Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Saturday, January 8, 2022

There is more to life than wanting


Setahun yang lalu, saya mengira akan terus hidup seperti layangan putus. Terlunta-lunta angin, tidak jelas akan berakhir dimana. Terus mimpi saya direbut pelakor (jika saya perempuan). Untungnya tidak, saya masih hidup dengan kualitas yang lebih baik.  

Ketika kecil, saya (dan mungkin sampeyan juga) dijejali cerita tokoh besar. Anak-anak 90-an mungkin akrab dengan buku seri tokoh dunia sebagai teman pengantar tidur. Saya ingat kado buku pertama dari kakek adalah komik Isaac Newton. Kakek memang selalu ingin cucunya menjadi ilmuwan atau sejenisnya. Judul-judul lainnya menyusul, salah satu tokoh favorit saya Edison, sebelum saya tahu bahwa dia brengsek. Lantas, karena kado-kado ini saya tumbuh sebagai anak yang suka membaca, bahkan punya kegenitan pada astronomi. Misalnya, hingga hari ini saya masih menunggu kedatangan komet Halley pada tahun 2061. Efek samping lainnya, ketika teman seusia bermimpi jadi dokter atau artis (atau anak sekarang, youtuber), saya punya mimpi untuk menjadi bagian dari seri komik tokoh dunia.  

Lalu saat dewasa saya sadar bahwa keinginan menjadi orang besar adalah juga masalah besar. Sepele sebenarnya. Menginginkan sesuatu itu wajar, tetapi menempatkan diri sebagai orang besar menandakan gejala delusi. Semakin tua saya mengenal banyak orang, saya melihat lebih banyak orang besar tidak merencanakan diri untuk menjadi legenda. Hal itu kompensasi dari perbuatannya saja. Kebetulan orang itu jadi berkilau, lalu orang-orang mengelilinginya seperti laron.

Saya berhenti ingin ini ingin itu banyak sekali sejak 2 tahun ke belakang. Saat saya dipaksa untuk bertahan hidup dalam isolasi akbar pandemi. Nampaknya, banyak orang jadi tahu diri atau mengenal sisi lain dirinya saat itu. Misalnya, kawan saya jadi paham dirinya bucin karena berjarak dengan pacarnya. Ada teman yang menemukan bakat bertukang atau berdagang. Yang saya temukan? Bahwa saya sudah punya semua yang saya butuhkan. 

Klise sih, tapi kalau dipikir benar-benar, dengan dilandasi etik yunani manapun, semua orang sudah pada tempatnya. Orang-orang di persimpangan, memang waktunya untuk bersimpang. Orang-orang di belakang meja, walaupun suka berkeluh, memang sudah tempat dan nuansanya begitu. Begitu pula dengan, -walaupun menyedihkan, orang-orang yang kebagian hidup sebagai martir (mati muda, cacat, tidak atau kurang berakal). Begitu bahagianya saya saat menyadari bahwa saya bukan seorang martir. 

Di tahun lalu banyak kesempatan mujur yang saya dapatkan. Mulai dari kerja bersama warga untuk perbaikan kampung, merancang rumah orang di pelosok Sukabumi, menjadi co-curator untuk pameran lucu sebuah museum, menulis buku (yang masih tertunda), menjalani hubungan dengan puan yang sangat baik, melakukan penelitian asik tentang hantu dan arsitektur bersama senior favorit saya. Jadi kini saya melihat bahwa menulis adalah panggilan romantis, tetapi banyak proyek kreatif dan kerja-kerja penelitian yang terbuka bagi saya. Teman-teman saya sungguh baik, dan sejatinya saya gembira bekerja bersama warga. 

Catatan penting untuk diri sendiri (walaupun jarang sekali blog ini saya baca, jadi mungkin untuk yang membaca): bahwa semua baik-baik saja, dan apapun yang sedang terjadi, semua akan kembali normal. Tidak ada perasaan atau masalah yang final. 

Saya butuh setahun konsultasi profesional untuk betul-betul menghayati hal tersebut. Jadi percayalah bahwa pengetahuan ini sudah disokong oleh rumpun disiplin terintegrasi, penelitian panjang, dan gelontoran dana BPJS yang maha besar, bukan sekedar cuap-cuap motivasional. 

Tentu jalan terapi saya masih panjang, ada pikiran berkabut yang belum beres. Misalnya masih ada orang yang saya benci hingga rasanya ingin saya tinju wajahnya jika berjumpa (sekali saja, pow! Lalu saya cabut). Ingatan traumatis ini saya kategorikan sebagai pikiran yang sulit diselesaikan seperti kubus rubiks. Kadang ingatan itu saya coba urai lalu saya simpan dan lupakan, tetapi rasanya akan memakan waktu yang panjang. Namun urusan bipolar memang pekerjaan penuh waktu sepanjang hayat, dan tujuan untuk menjadi penyintas tanpa konsumsi obat masih hal yang saya idamkan. 

Tentang menjadi besar bukan lagi soal. Namun bukan berarti saya berdamai dengan pikiran "yang penting menyambung napas". Ada hal-hal yang masih ingin saya raih, tentunya dengan memahami betul kapasitas diri dan cara-cara aktual yang mesti dilakukan. Jika saya bisa melewati Desember 2020 yang dingin, maka rasanya saya bisa mencapai, dan berhak untuk hal tersebut. 

Saya juga lagi senang membaca mendiang Onghokham, mudah-mudahan kedepannya saya bisa menyalakan lagi api asmara pada perbukuan.  

Oh ya, tanpa dibuat-buat, postingan ini pas setahun sejak tulisan terakhir saya disini. 

Selamat tahun baru, Bangkit. 

Friday, January 8, 2021

Kalau-kalau

Diantara banyak kalau, saya kadang melamun tentang skenario kelahiran. Pertanyaan semacam itu memang melorong jauh dari hal-hal yang perlu dipikirkan. Misalnya, saya dilahirkan sebagai anak juragan ayam goreng, mungkin hidup akan lain. Dulu saya sempat berharap begitu. Namun hidup yang liyan belum tentu semenarik ini. 

Beberapa waktu lalu sepupu dekat saya melahirkan, dan kejannya membuahkan hasil yang ganteng. Dari hidung sampai dagu si anak menyalin ibunya. Bapaknya kebagian bagian bawahnya. Keduanya sangat bahagia, dan kebahagiaan yang tidak dibuat-buat selalu menular. Sayang sekali saya belum kebagian bertemu si anak, yang kelak saya ajari untuk memanggil saya Paman. Bukan om, bukan pakde. 

Kalau-kalau si anak lahir sehari kemudian, ia akan berulangtahun sama dengan kakeknya. Om paling gaul dengan nama tokoh wayang yang saya kagumi. Sayang sekali, beliau sudah berpulang awal tahun kemarin. Banyak harapan yang ditanam pada si anak, tentu saja, tetapi lebih banyak kelegaan dan kegembiraan di tengah situasi semacam ini.  

Selain yang telah disebutkan, beberapa teman dekat turut membawa momongan. Berita kelahiran selalu membikin saya gembira. Tidak seperti berita pernikahan, kabar kelahiran tidak membuat saya jengah. Anak adalah bentuk paling nyata dari urusan cinta. Baik dengan atau tanpa rencana, kelahiran lebih banyak ditunggu-tunggu. Di hari pertamanya lahir, seorang anak telah didoakan dengan sedemikian rupa. 

Persis tanggal 1 kemarin misalnya, seorang teman yang belum kepala tiga dikaruinai anak nomor dua. Saya kedapatan membantu menggali lubang ari-arinya jam 11 malam. Tidak terpikir saya akan memulai tahun baru seklenik itu. Namun yang menarik kemudian adalah obrolan dengan ibu teman saya, yang menjelaskan lagi ritual tersebut sebagai bentuk doa dan banyak kalau-kalau. 

Sebetulnya saya tidak asing dengan ritual penguburan ari-ari, yang diperlakukan sebagai perwakilan si anak. Dengan sendirinya, segala perlakuan terhadap ari-ari adalah bentuk doa. Ia dicuci bersih, kemudian dibumbui bermacam rempah agar watak anaknya menarik, kendilnya diberi kain dan perca agar si anak bisa berpenampilan, dikubur bersama jarum agar lakunya tajam, dan ditanami pipa agar ia pandai mendengar. Tak ketinggalan, ari-ari ditanam di depan rumah agar si anak dapat memimpin. 

Saya jadi melamun, apakah ari-ari saya dimakan kucing sebelum diurus seperti itu.  

Saat saya berkunjung ke rumah, kami membicarakan hal tersebut. Ibu mengguyon bahwa bapak mencuci ari-ari sambil berdangdut, lalu merembet ke hal-hal kecil lainnya yang baru bisa diingat belakangan. Tematik hari itu adalah anak, dan memaksa saya untuk kembali berlakon sebagai anak. 

Banyak harapan yang ditanam pada anak dan kandas, dalam soal saya, yang kandas jauh lebih banyak. Seakan sawah yang terlibas puso, kemudian banjir menahun. Namun saya tidak menemukan sedikitpun raut "kalau saja" di wajah orang tua. Saya cukup beruntung untuk diizinkan berjalan menjadi orang tanpa dituntut banyak syarat, dan saya bisa pulang sebagai anak kapanpun saya mau.  


Sunday, November 29, 2020

Mengkontemplasi Maut


Sedikitnya setiap satu jam, seseorang di Indonesia merenggut nyawanya sendiri. Artinya ada sekitar 8.765 (minimal) orang meninggal dunia akibat bunuh diri setiap tahunnya. Itu pun angka yang dilaporkan. Rapot merah ini adalah salah satu alasan mengapa perkara bunuh diri mesti dibicarakan, yang selama ini hanya meradang di balik obrolan yang berlindung pada keharusan-keharusan yang mengabaikan betapa menggodanya tawaran untuk tidur yang paripurna. 

Wednesday, October 14, 2020

Dilarang ngutang di warung sendiri

Beberapa bulan ini emosi saya naik-turun seperti jakun seorang penyanyi dangdut. Namun tidak semerdu melodi yang dihasilkan lagu dangdut, turbulensi yang sengit ini membuat kepala saya kacau. Misalnya, saya bisa bangun pagi dengan rasa sedih yang tiba-tiba, kemudian melenting gembira di malam hari, atau sebaliknya. Jika mengikutinya, saya akan larut dalam kedua ekstrim nada tersebut. Maka, sepanjang hari saya berupaya untuk meredam kedua emosi yang tajam ini sambil terus bergerak. Tentu ini memakan waktu dan stamina. Rasanya seperti berjalan di bawah hujan lebat atau kabut yang tebal. Adapun, beberapa bulan hingga sekarang pergulatan itu belum pungkas. 

Saturday, October 3, 2020

Kepala yang Ricuh


Beberapa tahun silam, seorang dosen pernah menyatakan topik penelitian yang menarik tentang Kartini. Beliau punya premis  bahwa Raden Ajeng Kartini yang kini merupakan arkitipe perempuan Indonesia, mampu membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya dan menginkubasi gerakan emansipasi wanita dengan surat legendarisnya, lantaran beliau dipingit di sebuah kamar oleh bapaknya. 

Friday, August 21, 2020

Apa yang dipikirkan seekor kucing?

 


Saya ingat dalam buku The Animal That Therefore I am, Jacques Derrida pernah bertelanjang bulat di depan seekor kucing sambil mempertanyakan hal itu. Keduanya saling menatap sejenak sebelum si teroris tekstuil itu mulai meracau tentang kapasitas intelektual seekor binatang, lantas mengantar argumen reflektif tentang kemanusiaan. Buku itu saya baca selintas, dan merupakan salah satu tulisan Derrida yang masih relatif enak dinalar.

Sialnya, sejak saat itu saya selalu terbayang Derrida bugil tiap ganti baju di depan kucing. 

Monday, August 3, 2020

Yang Dibungkus Belum Tentu Mati


Saya masih heran pada selera bestiality, tapi soal fetish bungkusan kain jarik tidak lagi mengejutkan. 

Tumbuh di lingkungan remaja yang membaca stensil sembunyi-sembunyi, sejak SMP saya sudah disuguhi konsepsi fetish. Saya masih ingat betul pertama kali mendengar ulasan teman tentang cerita dewasa a la tetangga yang ia baca di website bodong, respon lugu saya adalah: 

"Terus mereka ditangkap polisi nggak?"

Saya dulu anak baik-baik. 

Saturday, July 25, 2020

Bukan Tentang Psikopat



Salah satu film Martin McDonagh yang saya ingat dengan baik adalah Seven Psychopath (2012). Film-filmnya memang sarat tema kriminal, tetapi ia berhasil melampaui batas tema dengan cara yang menyenangkan untuk ditonton, yakni membedah isu moralitas pelaku dengan humor.

Moralitas yang saya maksud sebagai landasan sikap protagonis, cenderung dikerdilkan dalam penayangan film kriminal. Umumnya, motif pelaku kriminil berangkat dari alasan klise seperti balas dendam, mencari kekayaan, hingga yang mutakhir penebusan dosa, tetapi tidak sedikit pula judul yang mengisyaratkan sifat "sudah dari sananya". 

Pemilihan motif ini bukan masalah, tetapi jadi soal kalau hanya sekedar ornamen narasi, sehingga fokus film jatuh pada hura-hura berdarah. 

Friday, July 17, 2020

Omong-omong Menyusun Kata

Begini, saya punya dua mentor yang berpendapat tentang bagaimana dan apa yang baik dalam menulis. Salah satunya bicara bahwa “tulisan terbaik adalah yang ditulis pertama-tama dengan jujur” yang kedua berpendapat “Tulisan yang baik adalah yang dekat dengan keseharian”. Keduanya bicara hal yang sama yakni tentang mendekati hasil, tetapi bukan semata-mata tentang menulis dalam intisarinya.

Wednesday, July 8, 2020

Baduy Yang Saya Ingat


Tiba-tiba hari ini muncul kabar bahwa Baduy mengajukan surat permohonan kepada presiden untuk dicoret dari destinasi pariwisata. Artinya, kemungkinan Baduy tidak lagi membuka diri bagi pendatang, yang boleh jadi mengacu pada wilayah Baduy Dalam. Dengan demikian tidak ada lagi kunjungan seenak hati untuk trekking gembira atau vakansi semi-survival tanpa tujuan yang jelas, misalnya penelitian.

Diam-diam saya merasa senang. Ralat, saya senang sekali.

Saturday, July 4, 2020

Semak Belukar


Kata Marie Kondo, sang penasihat bersih-bersih:
"Buanglah hal-hal yang tidak membawa kebahagiaan bagimu, misalnya blog ini." 

Tadinya pikiran itu sempat terlintas saat barusan membuka blog ini. Rasanya seperti masuk ke kamar orang genit. Ramai tapi terabaikan. Spontan, mengulik layout dan melihat draft postingan. Begitu banyak dan carut-marut. Template blogspot juga tidak berubah, masih memprihatinkan seperti lima tahun silam (2015). Beberapa post ditumbuhi komentar spam judi bola dan sejenisnya. Benar-benar membuat iba. 

Kawan-kawan penggiat blog lainnya sudah melanjutkan hidup masing-masing. Beranak, berkarya, sekolah S3, atau bergeser ke wordpress. Blogspot seumpama babak hidup bagi banyak orang, seperti fase alay dan emo. Ketika yang lain sudah membeli domain murah dengan namanya untuk portfolio profesional, blog ini masih bernama sama. 

Waktu kecil saya pernah bertanya kenapa diberi nama yang tak lazim, 
Dengan bangga bapak menjawab: "Itu nama yang baik". 
Nah, sebagai pengasuh blog, jawaban saya pun sama bijaknya.    
  
Singkatnya, blog ini bukan sekedar tulisan selintas atau episode kehidupan seorang Bangkit. Dibuat tahun 2008, dia tumbuh bersama saya dan sebaliknya. Sejak mulai ikut-ikutan menulis, hingga saat ini masih ikut-ikutan. Isi tulisan blog ini memang tayang seenaknya, tetapi menandai bagaimana saya mencerna hidup dari waktu ke waktu. Isinya bergibah, menertawakan teman, dan mengulas catatan perjalanan. Walaupun lebih sedikit yang tercerna, dan sisanya dimuntahkan.  

Begitulah. 

ただいま


Tuesday, March 12, 2019

Niat


Tempo hari mentor saya memberikan sejumlah wejangan tentang penulisan. Karena saya terbilang keras kepala (walaupun lembek di perbuatan), saya agak kesulitan mencerna masukan dari beliau. Justru setelah berjarak beberapa hari saya dapat memahami sedikit banyak apa yang beliau maksud. Dalam pengamatannya (yang beliau sampaikan dengan sangat hati-hati), apa yang saya lakukan menghambat perkembangan diri sendiri. Saya menulis begitu lambat, dengan banyak pertimbangan dan kemauan. Padahal, menulis semata alat untuk menyampaikan pemikiran, yang tujuan akhirnya adalah manfaat bagi banyak orang. Karena itu, kecakapan menulis akan datang begitu niat yang baik telah kukuh. Inilah yang saya sukar cerna, karena niat itu masih berupa rongga kosong.

Wednesday, February 7, 2018

Nikah

Belakangan ini, teman saya banyak yang menikah. Dalam setahun, sudah ada beberapa undangan formal dan informal untuk melipir ke pesta pernikahan seseorang. Biasanya teman SMA, dan sesekali teman kampus. Minggu depan ada yang menikah, beberapa bulan ke depan ada lagi di luar kota, kemarin salah satu kawan punya kabar sudah beranak. Anak, susah sekali membayangkannya.

Tuesday, August 1, 2017

Grown up

There exist several reason why I write stuff in english despite of my nasty grammar. 
1. It has different flavor. There are peculiar expression that cannot be delivered with bahasa, nor I am articulated enough to say it properly. 
2. Sense of safety. Less people read it (might be my beloved ex (if she still alive (if does, God bless her soul (if God does (1) exist, and (2) give blessings)))).
3. I’ve been successfully being cognitively colonialized.

There are no justifiable reason for writing this post in 2.13 of monday morning. Only reason I have because I don’t feel like growing up. Before this, occupied with survival instinct to avoid being killed by hunger, I did not think much. Concept of maturation began to bug me only lately.

Wednesday, June 28, 2017

Selamat!


Untuk yang kemarin berulang tahun, selamat! Terima umur dan semoga panjang nafas. 

Teman saya ulang tahun. Saya hanya ingat kisaran minggu keempat di bulan Juni, tapi tanggalnya diberitakan oleh Facebook. 

Waktu pertama bertemu orang ini, saya sempat berfikir, "mukanya mirip banget sama Sardono." Ternyata doi memang masih ada hubungan darah. Orang ini kocak, walaupun cenderung jaim untuk menggantikan Dono. Apalagi selera humornya terlalu gelap di banyak kesempatan (berapa banyak sih, orang yang menangkap guyonan Monty Python dan Adult Swim?). Hebatnya, terlepas dari kecanggungan lawakannya dia masih mampu gonta-ganti pacar, walaupun move on nya lama bukan main. 

Friday, June 16, 2017

Eggs


A french artist tried to hatch group of egg by sitting on them for 21-26 days.
It is reported that he only goes 30 minutes a day for meals or lavatory needs.
He had prepared his condition by living inside a rock for a week before.

My face when I reconsider my act.

Tuesday, March 28, 2017

On waiting


Some person picked up a pencil and done an astonishing drawings, some creates stanza out of thin air, while some used it to pierce another person's heart, literally. The differences are clear, that pencil, as much as other tool, is a transitional device for each thought. 

I am certain that I've wronged book's function most of the time. 

I've been a librarian for few months. Sometimes its puzzling, challenging, another time I'm bored to death and ended up pumping dopamine from youtube channels. In this moment, if "I" was a protagonist of a novel, this would be an end of status quo, thus revoking the circle of new quest. 

Of course, life isn't relied on any textbook.  

As I learned here, -if i really learned something, that I got tired of my old habit. 4 months ago, whenever faced by personal decision, ranged from finalizing a design, to even completing a simple paragraph, I would hesitate until someone showed me the process. My year of isolation has brought me bitter conviction about the world, that nothing particular should worthy of my interest.

Life's only a waiting of ensured death. Best to sit tight and having small talk before it comes. I felt satisfied with big picture, that my existence is a mere coincidence. Nothing worth being pursued. I started to believe that Godot is conception of death, unlike popular opinion of God or faithful entity. The second they met Godot, they would have ceased to be existed. 

It took me for a while that one thing gotten solid isn't that belief, its the cognitive habit. My habitual recess for example, is a residue of my routine "enjoying" state of waiting. Its printed on my pattern that waiting have its own intrinsic value. It's obscene, it has quality of freedom. Its excitement lies between the second of decision from being made. The only obvious idea is, that you have deliberate choice to valid or void your present doing. 


I believe at the time I'd like to push my luck and pissed off people as form of cynical belief. Plus the delusion, oh boy, no one is smarter than the one who knows he had power to choose. 


Like I said, I'm fed up. Apparently, afternoon existential crisis with subtle arrogance on the side are not healthy. 

I always scratching my head in confusion when I see this flip of perspective. It doesn't hard nor hurt to see outside the simulacra, but it much more easier to cave in like yesterday. Shadow on the cave are easier to perceive than the real tree, yet I have to beware to not flying too close to the sun, or I'll drown like a son of cunning craftsman.

As I moved forwards, I learned one of two (practical) things. 

Guilt is useless. Sin is only exist within guilt, ask Hamlet. The worst form sin is to be unfair to oneself, including self harm, be it mentally or physically. By stoicism, it is sin to be dysfunctional human being in relation to natural reason. Second, kindly stop trying to control everything. In more pragmatic words, stop caring at the moment if it would drain your mental stamina. There are so much to decide in a day, and few cigar in a day started to feel unworthy. 

By negating guilt, one's started to develop grit. Which is good, it made me started to like myself. People seems to looked better, without usual plastic humanism. Each person I know are on their own journey, and I bid good luck for them. I can now sincerely appreciates their struggle, for I have now reflecting on my own.

So about tools, I have been used book to justified my belief and overlooked some of its real value. The book has been my sidekick on waiting, my excuse, and poetic symbol of empty gaze after horizon. I have no more to extract from waiting, except that I was damaged from it and I have less knowledge than I thought I had. Yes, it's an example of useless guilt to bear right now. 

Tomorrow isn't any brighter than yesterday, except that there always something surprising in a day if I stick long enough in that small library. A serendipity between those shelves. 

At this moment I usually promised myself this or that. Such renewal vow after a relished confession, was ordinary pattern. I prefer stealing last line of American Psycho script.

My pain is constant and sharp and I do not hope for a better world for anyone, in fact I want my pain to be inflicted on others. I want no one to escape, but even after admitting this there is no catharsis, my punishment continues to elude me and I gain no deeper knowledge of myself, no new knowledge can be extracted from my telling. This confession has meant nothing.

Yes, its a poor cockblocking choice of statement, and using a fragment out of its context are not clever. But nothing comes to my mind right now. I just felt that writing on this blog is one way to be less-unfair to myself.

Thursday, November 17, 2016

On behalf of the Assholes




Some people, whose less capable of doing anything more than marching, desperately trying to preserve their way of life on 4th november. The problem is, this "some people" consist more than hundred thousands of people. Which is makes it kinda big deal and shed an ilussion of truth. One intersting definition of a cult is, a misplaced or excessive admiration for a particular person or thing. Which is suprisingly fit this situation. 

For some reason, a high profile governor candidate was tongue-slipped because his daring personality. Before you can say hocus pocus, a league of narrow minded people was offended. Like victorian revolution, flyers was distributed. Many people agreed that this infidel, need to be punish. And how humble they are, just to file a lawsuit on him in rather than public beheading. 

A simple apology was not enough. 

Clearly, this became an opportunity for some figure in political domain. Second and most important, this is a perfect sample of ad hominem argument. 

It is chaotic, albeit the mass was titled peace marching. Many people became confused, felt the need to place themself on certain side. Involved person is currently under arrest for unsophisticated mistake. Most mass participant, is now probably, believe that they have this unearned power over rules, that most likely can be applied again in near future depending on how court result turn out soon.

On surface, their focal point is to sustain sacred value of Quran, for a stain in the name of God means their cage being rattled. It is understandable, yet being done in corny expression. One person that I used to admire, write an article about right of marching, that we are more civilized than ever and right to express opinion is now more accessible. Yet, he lay aside later impact that follows: 1. Encourage "faith before law" perspective and 2. warming same hate engines. Which is not worthy enough if you asked me. 

Faith before law or hjacked democracy, was an subtle arsenal that runs the engine of 65 genocide. Likewise on 98, and numbers of minor event that follows. I do not need to explain more. 

On race hate, try to look on personal reaction. My friend is a Tionghoan, she was angry and scared, fortunately not to the level of being militant. But still, everything in big scale such as this mass, always able to shake your view about something, be it temproary or permanent. 

Tionghoan were reside around for about 500 years, make profit from their diplomatic skill with colonist (Onghokham; 1991). Yet, their success was seen as threat that still burning through for generation, like a jelousy of older brother. Little we know, Chinese people has its share of suffering history. On old west (circa 1860), they were used as labour with minimum wage. Many died as slave, they were inferior race. Yet, our (most natives) insecure thoughts saw them as marginal race that acceptable to be called cina rather than our shared brother.

I do not give a fuck of how opportunist they might be, I condem situation where people hate others because they cannot accomplish similar achievement.

Kyai Hj. Abdularham Wahid, the 4th Presiden of Indonesia, write a book about God, that Its power does not need to be defended. God itself is supreme entity by essence. To defend God, is now depend on how crucial the opposite threat is, which is simply hegemony discourse where we actually never lost our individual position. Later on 1993, A novel was written by Danarto with title Asmaraloka, consist of same theme. But unfortunatelly, book was not enough. Apparently, blood or a martyr must be sacrificed while we deny to see true problem, that this is not that crucial. 

How is this not crucial? Back to my early statement, this is mere ad hominem case. We simply overlook many religious-mocking related cases that being done by several figure. Especially inside Islam community itself, for example

In comparation with brexit or USA election, this probably seen as ridiculous spectacle. But the motive is just the same, people are hard to share and tolerate. Today awarness probably raised, less people give a damn about impractical form of protest. But history proved that existence of assholes is being needed, as a reminder that human always in catharsis. 

Saturday, October 8, 2016

Marah

Kamu tau nggak gimana caranya marah dengan cantik?



" ... Further - though this may contradict what I say above - strong and interesting architectural criticism is defined by the way you talk about architecture, not the buildings you choose to talk about. 

In other words, fine: you can talk about Fumihiko Maki instead of, say, Half-Life, or Doom, or super-garages, but if you start citing Le Corbusier, or arguing about whether something is truly “parametric,” then you shouldn’t be surprised if anyone who’s not a grad student, studying with one of your friends at Columbia, puts the article down, gets in a car - and drives to the mall, riding that knotwork of self-intersecting crosstown flyovers and neo-Roman car parks that most architecture critics are too busy to consider analyzing. ..."


Geoff Manaugh itu salah satu gerilayawan kritik arsitektur gacoan saya. Bukan jebolan sekolah arsitek, justru membuat tulisannya punya perspektif yang menarik tentang arsitektur. Bahkan, kadang lebih berbobot dan menyentuh beragam disiplin. Satu dasawarsa silam, ternyata dia juga bisa kesal dengan sifat elitis arsitektur (yang kadang memang keparat pangkat dua). Sekarang, dia menulis suka-suka. Alhamdulilah.

Enaknya jadi gerilyawan kritik arsitektur: selalu bebas dari ancaman jadi tapol dan peluru senapan.

"... 1) Architectural criticism means writing about architecture, not writing about buildings.
Incredibly, in the midst of the talk last night, one of the panelists mentioned Archigram – almost wistfully – commenting that, despite a lack of built projects, Archigram still managed to dynamize and re-inspire the architectural scene of its era. This was done through ridiculous ideas, cheap graphics, a sense of humor, and enthusiasm. But, wait, what was –? Oh, that panelist must have forgotten, because he immediatetly went back to discussing buildings: not ideas, not enthusiasm, not architecture.
  
Architecture is not limited to buildings!  


Temporary Air Force bases, oil derricks, secret prisons, multi-story car parks, J.G. Ballard novels, Robocop, installation art, China Miéville, Department of Energy waste entombment sites in the mountains of southwest Nevada, Roden Crater, abandoned subway stations, Manhattan valve chambers, helicopter refueling platforms on artificial islands in the South China Sea, emergency space shuttle landing strips, particle accelerators, lunar bases, Antarctic research stations, Cape Canaveral, day-care centers on the fringes of Poughkeepsie, King of Prussia shopping malls, chippies, Fat Burger stands, Ghostbusters, mega-slums, Taco Bell, Salt Lake City multiplexes, Osakan monorail hubs, weather-research masts on the banks of the Yukon, Hadrian’s Wall, Die Hard, Charlie and the Chocolate Factory, Warren Ellis, Grant Morrison, Akira, Franz Kafka, Gormenghast, San Diego’s exurban archipelago of bad rancho housing, Denver sprawl, James Bond films, even, yes, Home Depot – not every one of those is a building, but they are all related to architecture. ..."

Amin

Puisi dan Arsitektur


Dimuat di Qureta pada 8 oktober 2016

[1]
Saya agak segan jika membaca puisi. Sebagai bentuk literatur paling ekspresif, puisi suka membekas, tetapi sukar menyampaikan suatu gagasan secara teratur. Membaca puisi itu sulit, apalagi merangkainya. Betul-betul berani para pujangga itu bagi saya. Sementara, teman yang masih kuliah sastra tidak sependapat. Menulis puisi ya tinggal menulis saja. Biar artinya dicerna siapa yang mau.

Begitulah pandangan postmodern, yang bagi saya rada berjudi. Berati puisi bagus, dinilai lewat relevansinya bagi banyak orang. Sisanya, terlalu apak untuk diaminkan. Saya tak teruskan obrolan itu karena tahu akan muter hingga subuh. Saya hanya paham bahwa puisi adalah sarana untuk 'merasa' yang nilainya agak labil. Mungkin saya belum mengerti, sehingga saya menunda diri untuk menilai puisi.

[2]
Saya punya teman, sebutlah sukron. Iya, mirip merk kacang (sukro), dan di SMA memang dipanggil kacang. Saya dan sukron sedang jalan melintasi kampus menuju stasiun. Saat melewati suatu gedung infrastruktur kampus, sukron menyatakan pendapatnya tentang gedung tersebut.

"Gue ngga suka gedung ini, keliatannya kayak bangunan belum kelar."

Saya tidak banyak tahu tentang muasal bangunan itu dan arsiteknya. Namun, saya dididik untuk membaca arsitektur dengan teratur. Pertama, gedung itu bekerja sebagai kantor sekaligus studio, sehingga ukurannya masif, cenderung kotak, bahkan agak brutal dari sisi tertentu.

Kedua, saya paham bahwa elemen yang paling membuat gendung itu kelihatan belum beres, adalah upaya untuk mereduksi panas dan cahaya langsung dari matahari siang menggunakan tirai reflektif. Elemen tirai itu sengaja dibuat menonjol dan memanjang, untuk meneruskan karakter tegas dari entrance hingga beton-beton telanjang, yang menonjolkan kesan "teknik" dari gedung tersebut.

Kalau sukron pernah masuk ke dalamnya, ia akan tahu bagaimana jendela itu bekerja. Kalau ia berdiri pada titik yang tepat, ia mungkin akan melihat bagaimana gedung itu membawa dirinya sebagai suatu lambang.

[3]
Tentu saja saya tidak membantah kata-kata sukron, apalagi mengajaknya masuk gedung. Saya cukup senang, bahwa teman saya punya pendapat mandiri tentang suatu rancangan. Artinya, dia mencoba membaca rancangan, dan itu sudah sebentuk apresiasi nyata terhadap arsiteknya.

Namun ini membuktikan hal yang sama. Saya suka dan berusaha untuk membaca puisi bangunan dengan teratur, tetapi orang-orang selalu memiliki kebebasan penuh untuk menilai, dengan atau tanpa aturan.Apalagi, lebih banyak orang memilih untuk tidak menilai. Seperti saya terhadap puisi.

Saya selalu percaya orang sebaiknya punya sikap kritis tentang suatu rancangan. Sebab secara logis, mereka yang menempatinya. Hal ini berbeda dengan puisi yang tidak berkonsekuensi pada kelangsungan raga manusia. Dalam ekstrim saya yang paranoid: Kamu sudi tinggal di penjara hanya karena dicap halal sebagai istana oleh otoritas tertentu? 

[4]
Di sisi lain, teman saya berpendapat bahwa jika masyarakat giat membaca arsitektur atau terlalu kritis terhadap hal itu, para arsitek yang akan repot. Tentu saja ini berakar dari hindsight bahwa bahasan arsitektur selalu butuh modal pengetahuan yang dibangun dari barisan manifesto dan beragam disiplin ilmu. Merancang pasti dengan alasan, sementara kritik yang terlontar seperti diatas, biasanya hanya berasal dari permukaan. Jika 1.000 orang berkata demikian secara radikal, bisa jadi bangunan yang kami lewati itu terpaksa diperbaharui atas nama demokrasi. Mungkin begitu ekstrim teman saya.

Namun, justru dari situ kepercayaan saya tentang sikap kritis itu semakin kuat. Bukan giat, tetapibecus membaca. Membaca arsitektur, sepemahaman saya bukan sekedar merapalkan isi dari majalah arsitektur populer. Wawasan arsitektur bukan sesuatu yang mahal, hanya tampak mewah. Saya percaya orang tidak perlu berbondong-bondong mengikuti kelas Pengantar Arsitektur untuk memahami pengalaman dan kualitas ruang. Kita cukup mulai dengan pertanyaan: sudahkah kebutuhan spasial saya terpenuhi disini? 

Umumnya kritik itu hadir dalam bentuk keluhan tentang suatu rancangan; panas, lembab, atau berisik. Atau pujian lewat tentang suatu bangunan; indah, lucu, unik. Disana arsitektur terbaca di permukaan sebagai kesan, tetapi gagal menghasilkan suatu dialog yang sehat. Dialog yang paling baik terjadi ketika orang tidak hanya numpang merasa, tetapi juga bertindak aktif untuk mengatur ruang, seperti analogi Gaston Bachelard dalam Poetic of Space.

"...a man's building his own house that there is in a bird's building its own nest"

[5]
Membaca buku selalu melibatkan proses argumentatif. Waktu membaca, kita memanggil hantu dari buku-buku yang sudah dibaca untuk menakar nilai-nilai dari tulisan yang sedang kita hadapi. Begitu juga membaca sastra. Tenggelam dalam narasi, bukan berarti menelan kotak-kotak ideologi penulisnya. Namun kembali menimbangnya dengan prinsip milik sendiri. Arsitek menyajikan suatu narasi, yang kita jejaki setiap hari. Mengapa proses argumentasi yang sama tidak dapat terjadi ketika membaca arsitektur?

Pada titik ini, saya merasa bahwa buku Experiencing Architecture Ramussen intinya bicara tentangCara membaca/meraba/merasakan arsitektur. Sejujurnya, saya masih belum berbulat pendapat tentang mengapa orang perlu membacanya (arsitektur), selain keyakinan analogis bahwa arsitektur adalah puisi yang kita tinggali. Mengapa tidak dibentuk seindah mungkin sekalian?

Toh sebelum arsitek hadir, arsitektur sudah lahir duluan. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang sudah punya jurus ninja membaca ruang secara natural. Tidak hanya melihat rongga sebagai fungsi berlindung, tetapi juga mata estetis untuk melihat liang gua sebagai pangkal kehidupan.

Demikian bagi saya, Sukron lebih berani daripada orang-orang yang larut dalam guggenheim phenomenon.

Kedua, saya mafhum harus kembali baca puisi.