Sunday, August 19, 2012

Jangan gagap dong

1 comment :

"iya, nanti pas udah lo upload di facebook fotonya, gw tinggal mencemarkan nama lo, hahahah"
ucap gw siang itu, kedua sepupu gw saling memandang.

"Facebook? Lo masih maen facebook?"

"Lha? emang apalagi? Twitter?" Ucap gw heran.

"iyalaaaah, twitter! Sekarang facebook udah ketinggalan jaman, semua orang pake twitter! Facebook cuma buat ngetag foto!"

Gagap trend, adalah salah satu budaya yang cukup anjing yang dimiliki bangsa Indonesia. Ada yang bagus dikit, diikutin, kita ngga bilang semua hal, hanya sebagian. Namun, ketika yang sebagian itu dijadikan trend baru, mendadak semua orang punya kepentingan untuk turut serta mengikuti trend tersebut. Asli. Jangan munafik bilang engga deh.

Twitter, adalah salah satunya. 

Dulu, alasan gw beralih dari friendster ke facebook adalah kemudahan komunikasi dan coba2. Dengan semakin merajalelanya strangers di friendster dan semakin banyaknya teman2 gw yang hijrah ke facebook, meninggalkan friendster dalam debu dan tai kucing, gw pun ikutan merakit kesana. Saat itu, pengguna twitter masih dalam taraf yang normal.

Entah sejak kapan twitter menjadi sorotan publik, tempat nongkrong dan agama baru untuk mencadaskan diri di ranah internet. Gw adalah salah seorang yang gatau kapan dan bagaimananya keadaan ini dimulai, memutuskan untuk tidak bikin akun twitter, alasannya mudah : facebook udah cukup fleksibel dan reliable.

Sebenarnya, alasan lain yang membuat gue cukup segan untuk membuat akun twitter adalah fakta bahwa Indonesia menyambangi peringkat kelima pengguna twitter di seluruh dunia. 19,5 juta akun orang atau badan di Indonesia terdaftar di Twitter, sebuah angka yang luar biasa untuk negara berkembang yang angka kemiskinannya masih diatas 50%. Engga, gue ga pingin bersikap antipati untuk hal ini, justru perlu di applause untuk antusiasme Indonesia terhadap Internet, khususnya Twitter. Namun, apa yang dilihat dunia dari Tweet2 19,5 juta orang Indonesia? Well, im not Twitter user, but im sure its not often to be pretty/inspiring.

Oke, Kok bisa twitter jadi membludak gitu fansnya? Apa yang gue liat adalah: sangking gampangnya orang share ide/curhat/status/jargon di twitter, orang menemukan bahwa Twitter adalah tempat paling ideal untuk media pengeksisan diri. Tidak salah, yang salah adalah imbas bahwa semua hal harus dilakukan di Twitter.

Memang gw akui dari fleksibilitas, twitter lebih unggul ketimbang facebook. your thought on 140 character, belajar beroptimal. Namun, bukan berarti segala sesuatu harus dilakukan di twitter, termasuk organisasi  acara, sharing, chatting dan sebagainya, yang notabene perlu lebih dari 140 karakter *ngga, gue gatau fitur lain yang mungkin ada di twitter untuk memungkinkan kegiatan ini*.

Bangsa Indonesia butuh lebih dari sekedar kemampuan curhat. Apresiasi dan sharing ide itu bagus, tapi kalo ngga ada eksekusinya, ide itu cuma bakal jadi janin gagal. Jadi tai.

yayaya, gw oot lagi. Apa yang gue keluhkan disini yakni paradigma bahwa twitter adalah tongkrongan internet abad ini dan semua pengguna facebook itu orang-orang ketinggalan jaman dan cupu, sehingga apapun dilakukan di twitter. Tolong dilihat dari kebutuhan, facebook dan twitter sudah punya kualifikasinya sendiri, untuk apa dan siapa, serta bagaimana menggunakannya. Kalo anda, orang indonesia, yang katanya tau cara pake internet, cuma make twitter dan hanya twitter karena menganggap facebook ketinggalan jaman, anda patut mendapat julukan bangsa cerewet yang setengah tau, seperempat deh. 
 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design