Sunday, November 29, 2020

Mengkontemplasi Maut


Sedikitnya setiap satu jam, seseorang di Indonesia merenggut nyawanya sendiri. Artinya ada sekitar 8.765 (minimal) orang meninggal dunia akibat bunuh diri setiap tahunnya. Itu pun angka yang dilaporkan. Rapot merah ini adalah salah satu alasan mengapa perkara bunuh diri mesti dibicarakan, yang selama ini hanya meradang di balik obrolan yang berlindung pada keharusan-keharusan yang mengabaikan betapa menggodanya tawaran untuk tidur yang paripurna. 

Wednesday, October 14, 2020

Dilarang ngutang di warung sendiri

Beberapa bulan ini emosi saya naik-turun seperti jakun seorang penyanyi dangdut. Namun tidak semerdu melodi yang dihasilkan lagu dangdut, turbulensi yang sengit ini membuat kepala saya kacau. Misalnya, saya bisa bangun pagi dengan rasa sedih yang tiba-tiba, kemudian melenting gembira di malam hari, atau sebaliknya. Jika mengikutinya, saya akan larut dalam kedua ekstrim nada tersebut. Maka, sepanjang hari saya berupaya untuk meredam kedua emosi yang tajam ini sambil terus bergerak. Tentu ini memakan waktu dan stamina. Rasanya seperti berjalan di bawah hujan lebat atau kabut yang tebal. Adapun, beberapa bulan hingga sekarang pergulatan itu belum pungkas. 

Saturday, October 3, 2020

Kepala yang Ricuh


Beberapa tahun silam, seorang dosen pernah menyatakan topik penelitian yang menarik tentang Kartini. Beliau punya premis  bahwa Raden Ajeng Kartini yang kini merupakan arkitipe perempuan Indonesia, mampu membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya dan menginkubasi gerakan emansipasi wanita dengan surat legendarisnya, lantaran beliau dipingit di sebuah kamar oleh bapaknya. 

Friday, August 21, 2020

Apa yang dipikirkan seekor kucing?

 


Saya ingat dalam buku The Animal That Therefore I am, Jacques Derrida pernah bertelanjang bulat di depan seekor kucing sambil mempertanyakan hal itu. Keduanya saling menatap sejenak sebelum si teroris tekstuil itu mulai meracau tentang kapasitas intelektual seekor binatang, lantas mengantar argumen reflektif tentang kemanusiaan. Buku itu saya baca selintas, dan merupakan salah satu tulisan Derrida yang masih relatif enak dinalar.

Sialnya, sejak saat itu saya selalu terbayang Derrida bugil tiap ganti baju di depan kucing. 

Monday, August 3, 2020

Yang Dibungkus Belum Tentu Mati


Saya masih heran pada selera bestiality, tapi soal fetish bungkusan kain jarik tidak lagi mengejutkan. 

Tumbuh di lingkungan remaja yang membaca stensil sembunyi-sembunyi, sejak SMP saya sudah disuguhi konsepsi fetish. Saya masih ingat betul pertama kali mendengar ulasan teman tentang cerita dewasa a la tetangga yang ia baca di website bodong, respon lugu saya adalah: 

"Terus mereka ditangkap polisi nggak?"

Saya dulu anak baik-baik. 

Saturday, July 25, 2020

Bukan Tentang Psikopat



Salah satu film Martin McDonagh yang saya ingat dengan baik adalah Seven Psychopath (2012). Film-filmnya memang sarat tema kriminal, tetapi ia berhasil melampaui batas tema dengan cara yang menyenangkan untuk ditonton, yakni membedah isu moralitas pelaku dengan humor.

Moralitas yang saya maksud sebagai landasan sikap protagonis, cenderung dikerdilkan dalam penayangan film kriminal. Umumnya, motif pelaku kriminil berangkat dari alasan klise seperti balas dendam, mencari kekayaan, hingga yang mutakhir penebusan dosa, tetapi tidak sedikit pula judul yang mengisyaratkan sifat "sudah dari sananya". 

Pemilihan motif ini bukan masalah, tetapi jadi soal kalau hanya sekedar ornamen narasi, sehingga fokus film jatuh pada hura-hura berdarah. 

Friday, July 17, 2020

Omong-omong Menyusun Kata

Begini, saya punya dua mentor yang berpendapat tentang bagaimana dan apa yang baik dalam menulis. Salah satunya bicara bahwa “tulisan terbaik adalah yang ditulis pertama-tama dengan jujur” yang kedua berpendapat “Tulisan yang baik adalah yang dekat dengan keseharian”. Keduanya bicara hal yang sama yakni tentang mendekati hasil, tetapi bukan semata-mata tentang menulis dalam intisarinya.

Wednesday, July 8, 2020

Baduy Yang Saya Ingat


Tiba-tiba hari ini muncul kabar bahwa Baduy mengajukan surat permohonan kepada presiden untuk dicoret dari destinasi pariwisata. Artinya, kemungkinan Baduy tidak lagi membuka diri bagi pendatang, yang boleh jadi mengacu pada wilayah Baduy Dalam. Dengan demikian tidak ada lagi kunjungan seenak hati untuk trekking gembira atau vakansi semi-survival tanpa tujuan yang jelas, misalnya penelitian.

Diam-diam saya merasa senang. Ralat, saya senang sekali.

Saturday, July 4, 2020

Semak Belukar


Kata Marie Kondo, sang penasihat bersih-bersih:
"Buanglah hal-hal yang tidak membawa kebahagiaan bagimu, misalnya blog ini." 

Tadinya pikiran itu sempat terlintas saat barusan membuka blog ini. Rasanya seperti masuk ke kamar orang genit. Ramai tapi terabaikan. Spontan, mengulik layout dan melihat draft postingan. Begitu banyak dan carut-marut. Template blogspot juga tidak berubah, masih memprihatinkan seperti lima tahun silam (2015). Beberapa post ditumbuhi komentar spam judi bola dan sejenisnya. Benar-benar membuat iba. 

Kawan-kawan penggiat blog lainnya sudah melanjutkan hidup masing-masing. Beranak, berkarya, sekolah S3, atau bergeser ke wordpress. Blogspot seumpama babak hidup bagi banyak orang, seperti fase alay dan emo. Ketika yang lain sudah membeli domain murah dengan namanya untuk portfolio profesional, blog ini masih bernama sama. 

Waktu kecil saya pernah bertanya kenapa diberi nama yang tak lazim, 
Dengan bangga bapak menjawab: "Itu nama yang baik". 
Nah, sebagai pengasuh blog, jawaban saya pun sama bijaknya.    
  
Singkatnya, blog ini bukan sekedar tulisan selintas atau episode kehidupan seorang Bangkit. Dibuat tahun 2008, dia tumbuh bersama saya dan sebaliknya. Sejak mulai ikut-ikutan menulis, hingga saat ini masih ikut-ikutan. Isi tulisan blog ini memang tayang seenaknya, tetapi menandai bagaimana saya mencerna hidup dari waktu ke waktu. Isinya bergibah, menertawakan teman, dan mengulas catatan perjalanan. Walaupun lebih sedikit yang tercerna, dan sisanya dimuntahkan.  

Begitulah. 

ただいま