Thursday, September 3, 2015

Papua, banyak cerita

Pulang dari papua, rasanya lapar. Masih banyak hal yang bisa didulang, tetapi apa mau dikata, waktu dan tenaga sudah habis nyaris tak bersisa. Papua selatan, kabupaten bovendigul, yang kami jajaki selama 21 hari menyimpan banyak cerita. Langit, hutan, sungai, kampung, dusun, merupakan formula perjalanan wajib untuk mencapai kampung Yafufla (kecuali anda punya helikopter), tempat bermukimnya sebagian marga dari suku korowai yang tengah menunggu pembangunan. Sementara sisanya yang masih berpegang teguh pada adat, masih bertinggal di dusun yang tersebar di belantara papua selatan. Alhasil, dapat dikatakan kami mengambil data turunan yang berasal dari lisan para tetua dusun yang pindah ke kampung ini. (kampung: areal terencana untuk bertinggal terbuka di pinggir hutan. Dusun: pemukiman komunal di dalam hutan)

Suku Korowai yang bertinggal diatas pohon punya alasan berbasis rasa takut untuk mengamankan diri dari pertikaian dan perang serta swanggi (kematian/penyakit yang tidak dipahami). Awalnya, saya pikir keinginan mereka untuk mengelevasi diri merupakan bentuk penghambaan pada Tuhan. Terbentur kenyataan, saya tutup mulut. Ini menjawab kegalauan saya saat memasuki rimba papua. Gaston bachelard bilang bahwa attic (highest point of house) in contrast with cellar (signifying irrational thought) represent tranquility and imagination, roughly saying semakin tinggi posisi seseorang dalam rumah, semakin damai/rasional lah penghuninya (ada nook, light, dan conforting silence). Juga melihat preseden dari rumah bertema ketinggian, cenderung berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Lah kok, suku ini makan orang?

Saturday, August 1, 2015

Menulis dan bukan

Kata pacar saya, tulisan itu mahal, emang elu diobral-obral. Saya jadi berfikir lagi tentang menulis. Saya juga jadi bertanya, mengapa saya (atau banyak orang) menulis di blog, serius ataupun tidak. Padahal dalam banyak kasus, penulis besar tidak mengobral tulisannya lewat media sosial atau platform dunia maya lainnya, yang biasanya bersifat publik. Biasanya tulisan sampingan (draft) dicatat pada jurnal, atau surat-surat yang bersifat pribadi. Saya tidak tahu, misalnya jika 30 tahun silam ada twitter, apakah karyanya akan beringsut menjadi produk recehan yang hilang enam bulan kemudian di toko buku. Sebab melempar tulisan ke publik perlu pertimbangan lebih atau proses penyesuaian, yang kadang melunturkan ke-apa-adanya-an sebuah tulisan. Maksud saya, hilangkah kejujuran tulisan karena menuruti jumlah approval di dunia maya? Banal dan pesimis, tetapi kemungkinan itu ada.

Saturday, July 11, 2015

Irex

Kalian tahu iklan obat kuat lelaki Irex yang pernah dibintangi om Damsyik?


Itu lho, om Damsyik yang pernah jadi Drakula-like di serial Cecep aka Wah Cantiknya.



Waktu kecil disekolah dasar, seperti kebanyakan anak ingusan yang belum kenal warnet dan hanya disibukkan game Harvest Moon satu jam sehari, saya dan teman-teman sering melakukan kegiatan aneh-aneh. Kegiatan ini utamanya eksperimen mencari kekuatan dalam ritus anak laki-laki. Ini akibat doktrin dragonball capur baja hitam dengan prinsip: sepanjang apapun ingusnya, yang penting lebih kuat dan lebih tangguh.

Friday, July 10, 2015

Teringat

Pernah, perjalanan itu serupa gambar bergerak, begitu mulus habis-habisan. Duduk di kereta ekonomi yang melaju di pagi hari, tiket enam ribu rupiah dari Merak ke Jakarta, hanya dua kali dalam sehari. Dengan orang-orang yang berjubel hendak mengadu nasib, ada yang duduk melantai, berdiri, juga berbagi berpangku-pangku. Sayur-mayur dan dagangan berserakan, ayam dipinggirkan agar tahinya tidak berceceran. Pintu kereta tidak tertutup, angin masuk menerpa seisi gerbong, lalu diiris pelan-pelan oleh setiap orang, hingga hembusnya menjinak pada kursi paling belakang.

Sunday, June 28, 2015

Pray

Like The Smiths sang (or plead)

so please, please, please
let me, let me, let me
let me, get what i want this time

Dear God, 
for it's Ramadhan, and they said you are closer by now,
listen well, 


Friday, June 19, 2015

Baduy


Akhirnya, Baduy. 
Ditanya mengapa harus baduy, atau mengapa bersepeda, atau mengapa harus pergi, jawabannya ini:



Berhubung puasa berarti terkurung, sementara belum lagi mencumbu aspal, jadilah ini perjalanan yaudah-yang-penting-jalan. Jenis ini kurang mengindahkan kaidah persiapan, ujungnya malapetaka di jalan. Seperti biasanya saya menggunakan sepeda gowes. 

Saturday, June 13, 2015

Sepotong

Habis, membela diri serasa mengasihani sendiri. Maaf berulang, seperti apapun itu yang berulang, membosankan, bahkan menyebalkan. Tidak bertemu, lantas merindu. Namun maaf (lagi), seribu sumpah ingin bertatap, tapi tak bohong jika dikata kelu di sejurus panca.

Wednesday, June 10, 2015