidakmauan. 
kalo mau, belum tentu akan menjadi mampu
kalo tidak mau, pasti tidak akan menjadi mampu

Ketidakmauan muncul dari rasa keterjajahan. 

Saat dijajah, baik oleh kompeni, pemerintahan diktatorial, atau dalam taraf tempurung kepala, oleh ketidaktahuan, otomatis kita merasa tidak mampu. Ketidakmampuan yang dibuat-buat berubah menjadi kabut kemalangan.

Di kepalanya, 
Saya miskin. Saya tidak dapat sekolah. Saya tidak berpeluang sukses.

Di dasar kepalanya,
Saya miskin. Saya takut sekolah karena tidak tahu biaya yang nantinya akan membebani saya. Saya takut mencoba berbahagia.

Hal ini tidak dapat dipungkiri. 

Dan seenaknya saja kita mendikte mereka malang. Padahal mengakui bahwa mereka bersifat malang sama artinya dengan membunuh bibit kemauan dalam diri mereka. Membuat mereka percaya bahwa mereka tidak mampu total, bukan tidak mau.

Beberapa orang mengubah ketidaktahuan menjadi kemauan untuk tahu, bukan sebaliknya. Itu sebabnya masa penjajahan bisa berakhir, karena ada orang-orang yang mengubah pola pikirnya dari ketidakmauan (yang sejajar dengan keterjajahan), menjadi kemauan untuk maju. 

Kalo kata dosen gue, bahwa teori Karl Max bilang "clash antar kelas selalu terjadi dalam tatanan status sosial" gue menambahkan, bahwa clash selalu terjadi secara linear. 

Sistem --> Sistem dinilai salah --> Kubu oposisi--->Clash

Politik Apartheid --> kesadaran penyetaraan hak warna kulit berbasis kemanusiaan --> Anti-Apartheid-->Clash

Sama, bahwa kesadaran akan cacatnya penjajahan melahirkan kemauan untuk berubah. Dan sama, kondisinya dengan orang-orang malang milik Gie. Rakyat Indonesia, kemarin dan sekarang. saudara2 yang merasa tidak mampu untuk berubah karena kondisi sedemikian sulitnya untuk memahami potensi maju. Kewajiban untuk memakmurkan diri dianggap datang dari pemerintah, padahal kewajiban untuk "tahu" yang berasal dari diri sendiri terlalu skeptis untuk dijalankan.

Gue menyebut saudara-saudara ini, buta.
Orang-orang buta.

Orang-orang yang masih belum mampu mengubah ketidakmauannya menjadi kemauan untuk maju. Musabab babi diluar sana semakin gemuk dan menggilas semua orang berkemauan. kemauan menjadi mitos.

Tulisan ini memang terlihat angkuh. Begitu congkak mendikte masyarakat berketidakmauan. Seakan gue pernah berada di posisi mereka. Seakan gue sudah begitu melek. Sederhananya saja, gua nggak bisa merangkai kata dengan lebih sopan dan santun, dan kenyataannya, pemikiran ini harus turun, sebab, gue pernah buta, dan hal itu menyakitkan. Dengan atau tanpa kemewahan berkesantunan.

Bahkan, gue mungkin masih buta, dan mungkin, yang gue lihat sekarang hanyalah fraksi cahaya yang mengintip dari balik tebalnya katarak. Feel free to crack them up, folks.



No comments :

 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design