Thursday, December 3, 2015

Pergi



Kakek pergi jumat lalu. 20:29 WIB. Diantar banyak orang. 
Kali pertama menyaksikan seseorang merengang nyawa, jelas menjadi bekas. 
Malam itu kali pertama saya menengoknya, berencana untuk menginap jaga. Tak rejeki, kata paman saya sambil tertawa. Beliau selalu tertawa. Paman saya orang yang bahagia.

Perginya damai. Seperti senja ditelan laut. Ini sama sekali tidak berlebihan. Sebab setelah itu semua hening, tidak ada orang meraung, tidak ada drama. Kakek sendiri, bukan pecinta drama. Yang punya Anna Karenina itu eyang, sementara kakek membaca Tan Malaka. Beliau tidak memberi ucapan terakhir atau hal-hal romantis. Seperti yang berkesudahan, kakek pergi seperti beliau hidup dalam kesehariannya; tenang.

Kakek seperti tidur, tetapi perutnya tidak bergerak. Saya tahu, saya suka mengawasi kakek saat tidur.
Semua tahu, semua suka melihat kakek saat tidur.

Banyak yang saya sesalkan. Belakangan saya jarang mengobrol dengan kakek. Padahal, jika ditanya hal lampau, beliau pasti ingat. Selalu ada yang bisa dibicarakan. Utamanya perang dan jepang, pegawai negeri, dan Tan Malaka. Hingga bermain gundu bersama anak Soekarno dan menangkap capung di kampung. Selasa itu kakek masih bisa bicara, jumat pada kondisi kritis ia tak lagi bisa berkata. 

Tentu seorang kakek punya pengaruh. Kadang lebih menohok daripada sosok bapak di waktu tertentu. Apresiasi dari seorang kakek harganya lebih tinggi. Akibat jarangnya bertatap muka (dan tentu saja hirarki). Nasihatnya (terasa) lebih berisi, karena akibat yang sama. Ceritanya panjang dan berwarna. sebab usia memberi bobot pada pengalaman. Wajahnya terasa tak pernah berubah. Kakek sudah tua sejak saya lahir. Tanpa rasa berproses, saya akan mengingat satu wajah yang sama selamanya. 

Beberapa tahun belakangan kepikunan kakek memuncak. Menurut saya, rasa sayang dapat dilihat dari absennya bosan. Kakek selalu bertanya hal yang sama setiap hari. mengulang rutinitas yang sama. Eyang demikian, hal pertama di pagi hari setelah mencuci muka, beliau menyiapkan obat untuk kakek, tanpa terkecuali, dan hanya beliau yang boleh mengurus hal itu. Semua keluarga (jika berkunjung), akan menjawab pertanyaan kakek tanpa bosan, bukan atas nama sopan santun. Lalu mengobrol tentang hal terkini yang nantinya harus diulang kembali, seperti pertama kali. Maka menurut saya, tulen semua orang menyayangi kakek. 

"saya sudah kuliah, kek"

Saya ingat beberapa hal tentang kakek. Buku pemberian pertamanya Seri tokoh dunia; Isaac Newton. Lalu ensiklopedia tentang komet Halley (yang hingga kini saya ingat, 2061 akan datang kembali), lalu kumpulan soal matematika, dan kartun fisika. Beliau menelpon setiap sore setelah seri Gengish Khan tayang, membahasnya. Kedatangannya saat saya disunat. Menyarankan bapak membelikan saya motor agar mau masuk kelas IPA di SMA. Hingga hari-hari dimana beliau duduk di teras untuk membaca koran dan kegemarannya melihat container diangkut pelan di depan rumahnya. Rangkumnya, dunia sekarang damai.

Eyang bersedih sebentar. Sebelum kembali menghitung ulang biaya pengobatan. Seperti tak ada bekasnya. Semua rutinitas obat di pagi hari, berbagi jeruk di meja makan, pemeriksaan gula darah, berhenti. Namun eyang tetap bergerak. Semua seperti telah melepas. Sepupu kecil tidur di ranjang kakek. Yang cukup besar bicara melingkar. Para orangtua duduk di depan. Pembicaraan tentang kakek minimal pada batas aktual. 

Tapi hari itu rumah bolong.

Sunday, November 1, 2015

Perompak


Jika kualitas konsumsi bacaan yang beredar bisa menandai jenis ekonomi yang bekerja di suatu masyarakat, sekasarnya saya bisa bilang memang Indonesia terkesan kapitalis (sebagai orang muda, saya punya hak paripurna untuk sok emosi). Sebab, seperti kesal saya di postingan lain, buku bagus tidak terjangkau (mahal, jendral). Atau distribusinya tidak merata (jauh, jendral). Padahal butuh. Sehingga, saya hendak berbagi jalur tembus untuk membaca secara maya. (yang di Dublin pasti misuh-misuh).

Kamu perlu:
1. Menyebut nama yang maha kuasa untuk mencegah dosa.*opsional
2. Calibre dan/atau FBReader
3. Website unduh 
4. Referensi membaca

Saturday, October 10, 2015

Seize(d)



Saya pernah bertanya pada paman saya. Buat apa sholat berjamaah kalau (1) khotibnya ceramah tentang hal-hal yang berulang, atau kadang isinya mendiskreditkan agama lain (2) jemaatnya hanya datang untuk numpang berucap amin pada doa-doa imam sambil ngantuk-ngantuk. Padahal solat sendiri bisa, dan lebih khusyuk. Sebagaimana orang tua yang berbahagia, beliau menjawab bahwa beliau datang ke masjid tanpa prasangka, dan menganggap semua orang yang datang kesana niatnya baik. Karena niatnya seragam, doanya lebih khusyuk.

Saya bingung, waktu itu.

Tanpa memahami istilah zeitgeist, genius loci, maupun pengalaman ruang, paman saya menyadari betul dalam bahasa yang praktis bahwa sholat berjamaah merupakan ritual untuk mencapai kedamaian secara kolektif. Artinya, pergi ke masjid bukan untuk memperkuat doa sendiri, tetapi berpartisipasi dalam doa bersama. Doa bersama lantas menciptakan suatu atmosfir religius yang merujuk pada efek damai. Dan rumah ibadah, dirancang untuk merangkai atmosfir tersebut. Urusan kekhusyuk-an seseorang di dalam masjid bukan tugas khotib di atas mimbar, tetapi urusan yang bersangkutan untuk berserah pada ‘ruang’. Jika ada orang pulang tanpa merasa lebih baik setelah ibadah bersama, berarti dia salah menggunakan tempat ibadahnya.

Monday, September 28, 2015

Intelegensia


Hari ini saya belajar tentang berkembang. Ada 5 hal yang ditunda sejak setahun yang lalu. Diselesaikan dalam lima puluh menit hari ini. Bukan saya yang berkembang, tetapi orang yang membantu menyelesaikan 5 hal ini.

Tanpa bicara secara langsung, dia memperlihatkan bahwa intelegensia bukan diukur dari keluasan wawasan, tetapi kekokohan strukturnya. Keseimbangan tektonik suatu arsitektur diraih dari sintesis eksplorasi yang dibentuk melalui beragam cara. Hal ini, secara analogis juga berlangsung pada manusia, begitu sederhana dan fana, bahwa seorang intelektual sejatinya adalah orang yang mampu mengaminkan perbedaan saat bertanggung jawab pada ucapannya. Dahulu, saya bisa berkata sepertinya saya telah memenuhi standar ini. Namun, keluwesan seseorang pada ketertarikannya (luasnya wawasan), sekali lagi bukan intelegensia. Untungnya, saat ini saya mampu menerima fakta bahwa saya belum menjadi seorang intelektual bebas. Penundaan, yang saya harapkan menjadi jalur bebas hambatan, ternyata menjadi ruang quo yang menghentikan waktu hanya bagi saya. Ketika saya kembali, semua sudah bergerak begitu jauhnya.

Seperti ungkapan seno dalam banyak kesempatan, intelektual palsu adalah orang yang senantiasa melakukan masturbasi (secara harfiah maupun metaforis). Banyak berkata tanpa mampu berkarya, sebab fantasi atas karya dirasa sudah cukup. Mudah sekali untuk mendengar orang bilang, saya paham, dan saya bisa melakukannya. Seperti mangunwijaya yang mengatakan intelegensia adalah kesatuan dari religiositas dan ilmu diatas bumi, dualitas diantara keduanya bukan segmentasi, justru perlu dijembatani. Sebab, apakah artinya memiliki wawasan tetapi berjarak dengan diri sendiri, tak ubahnya dengan sebongkah ember yang membendung susu.


Saya menyadari, sesimpang siur itu tulisan saya, menggambarkan fragmen-fragmen yang belum dijembatani, belum melalui proses tracing, sehingga belum memiliki bentuk yang dapat diidentifikasi. Begitulah, sebab sesal adalah sebentuk pembenaran, saya rasa akan jauh lebih baik jika proses pasca mencerna dilanjutkan dengan berkarya. Sebab saya merasa telah terlalu lama bermasturbasi.

Sunday, September 6, 2015

Naik dan turun


Ecstatic. Tulisan itu bagus kalo baper. Melihat kebelakang tidak terkekang, atau jika sekarang sedang menyenangkan. Kemarin menjadi baik karena ada yang baru: 1. Papua 2. Borges 3. Sufjan Stevens.

Tadinya saya ingin gembar gembor tentang merasa bahagia. Tentang borges dan sintesis dongeng, tentang sufjan stevens dan rasa damai, dan tentu saja papua. Rasanya, hal ini menjadi demikian sepele.

Ecstatic menjadi melankolis, saat sadar kebahagiaan pribadi sangat berjarak dengan orang lain. Untuk Aqil, yang sedang berjarak dengan bahagia, saya harap damai ada di belokan jalan. Saya akan lancang bila bicara tentang simpati. Namun saya tahu, saya sungguh berharap anda baik-baik saja.

Saya rasa ini kebetulan, tetapi tadi siang ada Aga yang datang membawa referensi musik. Tentang situasi, (mungkin) ini berkorelasi. Bisa ditilik, atau tidak perlu sama sekali, yang penting semoga beresonansi.

Death With Dignity
Sufjan Stevens

Spirit of my silence I can hear you
But I’m afraid to be near you
And I don’t know where to begin
And I don’t know where to begin

Somewhere in the desert there’s a forest
And an acre before us
But I don’t know where to begin
But I don’t know where to begin
Again I've lost my strength completely, oh be near me
Tired old mare with the wind in your hair

Amethyst and flowers on the table, is it real or a fable?
Well I suppose a friend is a friend
And we all know how this will end

Chimney swift that finds me, be my keeper
Silhouette of the cedar
What is that song you sing for the dead?
What is that song you sing for the dead?
I see the signal searchlight strike me in the window of my room
Well I got nothing to prove
Well I got nothing to prove

I forgive you, mother, I can hear you
And I long to be near you
But every road leads to an end
Yes every road leads to an end
Your apparition passes through me in the willows
Five red hens – you’ll never see us again
You’ll never see us again



Jika justru salah interpretasi dan bikin emosi, mari saling menemui. yang penting (kita) bisa mengurangi jarak. Empat tahun itu lama sekali sob.

Thursday, September 3, 2015

Papua, banyak cerita

Pulang dari papua, rasanya lapar. Masih banyak hal yang bisa didulang, tetapi apa mau dikata, waktu dan tenaga sudah habis nyaris tak bersisa. Papua selatan, kabupaten bovendigul, yang kami jajaki selama 21 hari menyimpan banyak cerita. Langit, hutan, sungai, kampung, dusun, merupakan formula perjalanan wajib untuk mencapai kampung Yafufla (kecuali anda punya helikopter), tempat bermukimnya sebagian marga dari suku korowai yang tengah menunggu pembangunan. Sementara sisanya yang masih berpegang teguh pada adat, masih bertinggal di dusun yang tersebar di belantara papua selatan. Alhasil, dapat dikatakan kami mengambil data turunan yang berasal dari lisan para tetua dusun yang pindah ke kampung ini. (kampung: areal terencana untuk bertinggal terbuka di pinggir hutan. Dusun: pemukiman komunal di dalam hutan)

Suku Korowai yang bertinggal diatas pohon punya alasan berbasis rasa takut untuk mengamankan diri dari pertikaian dan perang serta swanggi (kematian/penyakit yang tidak dipahami). Awalnya, saya pikir keinginan mereka untuk mengelevasi diri merupakan bentuk penghambaan pada Tuhan. Terbentur kenyataan, saya tutup mulut. Ini menjawab kegalauan saya saat memasuki rimba papua. Gaston bachelard bilang bahwa attic (highest point of house) in contrast with cellar (signifying irrational thought) represent tranquility and imagination, roughly saying semakin tinggi posisi seseorang dalam rumah, semakin damai/rasional lah penghuninya (ada nook, light, dan conforting silence). Juga melihat preseden dari rumah bertema ketinggian, cenderung berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Lah kok, suku ini makan orang?

Saturday, August 1, 2015

Menulis dan bukan

Kata pacar saya, tulisan itu mahal, emang elu diobral-obral. Saya jadi berfikir lagi tentang menulis. Saya juga jadi bertanya, mengapa saya (atau banyak orang) menulis di blog, serius ataupun tidak. Padahal dalam banyak kasus, penulis besar tidak mengobral tulisannya lewat media sosial atau platform dunia maya lainnya, yang biasanya bersifat publik. Biasanya tulisan sampingan (draft) dicatat pada jurnal, atau surat-surat yang bersifat pribadi. Saya tidak tahu, misalnya jika 30 tahun silam ada twitter, apakah karyanya akan beringsut menjadi produk recehan yang hilang enam bulan kemudian di toko buku. Sebab melempar tulisan ke publik perlu pertimbangan lebih atau proses penyesuaian, yang kadang melunturkan ke-apa-adanya-an sebuah tulisan. Maksud saya, hilangkah kejujuran tulisan karena menuruti jumlah approval di dunia maya? Banal dan pesimis, tetapi kemungkinan itu ada.

Saturday, July 11, 2015

Irex

Kalian tahu iklan obat kuat lelaki Irex yang pernah dibintangi om Damsyik?


Itu lho, om Damsyik yang pernah jadi Drakula-like di serial Cecep aka Wah Cantiknya.



Waktu kecil disekolah dasar, seperti kebanyakan anak ingusan yang belum kenal warnet dan hanya disibukkan game Harvest Moon satu jam sehari, saya dan teman-teman sering melakukan kegiatan aneh-aneh. Kegiatan ini utamanya eksperimen mencari kekuatan dalam ritus anak laki-laki. Ini akibat doktrin dragonball capur baja hitam dengan prinsip: sepanjang apapun ingusnya, yang penting lebih kuat dan lebih tangguh.

Friday, July 10, 2015

Teringat

Pernah, perjalanan itu serupa gambar bergerak, begitu mulus habis-habisan. Duduk di kereta ekonomi yang melaju di pagi hari, tiket enam ribu rupiah dari Merak ke Jakarta, hanya dua kali dalam sehari. Dengan orang-orang yang berjubel hendak mengadu nasib, ada yang duduk melantai, berdiri, juga berbagi berpangku-pangku. Sayur-mayur dan dagangan berserakan, ayam dipinggirkan agar tahinya tidak berceceran. Pintu kereta tidak tertutup, angin masuk menerpa seisi gerbong, lalu diiris pelan-pelan oleh setiap orang, hingga hembusnya menjinak pada kursi paling belakang.

Sunday, June 28, 2015

Pray

Like The Smiths sang (or plead)

so please, please, please
let me, let me, let me
let me, get what i want this time

Dear God, 
for it's Ramadhan, and they said you are closer by now,
listen well, 


Friday, June 19, 2015

Baduy


Akhirnya, Baduy. 
Ditanya mengapa harus baduy, atau mengapa bersepeda, atau mengapa harus pergi, jawabannya ini:



Berhubung puasa berarti terkurung, sementara belum lagi mencumbu aspal, jadilah ini perjalanan yaudah-yang-penting-jalan. Jenis ini kurang mengindahkan kaidah persiapan, ujungnya malapetaka di jalan. Seperti biasanya saya menggunakan sepeda gowes. 

Saturday, June 13, 2015

Sepotong

Habis, membela diri serasa mengasihani sendiri. Maaf berulang, seperti apapun itu yang berulang, membosankan, bahkan menyebalkan. Tidak bertemu, lantas merindu. Namun maaf (lagi), seribu sumpah ingin bertatap, tapi tak bohong jika dikata kelu di sejurus panca.

Wednesday, June 10, 2015

Monday, April 27, 2015

Tolong

TOLOOOOOOOOOOOOOONG!

Teriakan itu melayang jauh menuju sebuah pasar kecil di pengkolan jalan depan pabrik roti dan sekolah dasar. Suaranya tercecer dan serpihannya merambat ke telinga seorang pencacah daging yang sedang mengiris ayam kecil-kecil untuk dibungkus dengan plastik hitam.

“lho suara siapa itu?” 

Wednesday, April 22, 2015

Kuntoyo

Kuntoyo. Bukan kuntowijoyo. Bukan Kunti makarti.
Aku ingat pasca ia merengang nyawa. Sudah berbalut batik motif megamendung dan merentang pelak gagal meneruskan hari. Diciprat-ciprat airmata dan doa. Ia diam sempurna. Menunggu entah apalagi.

Sialan, pikirku. Sial betul ongkos terbuang hanya menyaksikan ia hendak dibopong kedalam mobil jenazah.

Sunday, April 19, 2015

Somehow

Bokap bilang hidupnya dulu kayak layangan tewang sebelum punya bini dan anak.

*ditempeleng bokap*

Intinya bokap pernah ngomongin hidup yang bersia-sia. Sebelum menemukan tujuan dari berkeluarga. 

"Most people struggle with purpose, the rest struggling with themselves. Sometimes, people justified their obssesive act as meaning for bigger purpose, rather than acknowledging that they are pretty much confused." -kata bokap dalam bahasa betawi.

Saturday, April 11, 2015

Orang Gila

Ada orang gila duduk di depan mini market. Mini market sebelah indomaret.

Bajunya kemeja belel, pantatnya diatas sandal, lututnya dibawah dagu, rambutnya menjuntai mesra dengan garukan konstan di pipi.

Setiap dia mendengar orang menyalak, memaki, menghina, ia akan mengulangi kata tersebut. Lalu mengikik. Ia mengingatkanku pada jelma The Raven dalam puisi Poe.

Seorang bocah tidak sengaja menjatuhkan helm milik tukang ojek yang lantas memaki si bocah dengan sebutan tolol. Si bocah melengos pergi.
kata tolol terucap kembali oleh si orang gila, tapi wajahnya berkiblat pada pengucap pertama.
Lalu, he dan he.

Saturday, April 4, 2015

Pembelaan

Buku itu mahal. Buku bagus apalagi.
Hal ini menyebabkan sulitnya membaca, sebab membaca jadi butuh biaya.

Setelah mulai rajin membaca, saya ke toko buku dengan maksud yang baik. Melihat harga buku yang setara dengan ongkos makan seminggu lebih, saya jadi jengah. Padahal buku itu kembali diterbitkan melihat atensi pasar yang tiba-tiba muncul hanya karena sesosok role-model sempat menyipratkan judulnya. Keparatnya, judul yang disebutkan harganya melonjak menjadi lebih tinggi ketimbang sebelumnya. Jika hal ini menyangkut teori umum ekonomi tentang product and demand dimana untuk menyeimbangkan permintaan maka harga dinaikan, maka menurut saya ini omong kosong. Sebab, persebaran sebuah buku sebagai entitas pengetahuan jauh lebih mudah ketimbang sebungkus nasi atau sekilo cabai. 

Ditambah dengan cover art yang diganti "lebih menarik" atau lebih dikenal oleh pasar (Contoh, film adaptasinya), pengantar si-anu, komentar si-anu, atau jenis hard cover dan kertasnya. Bagi saya, karakter si buku di masyarakat juga dicerminkan oleh muka dan tempelan sana-sininya. Jika buku banyak ditemploki ini dan itu yang baru, maka ia telah melewati proses seleksi pasar menjadi buku pasaran, dari canon menjadi mainsteram, dari bekas banned menjadi produk kapitalis, dari wajib menjadi umum(ini baik). Ini interpretasi rapuh akibat kzl habis-habisan, dan ini urusan yang berbeda. 

Kalaupun hendak membaca di perpustakaan, hal yang harus dibayar adalah waktu dan tenaga, dan belum tentu perpustakaan menyediakan bacaan yang dibutuhkan/diinginkan. Dan lagi perpustakaan tidak mengizinkan pengunjungnya membaca hanya menggunakan kolor dan singlet seperti saya atas dasar kenyamanan. Dan lagi, perpustakaan bisa tutup, tidak seperti rental PS yang bisa nambah waktu bermain. Kebetulan perpus yang saya datangi tidak mengizinkan koleksinya dibawa pulang. Ah.

Meminjam teman diluar pertanyaan. Ada konsekuensi yang bisa melibatkan darah dan air mata jika halaman buku terkena kuah soto, atau terlipat, atau kekuningan. Paling sedikit hilangnya rasa percaya untuk (di/me)meminjam(kan). Lagipula, menemukan buku yang baik diantara suatu komunitas terbilang sulit, kebanyakan juga orang-orang mengalami nasib dipinjam dan dilupakan terhadap buku-buku kesayangannya, sisanya cukup segan. Sebab itu, saya jadi jarang meminjam. Selain saya suka lupa mengembalikan, saya juga sering lupa meminta kembali. Kadang-kadang saya malah meminjamkan buku orang lain. Maaf.

Sebab itu, saya mulai mengumpulkan ebook dari buku-buku yang hendak saya baca, walaupun membaca di ebook lebih rawan jenuh ketimbang lewat buku kertas. Tidak bisa membaca di wc, stasiun, dan tempat-tempat tanpa charger. Mata cepat lelah, punggung cepat pegal, tidak ada aroma kertas yang menawan, tidak ada ritual lipat buku dan menjilat jari untuk mengganti halaman, tidak ada suara kertas mengibas. Padahal, menurut saya ritual tersebut masuk dalam proses penghayatan untuk menyatukan diri dengan dunia buku, therefore; enhance understanding power. Bisa dibilang argumen saya ini lantaran alasan malas atau belum terbiasa, tapi pada akhirnya kegiatan ini bukan kegiatan yang sehat. Apalagi menyenangkan. Ah.

*Dan laptop tidak bisa seenaknya dilempar ketika kita kesal membaca buku yang ternyata menyebalkan.

Jika buku itu dirasa melelahkan untuk dibaca karena tebal halamannya dapat digunakan untuk menghantam orang hingga pingsan, maka saya mencetaknya sendiri, atau membeli versi bajakannya di pasar loakan. Tentu, dengan segala perasaan berdosa sejadi-jadinya, apalagi jika buku itu memang bagus. Jadi teman saya harusnya mengerti, mengapa saya begitu jumawa saat menemukan buku baik asli dengan harga super miring di toko loakan.

Namun apa boleh buat. Sehingga, paling sedikit yang bisa saya lakukan adalah tidak meminjamkan buku cetak-bajak ini kepada orang lain (jika lupa tidak bertandang). Pembelaannya adalah saya sedang 'meminjam' untuk membaca sendiri, dan bilamana memang buku itu menyentuh, pastilah saya beli yang asli.

Nanti.

Ah. Kontol.

Tuesday, March 31, 2015

Bahagia

Apalah artinya bahagia. Ba-ha-gi-ya, yang lantas ditasbihkan kawula muda sebagai lambang dari pertemuan dengan diri sendiri atau diri yang juga tadinya sendiri, -baik sama maupun lawan jenis. Adalah artinya bahagia, hari ini, bagiku, yang sesederhana, ketika seorang renta yang setiap pagi lupa diri dan dunia bahkan sesederhana melupakan usia serta kerap mempertanyakan kebersudahan sarapannya pagi itu, lantas memintaku untuk mematikan lampu kamar ketika aku menjaganya dari tidur siang tiap jamnya dan semerta ia berkata, "tapi kamu nanti ngga bisa mbaca, dong?"

Aku merasa menjadi lelaki yang dipandang dunia -seketika, sebab ia melupakan dunia, tapi mengingatku, mengingat bahwa aku cucunya, dan aku sedang membaca. Lantas aku menyata, "aman kek, pake laptop." 

kakekku lupa dunia, tapi kakekku ingat aku membaca. Bagiku itu bahagia, walaupun hanya setengah jam, sebelum kakek kembali bertanya,"siapa itu duduk disana?"

Monday, March 23, 2015

The Art of Bikepacking


Bikepacking adalah anak haram dari kawin silang antara backpacking dan cycling. Hasilnya yaitu suatu kegiatan bepergian ke suatu tempat dengan strategi backpacker dan alat transportasi sepeda. Tentu orang berkerut dahi membayangkan bagaimana backpacker, -yang selalu membawa carrier sebesar kulkas kemana-mana-, menjadi lebih sinting lagi dengan menggenjot sepeda sambil membawa kulkas kemana-mana. Agaknya memang kegiatan ini mirip dengan gejala masokisme atau kesenangan menyakiti diri sendiri.


Bikepacking sebenarnya sudah lazim, saat ini tercatat banyak orang yang mengabdikan betisnya liat-membulat akibat memutar pedal sepeda demi melintasi sumbu dunia. Saya tidak bercanda. Ada orang Jepang yang cukup sinting untuk berangkat mengelilingi dunia dengan total uang dikantong $3 dan sepeda butut, namanya Keiichi Iwasaki (Setelah sholat wajib, biasanya saya menyembah dia). Ada lagi orang bogor yang salah belok hingga ke mongolia dan cina. Orang bogor ini asli dan hafal pancasila. Ada juga lelaki paruh baya yang mengelilingi Indonesia dengan sepeda kumbang, juga orang bogor lainnya yang ikut serta menyambangi sabang-marauke dalam duet yang penuh romansa selama 2 tahun, namanya Cliff Damora. 

Saturday, March 14, 2015

Asap, Api, dan Kebenaran


Demi janggut merlin, apa gerangan yang terjadi?

Kronologi peristiwa ini sebenarnya sederhana. Ada suatu ruang di dalam Fakultas Teknik yang aturan rokoknya masih abu-abu (tak jelas haram/halal untuk merokok). Lantas seseorang yang merasa benar merekam kegiatan merokok disana dan menyebarluaskannya di jejaring sosial. Mushab salah satu yang ikut menyebarkan (disamping puluhan anak lainnya). Alhasil, dengan pertimbangan pilihan yang hanya diketahui Tuhan dan pihak mediator, Mushablah yang melakukan klarifikasi internal tentang penyebarluasan foto sakral tersebut. Ini buntutnya.

Sebelum tuduhan dimuntahkan, biar saya klarifikasi. Mushab teman saya, dan sejujurnya saya memang merasakan ketimpangan melihat buntut yang seperti ini. Mushab memang agak hitam dan berjanggut, tapi tidak semata-mata saya menganggapnya kambing hitam. Walaupun bermula dari rasa yang subjektif, saya akan betul-betul coba untuk mengkaji secara objektif persoalan ini.

Thursday, March 12, 2015

Teman Saya Ini


Sebenarnya zaman testimonian temen ini sudah lewat sejak smp. Berhubung saya kesal tidak dapat hadir dalam ritual jumput telur, saya coba permalukan saja teman saya ini disini.

Saya kenal orang ini waktu ulang tahun irwin. Dia menghadiahi si imbisil sebungkus mild yang digangbang malam itu juga hingga melompong. Bicara punya bicara, selera film kita sama (yang biru beda), selera bukunya menarik, dan mudah diajak bicara hal-hal yang mengangkasa. Bedanya dia lebih rajin mandi. Ya saya kan cinta lingkungan dan aktivis penghematan air.

Teman saya ini, awalnya lebih mudah dijelaskan indikasi karakternya melalui kawin silang kata ‘tidak’ dan sifat buruk. Dia tidak bajingan, tidak pamer, tidak sombong, tidak norak, tidak pelit, tidak malas, tidak cabul (tentatif), tidak nimbun rokok, yang paling penting, tidak ikut-ikutan.

Belakangan saya tahu kualitas tanpa ‘tidak’ yang ia miliki. Mampu mengapresiasi suatu seni. Nah, kemampuan ini mewah, jika seseorang berkata film ini bagus, seru, dahsyat, maka ia berbasis percaya. Teman saya akan berkata bahwa film ini baik, karena (alasan). Bukti apresiatif ini terlihat dari kualitas foto Instagramnya. Aspek lain banyak, tapi tidak saya tulis karena tujuan dari tulisan ini mencoba mempermalukan teman saya (rasanya mulai gagal).

Friday, March 6, 2015

Malboro Merah

kulihat jejak malboro merahmu
dan sadar bahasa kita sama
bicara dengan teks dan meracau dalam bahasa
yang sepadan, teratur dan tidak terselip
namun kamu dan aku tahu,
atau barangkali aku yang pura-pura tahu
riuh rendah jargon pasar tidak menolong
melolong seenaknya dalam rancu yang menggoda
melipirkan makna tapi tak meruntuh jarak

diam dalam ucapan dan juga isyarat
derrida tertawa, menyatakan ia benar
tanda dan penanda selalu berjarak
dan tidak ada arti yang semestinya
walaupun kau terus coba untuk tebak

akhirnya kita tidak bicara atau berisyarat
asapnya habis dan titikmu terbubuh
jarak melebar lantas tidak bertemu
mata mungkin bersilang tapi
seperti strauss berujar, oposisi binari
tidak ada kesetaraan dalam hal yang serupa
kita hanya hiasan dalam ruang
tidak dapat bertemu, karena nanti ruang batal menjadi
racau saja terus, karena yang serupa tidak kawin

mungkin nanti, lain waktu, jika keduanya salah
toh keduanya sudah busuk dibawah tanah
mungkin nanti kau bubuh lagi koma hingga lelah
dan aku merancu dengan kata dan tanah
lantas nanti, mereka dengar tawa kita pongah
diatas sebungkus malboro merah

The Site


Begini, karena baru membaca chuck saya jadi tertarik untuk membuat cerpen yang berkenaan dengan dark side manusia. platform yang saya gunakan adalah omegle. Tadinya, saya hendak membuat tulisan absurd tentang omegle dan hubungannya dengan espektasi utopis. Tak kunjung rampung, amburadul, saya coba pendekatan lain. Intinya saya ingin menegaskan potensi negatif dari omegle, ada yang bilang dramatis, tetapi saya tahu kasus-kasus yang benar-benar terjadi akibat situs ini.


The Site

The night still young. Its time to get to work.
You might think that im going to take night hospital shift, or going to bar, or studying for exam, but no.

I logged myself into most contemporary ‘legitimated’ site for talking to stranger.
You know what it is called. We know exactly why its so cheap place. Soft sexual predator around, bored people, innocent kids searching for friend ends up with pedophile, desperate and unemployed person trying to make sense their life by talking to someone they wouldn’t meet for the rest of their life, and yet people who trying to help another person to fulfill their own insignificant role in game of life.

Site: Talk to stranger!
(read: we dont care what sick fuck you guys talking about)

Monday, March 2, 2015

Malu tiga kali


                Senja ini (dalam ukuran mahasiswa Arsitektur), seperti biasa kala berkesempatan, saya duduk besama dua teman untuk membicarakan banyak hal. Hal-hal ini menurut ukuran umum disebut omong kosong, karena resultannya nol. Ritual bicara ini tidak memiliki orientasi dan protokol layaknya rapat pembinaan, dan kami setuju bahwa apa yang kami bicarakan hanyalah manifestasi primodial dari semangat pemuda kemarin sore untuk beringsut dengan galau. Kami setuju bahwa ada orang yang mengisi kepemudaannya dengan semangat kritisisme, yang disebut non-conformist, dan ada yang mengisinya dengan sikap disiplin dari struktur yang mengaturnya atau conformist. Pengecapan non-conformist bahkan tampak mewah bagi kami, yang masih tidak tahu dimana kaki dan kepala sendiri saat bangun tidur. Ini malu nomor satu.
                Sehingga, apa-apa yang terucap adalah sekaligus asap dan api. Asap yang mewujud ketidakpahaman dan api yang muncul dari keingintahuan. Kopi herbal Nugi, (yang saya acungi jempol) mendorong mulut untuk bicara. Bicara, dan bicara. Ada yang penting dan tidak penting, lalu dipentingkan sebab kami tidak yakin hal tersebut tidak penting atas nama relevansi keseharian. Intensitas bicara yang semakin banyak mungkin tidak menyuarakan jumlah kebenaran, tapi malah menampakan jumlah pertanyaan. Sehingga kami sadar bahwa kami lebih banyak tidak tahu. Ini malu nomor dua.
                Menjelang pagi (dalam ukuran pelolong adzan subuh) kami masih dalam pengaruh kopi yang meracuni nadi. Kopi telah tandas dan ampasnya mengerak. Berbarengan dengan munculnya suara kereta, layu corong masjid menyair lirih, dan gonggongan anjing yang terbangun karena orang mulai lalu-lalang, setitik rasanya ada iman yang tumbuh tentang sikap terhadap kegamangan. Jawabannya sederhana, mengurangi gamang dengan berbuat dan bergerak. Ini jelas, empiris, dan faktual. Dengan kata lain, klise. Jawabannya hadir lebih lama daripada waktu jamu sidomuncul baru berdiri. Ini malu nomor tiga.

                Ketiga jenis kemaluan ini terjadi dari waktu ke waktu, saat saya duduk disini dan pulang dari tebet untuk berpindah ke kamar Irwin. Namun saya suka, sebab saya menyadari, ada beberapa hal progresif yang paling tidak terjadi menurut keyakinan; 1. Ketidaktahuan kami mulai tersusun 2.Ketidaktahuan kami mulai berbalas 3. Keingintahuan kami bertambah. Sore sudah hilang direbut pagi, tidak banyak yang terjawab, tapi tidak ada penyesalan, karena kami bukan anggota parlemen, atau peserta diskursus politik, atau forum aktivis, atau penanggung jawab pembinaan mahasiswa baru. Tersesat dan kembali tapi tak lantas lupa, segitu sederhana, segitu romantis, dan segitu berkesan, lantas malu menjadi sepadan.

Thursday, February 26, 2015

About good things that happens in the world


Hari itu pagi yang hangat. Matahari masih tertutup gedung baru yang menghalangi sisi timur kamar kosan. Saya sedang duduk melanglangbuana di dunia maya, lalu menemukan gif ini di 9gag. Menyirat senyum sejenak, tetapi ketika mengetahui cerita dibalik cuplikan tersebut, saya hampir menangis. 




Jayden was 5 years old when diagnosed with 4 state of brain tumor. His father, Mike, a professional parkour atlet, giving surprise for him by dressed as Spiderman, Jayden favourite hero, on his last birthday. He raised a fund in order to pay his oldest son's medical cost. Jayden passed away in 2014. 


Saturday, February 21, 2015

Kosong tak kosong


Ada hal menarik dalam perkuliahan semester ini. Gelombang terakhir dari ulah kemarin sore membawa saya turun angkatan. Wajah baru dengan materi sama.

Saya baru mengetahui bahwa social maintaining adalah mandat ketika kita berada di suatu lingkar pertemanan. Sehingga saya tidak menyadari hampir sepertiga waktu saya di studio habis untuk berinteraksi. Baik berdiskusi, beramah-tamah, atau membuang waktu. Umumnya diketahui sebagai hal yang bersifat opsional. Namun kenyataannya, untuk mendapatkan pengakuan dalam suatu suku, seseorang harus membuktikan dirinya dalam bersikap, hal paling sederhana tentu menggaet teman dan menjaga hubungan itu dengan seminimal mungkin berbasa-basi.

Ada fokusan yang berbeda dalam menjalani perkuliahan di pagi baru ini. Terlebih meniadakan ekspektasi dan melejit dengan eksplorasi. Harapannya sederhana, produk yang sejalan dengan keyakinan memahami suatu pengetahuan. Hal ini absen bagi saya di perkuliahan sebelumnya, dan sekarang sudah muncul bibitnya. Imbasnya, saya jadi paham, keseganan adalah tameng untuk meminimalisir social maintaining dalam lingkar. Orang yang segan cenderung menjaga status quo dalam hubungannya. Ini menjadi penting karena status qou tidak mengurangi derajat keakraban seseorang (terlepas seberapa bapernya seseorang). Biasanya ini dicapai bila sudah lama saling mengenal. Namun jalan lainnya adalah dengan menyandang suatu label kontras, maka status quo ini juga dapat terjadi.

Saya tidak tahu dan tidak ambil pusing tentang label tersebut. Utamanya saya cukup bersyukur tidak memiliki kewajiban umum dalam interaksi sosial, yang saat ini terbatas pada tataran menjadi pendengar pasif. Ketika giliran saya yang membutuhkan interaksi sosial, skema pemenuhannya sudah tersedia, siapa dan untuk apa. Saya bisa mereduksi sepertiga waktu yang hilang menjadi sepertujuh, dan banyak yang dapat dilakukan pada semester ini. Harapannya besar (tentu), agar kali ini saya bisa betul-betul bersenggama dengan Arsitektur.


Saturday, January 3, 2015

Tahun Baru kemarin malam


Sejatinya dalam prinsip fenomenologi (sebagai metode mengkaji proses pemahaman sebuah fenomena), sebuah fenomena diibaratkan sebagai mahluk. Sebab ia memiliki sifat menampakan diri secara aktif dan objektif. Subjek adalah penerima penampakan dan mengakumulasi sendiri arti dari fenomena tersebut melalui intensionalitas dan noema. Artinya disini yang perlu digarisbawahi adalah perbedaan tampak (subjektivitas pencerna) dan menampak (objektivitas fenomena).

Malam tahun baru adalah malam yang disetujui lebih banyak orang sebagai suatu pergantian tertentu dari lintas waktu. Ini saat dimana semua orang, dari beragam agama dan pemahaman, sadar dalam kesetujuan bahwa “oh, bumi kita sudah sekali lagi mengeliling matahari ya, kita menua bersama”

Dalam suatu titik pergantian waktu, penyikapannya bisa bermacam-macam. Yang paling umum adalah selebrasi. Beberapa orang melakukan intimasi. Ada yang menyendiri. Dan sisanya bunuh diri. Kesadaran tentang pergantian waktu bebas dari repetisi, sebab ia adalah titik untuk melakukan evaluasi.

Semangat selebrasi bisa diikutsertakan dalam ranah evaluasi, berapa banyak hiruk pikuk yang nampak tahun ini? siapa saja yang tidak hadir? apa saja yang berbeda dari yang hadir? Siapa yang tertinggal? Fenomena tahun baru menampak dari setiap subjek yang larut dalam selebrasi, berhubung intensionalitasnya adalah bersyukur dalam hura dan gelora, kesimpulan fenomenanya berujung pada ‘tahun ini kurang lebih sama ramai, sama macet, dan sama bising, syukur masih hidup’.

Enak, tapi sayang.

Lain jalan lain bangkai tikusnya, para penghamba intimasi melihat kebelakang dan mengorek kembali apa yang salah dan apa yang bisa lebih benar melalui mantra ‘seharusnya’. Ini juga evaluasi. Intensionalitasnya dimulai dari ‘saya kemarin’, sehingga ujungnya adalah ‘tahun ini harusnya banyak yang bisa saya lakukan’.

Nggak enak, dan sayang.

Seharusnya? Baik selebrasi haha-hihi maupun intimasi dua-duanya ikut merayakan pergantian waktu dengan mengundang fenomena yang sebenarnya. Fenomena kebertumbuhan. Dengan menyadari kebertumbuhan, kita tidak hanya merayakan keberhasilan bertahan hidup ataupun mengulik setahun yang sepahit kopi tanpa gula, tetapi juga sadar bahwa kemarin dan besok tidak boleh dibelah duren. Siap menghadapi besok berasal dari keinsyafan kemarin. Dan menerima kemarin dihasilkan dari kemauan bertemu besok. Keduanya kawin menjadi sekarang, di titik ini. Bukan semalam ketika tahun baru, atau tahun depannya, tahun baru islam, atau tahun baru nasrani. Intensionalitasnya dimulai dari ‘sekarang’, maka ujungnya adalah ‘saya bertumbuh, dan saya bahagia’.


Tanjung Priok, 1 Januari 2015