Monday, January 6, 2014

Terdampar di ujung tahun


Apa yang akan dilakukan 4 cowok kesepian di ujung tahun dengan duit terbatas?
Jawab : Mendamparkan diri ke pulau tak berpenghuni di pinggir kota.

Berhubung kami nggak punya pacar (kecuali Rido, yang tidak memberdayakan momen dengan pacarnya, ampun deh do), dan kami gak punya toleransi terhadap alkohol untuk mabok-mabokan biar gaul (minum kratindeng aja kejang-kejang), gue, Irwin, Amar dan Ridho sepakat untuk menghabiskan akhir pekan di ujung tahun untuk berlayar ke kepulauan Seribu, 2 hari satu malam.

Ide brilian ini datang dari gue.
Dan seperti sabda intuitif ridho yang sudah-sudah, hampir segala kegiatan yang gue EO kan berakhir dengan nestapa, itu benar adanya.

Rencana awal kami adalah berlayar ke pulau karang bongkok melalui pulau pramuka, dan ternyata sodara2 setanah air, tarif sewa kapalnya melebihi biaya kosan gue sebulan penuh. Udah hati gundah, gue tetep berusaha stay cool dan menerbitkan harapan palsu pada kawan2 gue, mencoba menumpang kapal dengan pengunjung lain yang hendak berlayar ketempat yang sama.

Tentu saja rencana PHP tersebut juga gagal. Dominan pengunjung yang mendatangi pulau seribu akhir taun adalah 1. pengunjung berduit 2.berencana 3.lebih baik sama kelompoknya sendiri. Kami berempat adalah orang2 yang tidak memenuhi ketiga standar tersebut. Pengunjung lain sibuk dengan agendanya sendiri. Terombang-ambinglah kami.

Saturday, January 4, 2014

Sebuah cerita di kios tua

Gue hendak menulis refleksi diri dan banyolan petualangan terbaru gue ketika ingatan kemarin senja menghantam gue. Boleh ya sekali-kali bagi kisah rada sendu.

2013 merupakan tahun luar biasa yang membawa gue pada banyak kesadaran. Tahun ini juga ditutup dengan peristiwa yang menyedihkan bagi beberapa orang, wafatnya nenek gue, om gue, ayah dari sahabat gue (yang dengan sukses membesarkan seorang pecinta damai, loyal, toleran, campur tukang ngobok comberan).

Namun yang paling membekas (dalam arti membuat gue berfikir dalam) adalah saat kemarin gue tahu bahwa seorang pedagang buku bekas langganan gue jaman kecil meninggal dunia entah sejak kapan.

Gue jadi berfikir betapa lemahnya kepekaan gue terhadap berita kehilangan. Gue jarang menangis untuk kasus ini. Menangis pun karena empati, bukan rasa kehilangan. Rasa kehilangan selalu diiringi dengan kelegaan, mengingat yang pergi kini berdamai dengan penciptanya.

Kembali pada kisah kios tua.
Ada sebuah kios kecil berisi buku tua di jalan bendungan jago, 200 meter dari rumah pertama gue. begitu kecilnya hingga buku-buku yang dijejalkan didalamnya membuat suasana kios seperti gudang. Waktu kecil gue suka banget mampir ke toko buku bekas itu untuk beli majalah donal bebek dan bobo. Harganya masih seribu perak. Kadang gue beli komik dragon ball, kenji dan captain tsubasa seharga 3000 perak serta sejumlah komik semi hentai dengan harga yang sama. Seperti halnya kebanyakan pedagang, sang bapak bersikap netral terhadap semua bacaan yang gue beli.