Showing posts with label Backpacking & Trips. Show all posts
Showing posts with label Backpacking & Trips. Show all posts

Wednesday, July 8, 2020

Baduy Yang Saya Ingat


Tiba-tiba hari ini muncul kabar bahwa Baduy mengajukan surat permohonan kepada presiden untuk dicoret dari destinasi pariwisata. Artinya, kemungkinan Baduy tidak lagi membuka diri bagi pendatang, yang boleh jadi mengacu pada wilayah Baduy Dalam. Dengan demikian tidak ada lagi kunjungan seenak hati untuk trekking gembira atau vakansi semi-survival tanpa tujuan yang jelas, misalnya penelitian.

Diam-diam saya merasa senang. Ralat, saya senang sekali.

Friday, July 10, 2015

Teringat

Pernah, perjalanan itu serupa gambar bergerak, begitu mulus habis-habisan. Duduk di kereta ekonomi yang melaju di pagi hari, tiket enam ribu rupiah dari Merak ke Jakarta, hanya dua kali dalam sehari. Dengan orang-orang yang berjubel hendak mengadu nasib, ada yang duduk melantai, berdiri, juga berbagi berpangku-pangku. Sayur-mayur dan dagangan berserakan, ayam dipinggirkan agar tahinya tidak berceceran. Pintu kereta tidak tertutup, angin masuk menerpa seisi gerbong, lalu diiris pelan-pelan oleh setiap orang, hingga hembusnya menjinak pada kursi paling belakang.

Friday, June 19, 2015

Baduy


Akhirnya, Baduy. 
Ditanya mengapa harus baduy, atau mengapa bersepeda, atau mengapa harus pergi, jawabannya ini:



Berhubung puasa berarti terkurung, sementara belum lagi mencumbu aspal, jadilah ini perjalanan yaudah-yang-penting-jalan. Jenis ini kurang mengindahkan kaidah persiapan, ujungnya malapetaka di jalan. Seperti biasanya saya menggunakan sepeda gowes. 

Monday, March 23, 2015

The Art of Bikepacking


Bikepacking adalah anak haram dari kawin silang antara backpacking dan cycling. Hasilnya yaitu suatu kegiatan bepergian ke suatu tempat dengan strategi backpacker dan alat transportasi sepeda. Tentu orang berkerut dahi membayangkan bagaimana backpacker, -yang selalu membawa carrier sebesar kulkas kemana-mana-, menjadi lebih sinting lagi dengan menggenjot sepeda sambil membawa kulkas kemana-mana. Agaknya memang kegiatan ini mirip dengan gejala masokisme atau kesenangan menyakiti diri sendiri.


Bikepacking sebenarnya sudah lazim, saat ini tercatat banyak orang yang mengabdikan betisnya liat-membulat akibat memutar pedal sepeda demi melintasi sumbu dunia. Saya tidak bercanda. Ada orang Jepang yang cukup sinting untuk berangkat mengelilingi dunia dengan total uang dikantong $3 dan sepeda butut, namanya Keiichi Iwasaki (Setelah sholat wajib, biasanya saya menyembah dia). Ada lagi orang bogor yang salah belok hingga ke mongolia dan cina. Orang bogor ini asli dan hafal pancasila. Ada juga lelaki paruh baya yang mengelilingi Indonesia dengan sepeda kumbang, juga orang bogor lainnya yang ikut serta menyambangi sabang-marauke dalam duet yang penuh romansa selama 2 tahun, namanya Cliff Damora. 

Saturday, November 15, 2014

Akhirnya Ditulis: Garis Besar Perjalanan Gowes Lintas Jawa


Pembuka
Mohon maaf untuk para handai taulan. Terutama Firli yang sudah menuntut jauh-jauh hari. Sudah lewat 3 bulan sejak berakhirnya perjalanan gowes lintas jawa saya. Sudah banyak hal yang saya lewati di depok, banyak juga ulahnya, dan banyak sesalnya. Ada senangnya, seperti merasa menggariskan nyawa diatas tangan sendiri, di lain hari, rasanya seperti ditiban karma hingga mau pecah kepala. 

Pinginnya membuat buku. Iya segitu pedenya saya, gara-gara bibi saya penulis. Padahal saya dulu mengirim naskah kolom puisi di majalah Bobo saja ditolak terus karena mencantumkan kata "pantat". Sebenarnya ceritanya sudah ditulis di laptop hingga ke detail harian perjalanan. Namun saya masih bingung dengan tema pembungkus ceritanya. Mau dibuat stensil, saya sulit membayangkan adegan senggama diatas sepeda, toh senggama dengan siapa, jok saja menolak. Mau dibuat romantis, selama perjalanan kemarin saya hanya bertemu batang, batang, dan batang. Sementara wanita yang ditemui kemarin terlampau macho untuk diromantis-romantiskan. Mau friendship, gowesnya sendirian. Yah akhirnya arsip perjalanan tersebut mulai mendebu. Menggantung bagai ingus yang tidak ditarik ataupun dijatuhkan. Untuk menjaga agar perjalanan ini tetap hidup dan menyalakan keinginan membukukan kembali saya akan coba membagi garis besar perjalanan kemarin, semoga dapat membantu bagi teman-teman yang hendak menunaikan ibadah gowes lintas jawa. 

Garis besar
Perjalanan gowes lintas jawa kemarin menghabiskan kurang lebih 22 hari perjalanan. 

Nah, bodohnya saya baru membuat ini sekarang, bukan saat hendak melakukan perjalanan. 



 Rute Tempuh Depok-semarang

Wednesday, September 17, 2014

Prelude : gowes solo keliling jawa

9-22 agustus lalu gue melakukan perjalanan keliling jawa (jakarta-bandung-cilacap-jogja-solo-malang-surabaya-semarang) dengan sepeda. Berbekal uang 500ribu dan gear seadanya gue ngelakuin perjalanan nekat yang ngorbanin banyak hal, terutama tanggung jawab gue di organisasi kampus.

Masih sulit untuk merumuskan : ngapain sih gue gowes keliling jawa?

Masih terbata-bata jika ada yang bertanya demikian. gue bisa saja menyerahkan 1001 alasan cadangan kepada mereka yang nanya. Dan nggak kesemuanya bener-bener sahih. Gue memulai perjalanan dengan motif yang jelas: Gue pengen tahu apa yang bisa diberikan jalanan kepada gue.

Dari kecil, gue ingat bener gue anak cengeng yang doyan kocar kacir dan kelayaban. Waktu umur gue 6 tahun, gw pernah jalan-jalan sendiri menuju rumah temen gue yang jaraknya sekitar 700m dari rumah, waktu itu rasanya jauh banget, dan gue sangat seneng. Gue hampir ketabrak motor, dan waktu sampe sana, nggak ada orang dirumah. Jadi gue pulang gitu aja. Sampai rumah gue disambut bokap yang ngamuk dan nyabet pantat gue dengan galak. Gue nangis berat dengan ingus meler sambil digendong nyokap, waktu itu gue nggak ngerti, kenapa nggak boleh? Toh gue masih tau gue pergi kemana dan harus ambil jalan kemana untuk pulang. Dan toh gue pulang.

Menjelang akhir SD gw dibeliin sepeda, dan setiap sore gue selalu memastikan gue menempuh jarak yang lebih jauh dari hari sebelumnya dengan sepeda tersebut. Hingga suatu sore gue balik jam stengah 7 malam dan kena marah bokap lagi. Sejak hari itu gue hanya boleh bersepeda hingga jam 5 sore.

Waktu jaman gue nganggur sebelum kuliah, 3 tahun silam, gue backpacking ke banten sendirian. Gue nginep di kampung orang ketika harusnya hari itu gue pulang jakarta. Hp gue mati dan keesokan harinya gue pulang disambut bokap yang diam karena marah. Kata nyokap, bokap gue hampir ngelapor polisi kalo gue nggak pulang hari itu.

Gue nolak dibilang bandel. Gue kelamaan nurut dari kecil. Gue cuma pengen tau ada apa diluar sana. Selama masih tau jalan pulang, gue akan dengan senang hati menebas jarak.

Ketika akhir perjalanan tiba dan gue sampai dengan selamat dirumah setelah menempuh 1200km, bokap menyambut gue, kali ini dengan senyum dan menjabat tangan. Kemudian gue mampir ke tempat om gue yang mewariskan sepeda yang gue pake untuk perjalanan ini. Kita ngobrol panjang lebar.

Terjawab sudah mengapa banyak orang mengoposisi apa yang gue lakukan. Bukan semata-mata karena hal ini nggak praksis di kalangan masyrakat, dirasa buang-buang duit ataupun membahayakan. Hanya saja, ketika gue di jalan, yang merasa gue hidup hanya gue. Orang lain nggak tau apakah gue baik-baik saja atau enggak. Intinya; orang yang sayang kepada kita, adalah orang yang mencari. Ini nggak absolut, tapi paling mendekati. Bukan semata-mata ini bikin orang kuatir gue mati. Tapi kuatir gue lupa pulang.

Sejauh itu dan sesederhana itu.

Konyolnya, gue punya motivasi untuk merekam perjalanan dengan mencari cerita dari beragam orang. Gue bilang, ini bukan tentang gue, ini tentang orang-orang di jalan. Gue mau belajar.
Tololnya, gue malah melupakan tentang orang-orang di rumah. Semakin jauh gue menggowes, semakin pudar bayangan tentang orang-orang dibelakang. cuma gue dan orang baru, lama-lama jadi cuma gue. Lantas gue tersesat.

Pada akhirnya, dari beberapa catatan yang diberikan jalanan, ia menyiratkan suatu tulisan dengan tinta merah; berpulanglah, karena itu tempatmu berasal. Bicaralah, karena nafas pertamamu kau hembus disana. Ingatlah, karena mereka mengingatmu.

Gue pergi mengelilingi jawa untuk sadar bahwa gue harus berpulang.

Monday, January 6, 2014

Terdampar di ujung tahun


Apa yang akan dilakukan 4 cowok kesepian di ujung tahun dengan duit terbatas?
Jawab : Mendamparkan diri ke pulau tak berpenghuni di pinggir kota.

Berhubung kami nggak punya pacar (kecuali Rido, yang tidak memberdayakan momen dengan pacarnya, ampun deh do), dan kami gak punya toleransi terhadap alkohol untuk mabok-mabokan biar gaul (minum kratindeng aja kejang-kejang), gue, Irwin, Amar dan Ridho sepakat untuk menghabiskan akhir pekan di ujung tahun untuk berlayar ke kepulauan Seribu, 2 hari satu malam.

Ide brilian ini datang dari gue.
Dan seperti sabda intuitif ridho yang sudah-sudah, hampir segala kegiatan yang gue EO kan berakhir dengan nestapa, itu benar adanya.

Rencana awal kami adalah berlayar ke pulau karang bongkok melalui pulau pramuka, dan ternyata sodara2 setanah air, tarif sewa kapalnya melebihi biaya kosan gue sebulan penuh. Udah hati gundah, gue tetep berusaha stay cool dan menerbitkan harapan palsu pada kawan2 gue, mencoba menumpang kapal dengan pengunjung lain yang hendak berlayar ketempat yang sama.

Tentu saja rencana PHP tersebut juga gagal. Dominan pengunjung yang mendatangi pulau seribu akhir taun adalah 1. pengunjung berduit 2.berencana 3.lebih baik sama kelompoknya sendiri. Kami berempat adalah orang2 yang tidak memenuhi ketiga standar tersebut. Pengunjung lain sibuk dengan agendanya sendiri. Terombang-ambinglah kami.