Friday, January 8, 2021

Kalau-kalau

Diantara banyak kalau, saya kadang melamun tentang skenario kelahiran. Pertanyaan semacam itu memang melorong jauh dari hal-hal yang perlu dipikirkan. Misalnya, saya dilahirkan sebagai anak juragan ayam goreng, mungkin hidup akan lain. Dulu saya sempat berharap begitu. Namun hidup yang liyan belum tentu semenarik ini. 

Beberapa waktu lalu sepupu dekat saya melahirkan, dan kejannya membuahkan hasil yang ganteng. Dari hidung sampai dagu si anak menyalin ibunya. Bapaknya kebagian bagian bawahnya. Keduanya sangat bahagia, dan kebahagiaan yang tidak dibuat-buat selalu menular. Sayang sekali saya belum kebagian bertemu si anak, yang kelak saya ajari untuk memanggil saya Paman. Bukan om, bukan pakde. 

Kalau-kalau si anak lahir sehari kemudian, ia akan berulangtahun sama dengan kakeknya. Om paling gaul dengan nama tokoh wayang yang saya kagumi. Sayang sekali, beliau sudah berpulang awal tahun kemarin. Banyak harapan yang ditanam pada si anak, tentu saja, tetapi lebih banyak kelegaan dan kegembiraan di tengah situasi semacam ini.  

Selain yang telah disebutkan, beberapa teman dekat turut membawa momongan. Berita kelahiran selalu membikin saya gembira. Tidak seperti berita pernikahan, kabar kelahiran tidak membuat saya jengah. Anak adalah bentuk paling nyata dari urusan cinta. Baik dengan atau tanpa rencana, kelahiran lebih banyak ditunggu-tunggu. Di hari pertamanya lahir, seorang anak telah didoakan dengan sedemikian rupa. 

Persis tanggal 1 kemarin misalnya, seorang teman yang belum kepala tiga dikaruinai anak nomor dua. Saya kedapatan membantu menggali lubang ari-arinya jam 11 malam. Tidak terpikir saya akan memulai tahun baru seklenik itu. Namun yang menarik kemudian adalah obrolan dengan ibu teman saya, yang menjelaskan lagi ritual tersebut sebagai bentuk doa dan banyak kalau-kalau. 

Sebetulnya saya tidak asing dengan ritual penguburan ari-ari, yang diperlakukan sebagai perwakilan si anak. Dengan sendirinya, segala perlakuan terhadap ari-ari adalah bentuk doa. Ia dicuci bersih, kemudian dibumbui bermacam rempah agar watak anaknya menarik, kendilnya diberi kain dan perca agar si anak bisa berpenampilan, dikubur bersama jarum agar lakunya tajam, dan ditanami pipa agar ia pandai mendengar. Tak ketinggalan, ari-ari ditanam di depan rumah agar si anak dapat memimpin. 

Saya jadi melamun, apakah ari-ari saya dimakan kucing sebelum diurus seperti itu.  

Saat saya berkunjung ke rumah, kami membicarakan hal tersebut. Ibu mengguyon bahwa bapak mencuci ari-ari sambil berdangdut, lalu merembet ke hal-hal kecil lainnya yang baru bisa diingat belakangan. Tematik hari itu adalah anak, dan memaksa saya untuk kembali berlakon sebagai anak. 

Banyak harapan yang ditanam pada anak dan kandas, dalam soal saya, yang kandas jauh lebih banyak. Seakan sawah yang terlibas puso, kemudian banjir menahun. Namun saya tidak menemukan sedikitpun raut "kalau saja" di wajah orang tua. Saya cukup beruntung untuk diizinkan berjalan menjadi orang tanpa dituntut banyak syarat, dan saya bisa pulang sebagai anak kapanpun saya mau.  


Sunday, November 29, 2020

Mengkontemplasi Maut


Sedikitnya setiap satu jam, seseorang di Indonesia merenggut nyawanya sendiri. Artinya ada sekitar 8.765 (minimal) orang meninggal dunia akibat bunuh diri setiap tahunnya. Itu pun angka yang dilaporkan. Rapot merah ini adalah salah satu alasan mengapa perkara bunuh diri mesti dibicarakan, yang selama ini hanya meradang di balik obrolan yang berlindung pada keharusan-keharusan yang mengabaikan betapa menggodanya tawaran untuk tidur yang paripurna. 

Wednesday, October 14, 2020

Dilarang ngutang di warung sendiri

Beberapa bulan ini emosi saya naik-turun seperti jakun seorang penyanyi dangdut. Namun tidak semerdu melodi yang dihasilkan lagu dangdut, turbulensi yang sengit ini membuat kepala saya kacau. Misalnya, saya bisa bangun pagi dengan rasa sedih yang tiba-tiba, kemudian melenting gembira di malam hari, atau sebaliknya. Jika mengikutinya, saya akan larut dalam kedua ekstrim nada tersebut. Maka, sepanjang hari saya berupaya untuk meredam kedua emosi yang tajam ini sambil terus bergerak. Tentu ini memakan waktu dan stamina. Rasanya seperti berjalan di bawah hujan lebat atau kabut yang tebal. Adapun, beberapa bulan hingga sekarang pergulatan itu belum pungkas. 

Saturday, October 3, 2020

Kepala yang Ricuh


Beberapa tahun silam, seorang dosen pernah menyatakan topik penelitian yang menarik tentang Kartini. Beliau punya premis  bahwa Raden Ajeng Kartini yang kini merupakan arkitipe perempuan Indonesia, mampu membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya dan menginkubasi gerakan emansipasi wanita dengan surat legendarisnya, lantaran beliau dipingit di sebuah kamar oleh bapaknya. 

Friday, August 21, 2020

Apa yang dipikirkan seekor kucing?

 


Saya ingat dalam buku The Animal That Therefore I am, Jacques Derrida pernah bertelanjang bulat di depan seekor kucing sambil mempertanyakan hal itu. Keduanya saling menatap sejenak sebelum si teroris tekstuil itu mulai meracau tentang kapasitas intelektual seekor binatang, lantas mengantar argumen reflektif tentang kemanusiaan. Buku itu saya baca selintas, dan merupakan salah satu tulisan Derrida yang masih relatif enak dinalar.

Sialnya, sejak saat itu saya selalu terbayang Derrida bugil tiap ganti baju di depan kucing. 

Monday, August 3, 2020

Yang Dibungkus Belum Tentu Mati


Saya masih heran pada selera bestiality, tapi soal fetish bungkusan kain jarik tidak lagi mengejutkan. 

Tumbuh di lingkungan remaja yang membaca stensil sembunyi-sembunyi, sejak SMP saya sudah disuguhi konsepsi fetish. Saya masih ingat betul pertama kali mendengar ulasan teman tentang cerita dewasa a la tetangga yang ia baca di website bodong, respon lugu saya adalah: 

"Terus mereka ditangkap polisi nggak?"

Saya dulu anak baik-baik. 

Saturday, July 25, 2020

Bukan Tentang Psikopat



Salah satu film Martin McDonagh yang saya ingat dengan baik adalah Seven Psychopath (2012). Film-filmnya memang sarat tema kriminal, tetapi ia berhasil melampaui batas tema dengan cara yang menyenangkan untuk ditonton, yakni membedah isu moralitas pelaku dengan humor.

Moralitas yang saya maksud sebagai landasan sikap protagonis, cenderung dikerdilkan dalam penayangan film kriminal. Umumnya, motif pelaku kriminil berangkat dari alasan klise seperti balas dendam, mencari kekayaan, hingga yang mutakhir penebusan dosa, tetapi tidak sedikit pula judul yang mengisyaratkan sifat "sudah dari sananya". 

Pemilihan motif ini bukan masalah, tetapi jadi soal kalau hanya sekedar ornamen narasi, sehingga fokus film jatuh pada hura-hura berdarah. 

Friday, July 17, 2020

Omong-omong Menyusun Kata

Begini, saya punya dua mentor yang berpendapat tentang bagaimana dan apa yang baik dalam menulis. Salah satunya bicara bahwa “tulisan terbaik adalah yang ditulis pertama-tama dengan jujur” yang kedua berpendapat “Tulisan yang baik adalah yang dekat dengan keseharian”. Keduanya bicara hal yang sama yakni tentang mendekati hasil, tetapi bukan semata-mata tentang menulis dalam intisarinya.