Thursday, November 17, 2016

On behalf of the Assholes

No comments :



Some people, whose less capable of doing anything more than marching, desperately trying to preserve their way of life on 4th november. The problem is, this "some people" consist more than hundred thousands of people. Which is makes it kinda big deal and shed an ilussion of truth. One intersting definition of a cult is, a misplaced or excessive admiration for a particular person or thing. Which is suprisingly fit this situation. 

For some reason, a high profile governor candidate was tongue-slipped because his daring personality. Before you can say hocus pocus, a league of narrow minded people was offended. Like victorian revolution, flyers was distributed. Many people agreed that this infidel, need to be punish. And how humble they are, just to file a lawsuit on him in rather than public beheading. 

A simple apology was not enough. 

Clearly, this became an opportunity for some figure in political domain. Second and most important, this is a perfect sample of ad hominem argument. 

It is chaotic, albeit the mass was titled peace marching. Many people became confused, felt the need to place themself on certain side. Involved person is currently under arrest for unsophisticated mistake. Most mass participant, is now probably, believe that they have this unearned power over rules, that most likely can be applied again in near future depending on how court result turn out soon.

On surface, their focal point is to sustain sacred value of Quran, for a stain in the name of God means their cage being rattled. It is understandable, yet being done in corny expression. One person that I used to admire, write an article about right of marching, that we are more civilized than ever and right to express opinion is now more accessible. Yet, he lay aside later impact that follows: 1. Encourage "faith before law" perspective and 2. warming same hate engines. Which is not worthy enough if you asked me. 

Faith before law or hjacked democracy, was an subtle arsenal that runs the engine of 65 genocide. Likewise on 98, and numbers of minor event that follows. I do not need to explain more. 

On race hate, try to look on personal reaction. My friend is a Tionghoan, she was angry and scared, fortunately not to the level of being militant. But still, everything in big scale such as this mass, always able to shake your view about something, be it temproary or permanent. 

Tionghoan were reside around for about 500 years, make profit from their diplomatic skill with colonist (Onghokham; 1991). Yet, their success was seen as threat that still burning through for generation, like a jelousy of older brother. Little we know, Chinese people has its share of suffering history. On old west (circa 1860), they were used as labour with minimum wage. Many died as slave, they were inferior race. Yet, our (most natives) insecure thoughts saw them as marginal race that acceptable to be called cina rather than our shared brother.

I do not give a fuck of how opportunist they might be, I condem situation where people hate others because they cannot accomplish similar achievement.

Kyai Hj. Abdularham Wahid, the 4th Presiden of Indonesia, write a book about God, that Its power does not need to be defended. God itself is supreme entity by essence. To defend God, is now depend on how crucial the opposite threat is, which is simply hegemony discourse where we actually never lost our individual position. Later on 1993, A novel was written by Danarto with title Asmaraloka, consist of same theme. But unfortunatelly, book was not enough. Apparently, blood or a martyr must be sacrificed while we deny to see true problem, that this is not that crucial. 

How is this not crucial? Back to my early statement, this is mere ad hominem case. We simply overlook many religious-mocking related cases that being done by several figure. Especially inside Islam community itself, for example

In comparation with brexit or USA election, this probably seen as ridiculous spectacle. But the motive is just the same, people are hard to share and tolerate. Today awarness probably raised, less people give a damn about impractical form of protest. But history proved that existence of assholes is being needed, as a reminder that human always in catharsis. 

Thursday, October 13, 2016

Vonnegut: Satire dan Arsitektur dalam Fiksi Ilmiah

No comments :

dimuat di ultrastardust
            Kurt Vonnegut Jr. adalah seorang penulis Amerika yang berkutat pada aliran fiksi sains karena suatu ketidaksengajaan. Konon, ia menyadari bahwa dirinya menulis fiksi sains setelah mendapat kritik sebagai penulis yang menjanjikan dalam aliran itu. Alasan kedua, ia menggunakan aliran itu untuk “menyulap” suatu cerita tanpa perlu penjelasan yang presisi dengan tetap mempertahankan sifat masuk akalnya. Setelah menjadi saksi mata dari blunder terbesar tentara sekutu pada pengeboman Dresden 1943, Ia mulai menggunakan kacamata satire sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap trauma. Belakangan, yang bersangkutan dianggap sebagai bapak humanisme Amerika dan memperjuangkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk komedi satire.

            Karya besar Vonnegut, Slaughterhouse V; or Children of Crusade (1960), dikenal sebagai tulisan cult. Nama Vonnegut sebagai penulis luar dikenal di Indonesia melalui novelTimequake (1997) yang diterjemahkan oleh T. Hermaya dan diterbitkan tahun 2001. Memang dalam nilai relevansi, Vonnegut tidak menawarkan banyak selain satire nasionalis Amerika dan slogan anti-perang yang sebenarnya berakar dari pengalaman pribadi penulis. Ditambah pilihannya untuk menggunakan tema fiksi-ilmiah semakin sukar untuk diterima, apalagi di negeri yang tengah merayakan nostalgia etnosentris, agama, dan gender. Di Indonesia sendiri ada nama Joko Lelono sebagai penulis yang menggunakan genre fiksi ilmiah. Fiksi ilmiah, pada tempat dimana realisme berinteraksi dengan spekulasi, jarang menawarkan banyak nilai dan berkesempatan untuk dibaca di Indonesia. 

            Timequake atau Gempa Waktu merupakan kumpulan opini yang dirangkum dalam narasi fiksi-ilmiah. Secara ringkas, novel itu bercerita tentang gangguan kosmik yang menyebabkan semua orang harus mengulangi satu dekade antara 1991-2001 dalam kendali otomatis. Menariknya, novel ini tidak berusaha menjawab hakikat kehendak bebas, melainkan membangun pertanyaan akan hal itu. Jika kehendak bebas memang ada, sudahkah kita menggunakan itu sebaik-baiknya? Ada dua kesulitan mengapa Gempa Waktu kurang menggairahkan. Pertama, novel ini bukan perkenalan yang baik dengan Vonnegut, karena ia lebih bekerja sebagai autobiografi kreatif daripada sebuah narasi yang utuh. Kedua, dan yang cukup penting, kesulitan translasi mengurangi kualitas humor yang dipaparkan oleh Vonnegut.

           Satire dalam hemat penulis, adalah cara untuk memperlihatkan kebobrokan suatu sistem melalui humor dan parodi bermuatan ironi. Alih-alih melihat ironi sebagai suatu humor, seringkali menampak sebagai suatu tragedi yang tidak patut ditertawakan. Humor satire Vonnegut biasanya dapat dilihat dari keterlibatan suatu karakter khusus yang menjadi moral kompas dalam novelnya. Bokoonon dalam Cat's Cradle dan Trout Killgore dalam Timequake adalah dua pesimistik yang melihat dunia dengan cara pragmatis daripada heroik. Tragedi bukan suatu hal yang menyedihkan, ia terjadi -sebagaimana menurut dialektika Hegel, sebagai proses alami menuju pendewasaan umat manusia, dan selayaknya, mereka yang memahami hal itu bersyukur telah hidup dan berpartisipasi dalam perayaan tersebut.

           Fiksi ilmiah yang merupakan panggung modular untuk merangkai narasi sangat memberi peluang dalam penyampaian suatu gagasan ruang dan kebudayaan. Novel George Orwell 1984yang berbicara tentang dystopia, membuka cerita dengan penggambaran dunia pasca-perang di mana semua orang tunduk pada rezim totaliter. Di sana hadir kajian tentang efek panopticon, paranoia, dan pertanyaan mendasar tentang ruang privat dan publik. Karya lain yang memiliki nafas sama, yakni novel berjudul Do Androids Dream of Electric Sheep karya Philip K. Dick yang diadaptasi ke dalam bentuk film dengan judul The Blade Runner berusaha memvisualisasikan futurisme. Latar dalam cerita yakni kota Los Angeles yang dibuat futuristik merupakan bentuk kongkrit implikasi gagasan arsitektur dalam sebuah karya literatur.

           Agak sulit untuk langsung menemukan gagasan arsitektur dalam karya Vonnegut. Meski begitu, nilai dalam cerita-cerita Vonnegut tidak menghilangkan perbedaan kualitas ruang dan pengaruhnya terhadap manusia. Sebagai contoh Cat's Cradle yang membawa isu antropologi berusaha menyimak suatu lokasi bernama Galapagos dan kebudayaannya. Perbedaan lokasi menyebabkan perbedaan pola pikir yang kemudian berbuntut pada proses dialog yang lucu. Usaha adaptasi protagonis  di dunia primitif, diangkat sebagai humor gelap yang masih relevan dewasa ini.



           Karya Vonnegut yang lain yang berjudul Siren of Titans menceritakan hubungan antara Bumi, Mars, dan Uranus. Pada bentuknya sudah terlihat peran dimensi ruang dalam karya ini. Sayangnya, karyanya ini kurang populer karena bobot fiksi ilmiahnya lebih terasa daripada tema moral. Ceritanya sederhana: Alkisah ada seorang manusia yang terjepit gangguan kosmik, sehingga ia harus berpindah antara Bumi dan Uranus setiap 6 bulan sekali. Setelah mengerutkan kening, kita dikenalkan dengan tokoh robot-alien Salo, yang memiliki cara persepsi yang menarik tentang ruang dan waktu. Kelanjutan cerita berputar antara perang peradaban Bumi dan Mars. Alur cerita seakan jungkir-balik dan ngawur, namun tetap menyenangkan.

           Implikasi arsitektur sebagai ekspresi kebudayaan yang memperlihatkan jejak atau alter-ego dari umat manusia, bukan suatu hal yang seutuhnya mulia. Setidaknya kaitan antara nilai arsitktur dan fiksi ilmiah Vonnegut sedikit-sedikit kita dapati dari karyanya yang kurang populer ini. Di novel ini, peradaban manusia tidak lain merupakan suatu proses terkontrol, -yang sialnya, hanya merupakan alat komunikasi satu arah bagi Salo untuk berbincang dengan planet asalnya. 


It was through this viewer that he got his first reply from Tralfamadore. The reply was written on Earth in huge stones on a plain in what is now England. The ruins of the reply still stand, and are known as Stonehenge. The meaning of Stonehenge in Tralfamadorian, when viewed from above, is: "Replacement part being rushed with all possible speed."
Stonehenge wasn't the only message old Salo had received. There had been four others, all of them written on Earth.
The Great Wall of China means in Tralfamadorian, when viewed from above: "Be patient. We haven't forgotten about you."
The Golden House of the Roman Emperor Nero meant: "We are doing the best we can."
The meaning of the Moscow Kremlin when it was first walled was: "You will be on your way before you know it."
The meaning of the Palace of the League of Nations in Geneva, Switzerland, is: "Pack up your things and be ready to leave on short notice."
                                                                                                                              -Siren of Titans, pg.196


           Satire dengan skala semesta ini, mengalahkan The Fountainhead (Ayn Rand, 1943) yang memandang suatu gerakan arsitektur sebagai isu yang sakral. Bagi Vonnegut sendiri, pergerakan kebudayaan (secara menyeluruh) bukan hal yang harus disikapi dengan mengorbankan darah dan air mata.

"Perhaps, now that the part has been delivered to the Tralfamadorian messenger, Tralfamadore will leave the Solar System alone. Perhaps Earthlings will now be free to develop and follow their own inclinations, as they have not been free to do for thousands of years." He sneezed.
"The wonder is that Earthlings have been able to make as much sense as they have," he said.
-Siren of Titans, pg.216

           Arsitektur dianggap mengalami penurunan nilai akibat teknologi melalui salah satu pasal diTimequake. Di situ ia menceritakan seorang arsitek yang bunuh diri setelah mengetahui sebuah program bernama Palladio yang mampu merancang secara otomatis, bahkan dengan penawaran berbagai gaya arsitektural. Heidegger dan banyak fenomenolog lain telah mengkritik hal yang sama dalam beragam esai tentang teknologi. Namun, isu arsitektur tidak akan lantas selesai melalui pendekatan humanis saja. Vonnegut selalu kembali pada penyikapan rasional untuk menjawab hal itu. Mungkin ia akan berkata arsitektur akan tetap laku karena kebutuhan (yang semakin rumit), dan jika manusia tak hendak menolong dirinya sendiri dari pertikaian, kebutuhan itu tak akan pernah terpenuhi.

           Jika realisme magis dan surrealisme mengkaji arsitektur melalui proyeksi mental (hal yang bermain di kepala), Fiksi ilmiah mematerialisasi arsitektur sebagai produk praktis, -sebuah mesin dengan potensi bahaya yang nyata. Memang, gagasan arsitektur dalam fiksi ilmiah cenderung berbuntut pada mimpi buruk bagi para humanis. Apabila nilai satire itu memang erat dengan tulisan Vonnegut, maka posisinya terhadap nilai arsitektur dan hubungannya dengan spekulasi dan perenungan dalam fiksi ilmiah seakan mengisyaratkan:  "kalau bisa, (arsitektur) jangan sampai begini nasibnya"

Saturday, October 8, 2016

Marah

No comments :
Kamu tau nggak gimana caranya marah dengan cantik?



" ... Further - though this may contradict what I say above - strong and interesting architectural criticism is defined by the way you talk about architecture, not the buildings you choose to talk about. 

In other words, fine: you can talk about Fumihiko Maki instead of, say, Half-Life, or Doom, or super-garages, but if you start citing Le Corbusier, or arguing about whether something is truly “parametric,” then you shouldn’t be surprised if anyone who’s not a grad student, studying with one of your friends at Columbia, puts the article down, gets in a car - and drives to the mall, riding that knotwork of self-intersecting crosstown flyovers and neo-Roman car parks that most architecture critics are too busy to consider analyzing. ..."


Geoff Manaugh itu salah satu gerilayawan kritik arsitektur gacoan saya. Bukan jebolan sekolah arsitek, justru membuat tulisannya punya perspektif yang menarik tentang arsitektur. Bahkan, kadang lebih berbobot dan menyentuh beragam disiplin. Satu dasawarsa silam, ternyata dia juga bisa kesal dengan sifat elitis arsitektur (yang kadang memang keparat pangkat dua). Sekarang, dia menulis suka-suka. Alhamdulilah.

Enaknya jadi gerilyawan kritik arsitektur: selalu bebas dari ancaman jadi tapol dan peluru senapan.

"... 1) Architectural criticism means writing about architecture, not writing about buildings.
Incredibly, in the midst of the talk last night, one of the panelists mentioned Archigram – almost wistfully – commenting that, despite a lack of built projects, Archigram still managed to dynamize and re-inspire the architectural scene of its era. This was done through ridiculous ideas, cheap graphics, a sense of humor, and enthusiasm. But, wait, what was –? Oh, that panelist must have forgotten, because he immediatetly went back to discussing buildings: not ideas, not enthusiasm, not architecture.
  
Architecture is not limited to buildings!  


Temporary Air Force bases, oil derricks, secret prisons, multi-story car parks, J.G. Ballard novels, Robocop, installation art, China MiĆ©ville, Department of Energy waste entombment sites in the mountains of southwest Nevada, Roden Crater, abandoned subway stations, Manhattan valve chambers, helicopter refueling platforms on artificial islands in the South China Sea, emergency space shuttle landing strips, particle accelerators, lunar bases, Antarctic research stations, Cape Canaveral, day-care centers on the fringes of Poughkeepsie, King of Prussia shopping malls, chippies, Fat Burger stands, Ghostbusters, mega-slums, Taco Bell, Salt Lake City multiplexes, Osakan monorail hubs, weather-research masts on the banks of the Yukon, Hadrian’s Wall, Die Hard, Charlie and the Chocolate Factory, Warren Ellis, Grant Morrison, Akira, Franz Kafka, Gormenghast, San Diego’s exurban archipelago of bad rancho housing, Denver sprawl, James Bond films, even, yes, Home Depot – not every one of those is a building, but they are all related to architecture. ..."

Amin

Puisi dan Arsitektur

No comments :

Dimuat di Qureta pada 8 oktober 2016

[1]
Saya agak segan jika membaca puisi. Sebagai bentuk literatur paling ekspresif, puisi suka membekas, tetapi sukar menyampaikan suatu gagasan secara teratur. Membaca puisi itu sulit, apalagi merangkainya. Betul-betul berani para pujangga itu bagi saya. Sementara, teman yang masih kuliah sastra tidak sependapat. Menulis puisi ya tinggal menulis saja. Biar artinya dicerna siapa yang mau.

Begitulah pandangan postmodern, yang bagi saya rada berjudi. Berati puisi bagus, dinilai lewat relevansinya bagi banyak orang. Sisanya, terlalu apak untuk diaminkan. Saya tak teruskan obrolan itu karena tahu akan muter hingga subuh. Saya hanya paham bahwa puisi adalah sarana untuk 'merasa' yang nilainya agak labil. Mungkin saya belum mengerti, sehingga saya menunda diri untuk menilai puisi.

[2]
Saya punya teman, sebutlah sukron. Iya, mirip merk kacang (sukro), dan di SMA memang dipanggil kacang. Saya dan sukron sedang jalan melintasi kampus menuju stasiun. Saat melewati suatu gedung infrastruktur kampus, sukron menyatakan pendapatnya tentang gedung tersebut.

"Gue ngga suka gedung ini, keliatannya kayak bangunan belum kelar."

Saya tidak banyak tahu tentang muasal bangunan itu dan arsiteknya. Namun, saya dididik untuk membaca arsitektur dengan teratur. Pertama, gedung itu bekerja sebagai kantor sekaligus studio, sehingga ukurannya masif, cenderung kotak, bahkan agak brutal dari sisi tertentu.

Kedua, saya paham bahwa elemen yang paling membuat gendung itu kelihatan belum beres, adalah upaya untuk mereduksi panas dan cahaya langsung dari matahari siang menggunakan tirai reflektif. Elemen tirai itu sengaja dibuat menonjol dan memanjang, untuk meneruskan karakter tegas dari entrance hingga beton-beton telanjang, yang menonjolkan kesan "teknik" dari gedung tersebut.

Kalau sukron pernah masuk ke dalamnya, ia akan tahu bagaimana jendela itu bekerja. Kalau ia berdiri pada titik yang tepat, ia mungkin akan melihat bagaimana gedung itu membawa dirinya sebagai suatu lambang.

[3]
Tentu saja saya tidak membantah kata-kata sukron, apalagi mengajaknya masuk gedung. Saya cukup senang, bahwa teman saya punya pendapat mandiri tentang suatu rancangan. Artinya, dia mencoba membaca rancangan, dan itu sudah sebentuk apresiasi nyata terhadap arsiteknya.

Namun ini membuktikan hal yang sama. Saya suka dan berusaha untuk membaca puisi bangunan dengan teratur, tetapi orang-orang selalu memiliki kebebasan penuh untuk menilai, dengan atau tanpa aturan.Apalagi, lebih banyak orang memilih untuk tidak menilai. Seperti saya terhadap puisi.

Saya selalu percaya orang sebaiknya punya sikap kritis tentang suatu rancangan. Sebab secara logis, mereka yang menempatinya. Hal ini berbeda dengan puisi yang tidak berkonsekuensi pada kelangsungan raga manusia. Dalam ekstrim saya yang paranoid: Kamu sudi tinggal di penjara hanya karena dicap halal sebagai istana oleh otoritas tertentu? 

[4]
Di sisi lain, teman saya berpendapat bahwa jika masyarakat giat membaca arsitektur atau terlalu kritis terhadap hal itu, para arsitek yang akan repot. Tentu saja ini berakar dari hindsight bahwa bahasan arsitektur selalu butuh modal pengetahuan yang dibangun dari barisan manifesto dan beragam disiplin ilmu. Merancang pasti dengan alasan, sementara kritik yang terlontar seperti diatas, biasanya hanya berasal dari permukaan. Jika 1.000 orang berkata demikian secara radikal, bisa jadi bangunan yang kami lewati itu terpaksa diperbaharui atas nama demokrasi. Mungkin begitu ekstrim teman saya.

Namun, justru dari situ kepercayaan saya tentang sikap kritis itu semakin kuat. Bukan giat, tetapibecus membaca. Membaca arsitektur, sepemahaman saya bukan sekedar merapalkan isi dari majalah arsitektur populer. Wawasan arsitektur bukan sesuatu yang mahal, hanya tampak mewah. Saya percaya orang tidak perlu berbondong-bondong mengikuti kelas Pengantar Arsitektur untuk memahami pengalaman dan kualitas ruang. Kita cukup mulai dengan pertanyaan: sudahkah kebutuhan spasial saya terpenuhi disini? 

Umumnya kritik itu hadir dalam bentuk keluhan tentang suatu rancangan; panas, lembab, atau berisik. Atau pujian lewat tentang suatu bangunan; indah, lucu, unik. Disana arsitektur terbaca di permukaan sebagai kesan, tetapi gagal menghasilkan suatu dialog yang sehat. Dialog yang paling baik terjadi ketika orang tidak hanya numpang merasa, tetapi juga bertindak aktif untuk mengatur ruang, seperti analogi Gaston Bachelard dalam Poetic of Space.

"...a man's building his own house that there is in a bird's building its own nest"

[5]
Membaca buku selalu melibatkan proses argumentatif. Waktu membaca, kita memanggil hantu dari buku-buku yang sudah dibaca untuk menakar nilai-nilai dari tulisan yang sedang kita hadapi. Begitu juga membaca sastra. Tenggelam dalam narasi, bukan berarti menelan kotak-kotak ideologi penulisnya. Namun kembali menimbangnya dengan prinsip milik sendiri. Arsitek menyajikan suatu narasi, yang kita jejaki setiap hari. Mengapa proses argumentasi yang sama tidak dapat terjadi ketika membaca arsitektur?

Pada titik ini, saya merasa bahwa buku Experiencing Architecture Ramussen intinya bicara tentangCara membaca/meraba/merasakan arsitektur. Sejujurnya, saya masih belum berbulat pendapat tentang mengapa orang perlu membacanya (arsitektur), selain keyakinan analogis bahwa arsitektur adalah puisi yang kita tinggali. Mengapa tidak dibentuk seindah mungkin sekalian?

Toh sebelum arsitek hadir, arsitektur sudah lahir duluan. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang sudah punya jurus ninja membaca ruang secara natural. Tidak hanya melihat rongga sebagai fungsi berlindung, tetapi juga mata estetis untuk melihat liang gua sebagai pangkal kehidupan.

Demikian bagi saya, Sukron lebih berani daripada orang-orang yang larut dalam guggenheim phenomenon.

Kedua, saya mafhum harus kembali baca puisi.

Monday, September 26, 2016

Silampukau

No comments :

Bagaimana ya, saya cinta benar musisi asal Surabaya ini. 

Bukan soal pesan mulia, tetapi karena kejujurannya. Album ini merangkum dosa dan kenangan muda-mudi yang mencoba jadi musisi. Berbeda dari, misalnya ERK yang disebut-sebut Iwan Fals muda. Mereka menyampaikan pesan lingkungan, propaganda sublim, dan hal yang baik-baik (Iya, saya akui dengan cara yang indah). Sementara Silampukau berkata secara santer(dan saya rasa sambil menenggak bir); hidup pernah keparat, tapi apa boleh buat. 

Saya memang cenderung membaca lirik daripada mendengar irama. Terutama yang sifatnya tidak pura-pura dan nyaring bunyinya. Karenanya saya juga senang mendengar lagu metal. Marahlah sekalian, jangan dibuat-buat tampak jadi manusia paling sial.

Memang pengalamannya tidak sama, tetapi semua orang muda yang cukup beruntung hidup di luar garis aman, pasti pernah mengalami masa limbo: bingung mau kemana, apa kabar besok, jam berapa sekarang. Kerap sampai pada ekstrim tertentu: membunuh hari lewat mengurung diri. Pada titik itu, pilihannya ada dua: marah atau menyerah. 

Nietzche pernah melontarkan hal yang sama tentang ressentiment. Dalam On the Genealogy of Morality, ia mengkritik dogma agama yang menyamarkan rasa marah terhadap dunia dalam bentuk pengabdian terhadap surga. Pada suprastruktur tertentu, orang yang tidak mampu mengubah nasibnya, cenderung berserah pada Tuhan. Nietzche tidak pernah menghinakan Tuhan, ia menghardik mereka yang berkomplot membunuh Tuhan untuk dijadikan kedok tawakal. Walaupun yang bersangkutan jadi gila dan terakhir ditemukan memeluk kuda, pemikirannya patut diperhitungkan.

Kembali pada Silampukau, rasa kesal dengan kedok di atas tidak hadir. Rasa sebal mereka terhadap pasar musik hanya muncul sekali dua kali, dan kritik itu dilontarkan melalui sarkas yang jenaka. Cara yang bagi saya jauh dari kacangan untuk merespon suatu persoalan.

Lirik-lirik mereka sangat personal, menceritakan dosa yang (mungkin) pernah mereka lakukan melalui musik bertema ballad. Mungkin ada kliping penyesalan yang hadir, tetapi saya rasa itu cara mereka berdamai melalui buka-bukaan kisah paling tabu. Dan sekali lagi, kesan nasib sial itu dilunturkan melalui humor tanpa jurus seribu dalih. Hidup pernah keparat, tapi apa boleh buat. 

Saya jadi ingat Oscar Wilde dalam Dorian Gray menyatakan hal yang sama tentang pengakuan: 
"when we blame ourselves, we feel that no one else has a right to blame us. It is the confession, not the priest, that gives us absolution. When Dorian had finished the letter, he felt that he had been forgiven". 

Jika benar bahwa album ini merupakan salah satu cara mereka berdamai dengan masa lalu, saya doakan dengan sungguh-sungguh agar proposalnya tembus.

Seketika, album "Dosa, kota, & Kenangan" menjadi hebat ketika mewakili suatu fase tertentu yang sifatnya universal. Bukan hanya merespon suatu perkara atau isu yang sedang hangat. Mirip dengan Blind Melon yang merangkum manusia generasi hippie, Silampukau menangkap gambar muda-mudi "kekinian" yang terasing dari kota mereka sendiri. Kualitas lirik yang sama saya temukan pada beberapa judul, dari "The Seeker" besutan The Who hingga "This Time Tommorow" oleh The Kinks: Tentang orang-orang di persimpangan jalan. 

Dalam pembelaan, saya tak tahu banyak tentang musik. Sebagai pendengar pasif yang mendapati musik sisa teman, berjodoh dengan lagu semacam ini sifatnya untung-untungan. Membahas estetika musik pun di luar kemampuan saya, bahkan di luar ketertarikan. Sehingga kawan, maklumilah jika pasal-pasal ini terasa timpang bagi kamu yang bertelinga sensitif. Namun ketika hal itu saya perhitungkan, artinya hal ini sangat relevan secara personal. 

Catatan kaki:
Belakangan, saya sangat menikmati judul Puan Kelana. 
Ya, kamu. Langit di sini terasa jingga melulu.

Saturday, September 17, 2016

Jendela

No comments :
Sempat dimuat di logikarasa

[1]
Ada sebuah jendela
Pada banyak waktu jendela kamar itu tertutup sempurna. Di saat yang lain saat tirainya terbuka dan daunnya ditarik ke dalam, seorang perempuan akan duduk di depannya seraya memandang cakrawala dengan muka pilu tanpa bergerak selama dua jam. Jendela itu berada pada ketinggian 4 lantai dari tanah, pada sebuah gedung rumah susun enam lantai yang sempat menjadi kawasan kriminal sebelum diberendel oleh aparat setempat, sehingga sekarang penghuninya hanyalah pengelola dan orang-orang tua yang menunggu maut. Maka, pemandangan seorang wanita muda bermata sayu di ambang jendela adalah sebuah kontras yang menarik diantara jemuran usang dan gedung tua yang kehilangan warnanya.

Friday, September 16, 2016

Sulap

No comments :
Artikel dimuat di qureta pada 15 September 2016

Waktu itu saya menemukan postingan blog yang isinya kurang lebih begini:

Semua pesulap sebelum bersulap umumnya mengucapkan mantra;   
"Bukan sulap, bukan sihir!" 
Lalu, yang mereka lakukan itu apa dong?

Pertanyaan semacam ini sangat menarik secara pribadi. Ganjilnya, apa yang dilakukan para pesulap itu kontradiktif dengan ucapan mereka. Saya jadi curiga, untuk apa mereka ngomong begitu? 
Baru-baru ini setelah mengikuti diskusi dialektika Hegel, saya sedikit menyadari unsur negasi dan fungsinya dalam "mantra" tersebut.

Sulap, menurut hemat saya adalah tipuan yang menghibur. Sebab, apa-apa yang dilakukan pesulap pastilah sesuatu yang ajaib dan berjarak dari yang logis. Sesuatu yang ajaib biasanya menyenangkan (kecuali harapan palsu). Sulap umumnya tidak membahayakan, tapi mengandung kejutan. Contoh sulap yang berbahaya muncul dalam salah satu cerpen Seno yang kocak itu: Seorang pesulap babak belur digebuki karena mengubah udara menjadi uang. Ini kasus tragis, jika sulap dibawa mengharap.
Terlepas dari satir, umumnya semua unsur sulap mengakali penontonnya, termasuk mantra di atas.

Secara ringkas dialektika Hegel merangkum proses mencapai sintesis melalui dua kali pengingkaran (negasi) dari tesis dan antitesis. Pengingkaran ini bertujuan untuk membantah tesis dengan menegasinya lewat antitesis, yang kemudian disangkal kembali oleh sintesis sebagai gabungan utuh dari keduanya. Lalu berulang lagi sampai kiamat. Kalau dalam prakteknya bagi mantra di atas, kurang lebih kalimat itu dapat dijabarkan seperti ini:
Negasi dari sulap adalah yang bukan sulap,
Yang bukan sulap (dan bukan sihir) = bukan tipuan, 
sehingga, yang bukan tipuan = sifatnya nyata.

Jadi, ketika pesulap yang hendak menghilangkan burung dari sangkar berkata:
"Bukan sulap, bukan sihir."
Memiliki arti:
"Ini nyata, bisa dipercaya."

Di sini pesulap sedang memantrai penonton, bukan burungnya. Pesulap menyangkal aksinya melalui "mantra" itu untuk menghadirkan kesan "nyata". Sehingga, pesulap telah melakukan dua tipuan, (1) aksi sulap, dan (2) mantra yang menegasi aksi tersebut. 
Walaupun bagi saya sintesis dari aksi ini membuat blunder atau bersifat membatalkan laksana haiku, pendekatan ini lebih sakti daripada mantra lain seperti "sim sala bim (This transform into That), dan abracadabra (I Create as I speak)" yang menegaskan aksi bersulap.

Mengapa mantra ini lebih sakti bagi saya?
Sebab berdasarkan contoh historis lainnya, pengingkaran/larangan lebih kuat untuk menegaskan sebuah maklumat. Misalnya dalil-dalil dalam kitab suci secara umum dan Ten Commandement secara khusus. Ten Comandement yang berisi 10 larangan Tuhan, selalu berujung pada kesimpulan;
"Jalan yang benar hanya satu, yaitu menghindari hal-hal ini."

Sementara dalam sudut pandang arsitektur, negasi adalah alat penyelidikan untuk menganalisa suatu rancangan. Dengan menegasi, atau lebih dikenal sebagai proses reduksi, kita dapat mengetahui esensi dari suatu rancangan. Misalnya untuk mendefinisikan masjid, kita dapat menegasi apa yang bukan masjid. Masjid bukan kubah, bukan tiang, bukan sajadah. Yang tersisa kelak adalah esensi masjid, yakni tipologinya sebagai tempat ibadah masal yang memenuhi syarat-syarat ritual sholat. 
Dari sini kita tahu bahwa sintesis dari rancangan masjid adalah bermula dari hasil negasi yang bukan masjid (tipologi masjid) ditambah simbol-simbol kebudayaan. Karenanya, dalam kasus-kasus masjid tidak beratap kubah, kita tetap dapat memahaminya sebagai suatu masjid.

Dengan menegaskan suatu aksi melalui negasi, baik seorang pesulap, arsitek, maupun pendogma agama, dapat menampilkan suatu kesan kebenaran pada penontonnya. Ini bukan ujug-ujug penipuan, tetapi dapat menjadi proses yang sehat untuk mencapai suatu kesimpulan. Suatu larangan selama dibaca sebagai negasi, bukan hal yang negatif selama berada dalam proses dialog yang tepat. 

Kecuali larangan merokok di kantin tanpa kubus khusus perokok. Itu marginalisasi. 

Monday, September 12, 2016

Ants

No comments :


I love ant-man movie. It's nerdy but clever yet funny. But now I hate ants.

The very same ant that helped Ant-man to destroy his nemesis building, -Nylanderia Fulva, recently had cost me dearly. But now i wonder if i mistook it for its distribution far from Indonesia. Nevertheless, i now hate ants. Be it common ant, let's just continue the story as it is.
This species destroyed my adapter, twice in a week. How? Their modus operandi, is to find nesting point without actually build one (rotten wood, electronic appliances, bed), in any cavity that, -ant-wise speaking, sufficiently sized for whole colony.

And I thought I was the laziest crafter in here.

The ridiculous things tho, like in Ant-man movie, as this ants nesting in electronic appliances, they got electrocuted one by one. The dead ones then releasing threat-hormones that called out same species to repeat the cycle, -This unfortunate loop, is the one that dangerous to us. Until it built up into a bodies of corpses and finally create short circuit which kills the poor machine.

"Help me! -lol, jk. U dead"
"We might as well take down the machine with us"
"Terrific"

As in the week: I bought secondhand laptop that running smoothly for few months until one day it refused to boot up and having no signs of life. Not knowing what happened, in utter panic I ran to computer services that morning whose owner was about to go on holiday with his family. We found out that the adaptor was dead, so I bought what was left in his belonging, it was inaventable I think. Counting 6 year, it's a miracle that the adaptor still functioning. I happily return to my place, not knowing the danger that lurks beneath my desk where I usually placed my adaptor. 

The next day I woke up with same laptop condition, -dead as diCaprio on Titanic. At this point I knew that nothing was wrong with my PC unit, so I checked the adaptor to see if the owner had gave me a bad one.

And so it was. These little hobo swarming inside and outside my adapter like it was public square of ant-town. I can imagine prophet-like ant lead the masses to promises land to die together. Lo and behold! great warm machine for our children.

Short story, I opened my old adaptor and found them nesting there. It almost like purgatory, -for the bodies of ants, that reddish stuff, swarming everywhere like holocaust victim (pardon my ignorance). I tried to clean it and put on power but it ended up in vain. I figures the new one had met the same miserable fate. The ant probably used same path to follow and cycled upon the same stupidity as its short-lived predecessor.

They nesting in big masses, electrocuted, live on their brothers corpses, short-circuited, and once again in glorious win, broke my adaptor, now in the matter of day.

Motherfucker.

On the other side it took me to remark my point of view about human and ant.
At the beginning of our race we filled mother-earth's cave to reproduce at triumphant rate for few thousands of year. We came out as we kept dying by winter or eaten by big cats, so we decided to make our own cave with many, -I mean, lots of approaches that most of the time made us forgot what we actually build in any architectural works ever existed: A-costumized-cavity.

We too, repeatly die at massive number as it no longer suitable lifestyle for us, just to signify something goes wrong in large scale. We "moved on", adapt, and collectively re-suicides in particular time intervals. Ants had nothing to name it for. We called it tragedy, or to sound academic, a dialectical progress.

To think that we are better race than ant just because we now have iPhone 7, is a banal thought. Hell, ant doesnt requires particular ideologies to live and meaning to build, they just did and its been well up to this point. Most people, even provided with these historical knowledge that cost a live(s), leads no better life than ants, for they strive and mocks others from their own species, just because a matter of culture.

Or worse, soccer team.

Fuck it, I probably too upset for I now only have noodles for the rest of the month.

Sunday, August 7, 2016

Antara Van Gennep dan Jamrud

No comments :
Rite of passages (1961) adalah Judul buku yang dirujuk dosen pada kelas etno-architecture. Buku ini berbicara tentang liminality dalam konteks kesukuan. Menurut Van Gennep, ada 3 tahap utama dalam pola transisi identitas pada kehidupan berkesukuan. Pre-liminal, liminal, dan post-liminal. ketiganya merupakan tahap yang bekerja melalui mekanisme separation (melepaskan identitas lama), trasition (perjalanan antara menuju identitas baru), dan incorporation (memeluk identitas baru). Buku ini berisi deskripsi yang berupaya memecah pola ritual melalui contoh dari berbagai suku di amerika dan eropa. 

Konsep liminality lantas muncul dimana-mana akibat diperkenalkan kembali oleh Victor Turner dalam Forest of symbol, mulai dari mitos, literasi, budaya populer, hingga kajian arsitektur. Purgatory, sebagai lokasi in-between antara surga dan neraka, (yang menurut guru ngaji saya dulu adalah tempat bagi orang-orang tidak waras), juga memenuhi kualitas dari liminal space. Dream, salah satu karakter pentolan Neil Gaiman, merupakan karakter liminal yang hidup dan mengatur dunia mimpi (i.e. siang dan malam). Di Indonesia, kita mengenal trickster, atau aktor dunia liminal dengan nama Kancil; oportunis dan outsider. Saya sudah curiga dari kecil bahwa kisah kancil bukan tentang pesan moral untuk menjadi cerdas, melainkan licik tanpa ampun. Duar. 

Liminality dalam arsitektur
Sulit untuk membayangkan ilustrasi arsitektur dalam rite of passage, yang mana berfungsi praktis sebagai jurnal etnografi. Namun, petunjuk korelasi antara arsitektur dan ritual kesukuan diselipkan dalam salah satu kalimat metafora Gennep : "as a kind of house divided into rooms and corridors." 
Van gennep tidak secara eksplisit memaparkan hubungan antar keduanya. Ia berfokus pada definisi liminality dan indikasinya, dan secara umum, hal itu dapat bekerja dimana saja melalui mekanisme yang sama. 
Liminal space ternyata dapat diterapkan melalui rancangan, bukan hanya bekerja secara natural atau analogi puitis. Jika kualitas liminal dapat dipaparkan dalam pola, hal ini memungkinkan untuk membuat suatu rancangan berbasis pengalaman ruang yang sama, sehingga mengantar aktor untuk mengalami hal serupa. Nyatanya, hal ini kerap untuk dilakukan hingga saat ini. 

Perbedaan utama antara liminal space dan, katakan distopian atau disorienting space adalah yang pertama tidak hanya menghilangkan identitas lama, tetapi juga menghadirkan potensi baru bagi individu yang mengalami ruang tersebut. Sebagai contoh, Jewish Museum karya Daniel Libeskind, mencoba menghadirkan pengalaman disorientasi kepada pengunjungnya, melalui narasi historis selama melalui museum. Sementara pada rancangan liminoid, seperti kuil yunani dengan campuran kolom lelaki dan perempuan, berupaya menghadirkan kegamangan sebelum mencapai final point altar yang mewakili ke-Esaan dewa. 

Hal ini tampak mirip dengan tema 'in-between' yang menjadi konsep arsenal dari rumah tradisional jepang. Rumah tradisional jepang, dalam perspektif Taichiro Izaki, membagi bagian luar dan dalam rumah melalui keremangan yang dihadirkan oleh teras rumah. Disini, keremangan bekerja sebagai pembatas sekaligus jembatan antara gelap (in) dan terang (out), tetapi tidak lantas menghadirkan kualitas liminal yang wajib mereduksi identitas aktor di dalamnya. Keremangan dalam konsep orientalis, merujuk kepada pengalaman untuk menyatukan diri pada alam dengan menghilangkan batas antara luar dan dalam rumah. Hal ini juga disebut-sebut dalam Empire of sign sebagai usaha untuk melunturkan makna serupa dengan cara Haiku bekerja. 

Jamrud
Nah ini yang penting. Sementara Jamrud, salah satu band yang paling relevan dalam kehidupan kita (ya, saya deh), memberi contoh paling genap dalam mengenal konsep liminality. Salah satu lagu jamrud yang berjudul "Pelangi di matamu" bagi saya menceritakan tentang kondisi liminal yang dialami aktor. 

30 menit, kita disini, tanpa suara
dan aku resah, harus menunggu lama, 
kata darimu
Jam dinding pun tertawa
karena ku hanya diam//dan membisu
ingin kumaki//diriku sendiri
yang tak berkutik di depanmu

30 menit bekerja sebagai kerangka temporal yang melingkupi ruang liminal aktor. Ia menggambarkan bagaimana kondisi tersebut, yang diam-diam memenuhi kualitas liminoid: berada di ruang antara, centang. dalam kegamangan, centang. bingung, centang. dan ketidakpastian dari ujung waktu, dobel centang.

ada yang lain//di senyummu
yang membuat lidahku//gugup tak bergerak
ada yang lain//di bola matamu
yang memaksa diriku//tuk bilang 
aku sayang padamu

Sampai titik ini, saya menganggap bahwa hal itu tidak terucap oleh aktor ybs. Sehingga dapat dikatakan bahwa aktor masih berada di ruang liminal. 

mungkin sabtu nanti//kuungkap semua
isi di hati
dan aku benci//harus jujur padamu
tentang semua ini

Pada akhirnya, aktor masih berada dalam ruang liminal. Iya, rada mindblowing. Jung mungkin akan setuju bahwa hal ini contoh ketika seseorang berada terlalu nyaman di ruang liminal, tidak hendak mengambil identitas baru karena ruang tersebut menyisakan pilihan dan ide tentang keberhasilan, tanpa usaha. 

Tuesday, July 5, 2016

Hentai

2 comments :

Saat nyaris batal puasa karena tak sengaja berpapasan dengan konten hentai di Tumblr, saya tiba-tiba kepikiran; Bagaimana bisa sesuatu setabu dan seabnormal ini berkembang seperti agama?

Menurut google trend statistic, keyword hentai paling banyak dicari oleh masyarakat Filipina (100), yang kedua Indonesia (73). Saya curiga bahwa penduduk Filipina yang mengakses kata kunci tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah pelajar/mahasiswa Indonesia yang tengah merantau dan merindukan golden boy. 


Pertanyaan kedua muncul, bagaimana bisa perkembangannya juga melejit di Indonesia?

Dalam ringkasan: Sejarah hentai sudah berakar di Jepang sejak 1814. Tahun dimana masyarakat barat merayakan istilah ideologi transendental dan beberapa tahun sebelum kita dipaksa bercocok tanam sambil berkeringat darah. Pada tahun itu, Hokusai Katsushika menerbitkan novel The Dream of Fisherman, kisah tentang pencuri wanita yang dihukum dengan mengawini gurita, yang kelak melahirkan tentakel sebagai arkitipe simbol hentai[1]



Sementara di Indonesia, konsentrasi perkembangan hentai sulit dilacak terutama karena hal ini dinilai tidak signifikan, serta tidak ada catatan sejarah bahwa pedagang kapal menyelipkan hentai sebagai salah satu bentuk pertukaran terhadap rempah-rempah. 

Lewat ingatan pribadi, sejak saya SMP komik hentai sudah booming, dalam judul yang tidak saya ingat akibat hilang di bawah kasur serta judul-judul lain yang translasinya busuk setengah mati. Saat itu, komik hentai tidak lain berfungsi sebagai kunci jawaban tentang keingintahuan mengenai sesuatu di balik beha. 

Pakar hentai yang saya kenal (ridho dan rahadian) memahami bahwa produk cetak bajakan yang beredar di Indonesia lebih condong masuk ranah ecchi atau doujin (self-publishing work) yang melibatkan konten vulgar di dalamnya sebagai penyedap cerita. Hentai di sisi lain, secara tegas menjual eksplorasi seksual yang cenderung ganjil kepada peminatnya. Belakangan, hentai yang tidak berbasa-basi ini marak di jejaring maya dengan translasi yang sudah lancar berbahasa Indonesia baku.

Keganjilan yang saya maksud dari hentai antara lain tingkat abnormal dari fantasi seksual, dramatisasi visual, semangat misogis dan objektifikasi terhadap perempuan. Yang terakhir memang stereotipe dari pornografi, sisanya secara ekslusif dapat dikatakan sebagai kualitas substansial yang dimiliki hentai[2]. Fantasi seksual melibatkan elemen-elemen asing seperti alien, peri, dan fetish yang mengejutkan, sementara dramatisasi visual diperlihatkan mulai dari ukuran perbendaharaan fisik hingga posisi seks yang melebihi kepiawaian aktor sirkus. 

Imajinasi ini sukar untuk disajikan melalui pornografi live action, sebab membuat robot tentakel yang lincah dan memburai isi perut itu efek yang mahal. Sehingga fleksibilitas hentai sebagai produk ilustrasi lebih sering menjadi jawaban untuk menyalurkan imaji tersebut. Tuntutan untuk mengakali UU sensor pada 1907, mengakibatkan hentayist menggambarkan proyeksi seksual lewat alterasi simbol tentakel dan mahluk fabel untuk menggantikan penis dan birahi. Ternyata metode ini bertahan dan menjejak pada produk hentai belakangan. Disini, hentai telah mengalami pergeseran fungsi dari reaksi terhadap sensor menjadi sebentuk budaya populer di Jepang[3].

Sialnya, Indonesia yang jarang memiliki respon kreatif terhadap sensor, mengadopsi hentai sebagai sub kultur yang sama. Hal ini sejalan dengan popularitas anime dan manga yang berkembang di Indonesia sekitar 1990an. 

Indonesia sendiri punya sejarah lakon erotis yang mandiri. Hasil perburuan memperkenalkan saya pada Enny Arrow. Penulis novel stensil yang berkembang pada 1980an. Kedekatan kita pada tradisi tulisan, melahirkan karya akbar sejurus "Bahana Asmara", "Puncak Bukit Kemesraan", dan "Kisah Tante Sonya"[4]. Sementara dari aspek visual, kembali lagi melalui ingatan, komik Indonesia bergerak pada nuasana dunia persilatan dan epos pewayangan, tidak ketinggalan fan-fiction petruk dan gareng yang betul-betul seru seharga seribu rupiah. 


sedap


Sementara produk komik yang mendekati bentuk hentai dalam tema keganjilan, adalah seri siksa kubur yang pernah membuat saya rajin beribadah.



Menghemat kesimpulan, situasi perkembangan hentai kontemporer di Indonesia, selain karena tren turunan, muncul akibat respon terhadap sensor konten pornografi. Tidak heran bahwa peminat aktif hentai berasal dari remaja atau anak-anak. Selain kontennya lebih mudah diakses, hentai lebih mudah diterima sebagai paket dosa yang lebih murah, karena sebagian besar orang masih menganggap bahwa kartun bersifat mubah. Sehingga popularitasnya dibalik jeruji sensor lebih leluasa. 

Jika saja Eny Arrow adalah kartunis, pasti lain ceritanya. 

Disini saya berjarak dengan sikap mengenai moralitas membaca hentai. Toh kadang saya juga mengapresiasi beberapa produk hentai sebagai upaya kreatif untuk menyalurkan proyeksi seksual. Seperti seni baroque, hentai membahas ekspresi yang tergolong tabu dan merayakan unsur primodial dari manusia; seksualitas, hanya saja dengan cara yang cenderung banal.

Pencarian saya berakhir pada kenyataan nihil bahwa hentai dan signifikasinya di Indonesia berlaku sebagai alternasi terhadap pornografi secara umum. Perbedaan utama yang berlaku adalah bahwa di Indonesia, hentai sebagai budaya tandingan tidak menelurkan komunitas yang mengapresiasi penulis manga ataupun memberi kontribusi terhadap ekspresi kreatif secara masif maupun industri yang menguntungkan seperti di Jepang, melainkan sebagai bentuk perlawanan gagap dan penyaluran naluri seksual secara instan. 

Namun jangan khawatir,



Pranala luar:

Saturday, June 18, 2016

Flow

No comments :

"gue belum dapet feel-nya" -kata seorang teman. "gue nggak passion disitu" -kata saya


Ini kalimat yang sering terdengar di sana-sini. Feel atau passion yang dimaksud, menurut Mihaly Csikszentmihalyi, disebut sebagai Flow. Bedanya mungkin feel atau workflow, dayanya lebih singkat ketimbang passion dan kemenerusannya.

Flow merupakan suatu kondisi mental ketika pelaku mendapati dirinya fokus pada pekerjaan dalam dunianya sendiri, lantas terlihat seperti scene di film saat protagonis menghadapi titik balik kehidupannya secara gemilang. Kondisi ini terjadi karena tantangan dari suatu masalah dan skill yang dimiliki untuk menyelesaikannya sama-sama berada pada level yang tinggi. Disebut sebagai secret of happiness, Mihaly berangkat pada fenomena seniman yang tenggelam dalam proses kreatifnya. Betapa merdeka mereka yang membuat sesuatu dengan tujuan seni sebagai seni

Wikipedia bilang, kondisi Flow diperlihatkan melalui beberapa indikasi: 

Intense and focused concentration on the present moment
Merging of action and awareness
A loss of reflective self-consciousness
A sense of personal control or agency over the situation or activity
A distortion of temporal experience, one's subjective experience of time is altered
Experience of the activity as intrinsically rewarding, also referred to as autotelic experience

Mihaly juga menyebutkan bahwa Flow adalah kondisi yang dapat diraih dan dilatih. Dengan kata lain, hak semua bangsa. Tentu saja ini menjadi demikian menarik dan seakan-akan menjadi jawaban surga tentang pemecahan masalah semua orang; tidak bisa menyelesaikan sesuatu dengan baik, atau sama sekali. 



Ini diagram yang penting, untuk melihat bagaimana posisi dan kondisi ajaib Flow dapat diraih.

Tentang mengalami hal itu, saya menggunakan contoh pengalaman touring sepeda. Saya paham bahwa jarak 100 km adalah jarak yang sulit untuk diselesaikan dalam satu hari. Namun hal itu jadi mungkin selama skill yang saya miliki cukup mumpuni. Saya memahami skill (cara mengendarai sepeda dengan benar, bukan dengan gemar) dan tantangan terkait (berapa banyak tanjakan, pemberhentian, dan pembagian waktu istirahat) secara realistis. Memang 6 gejala diatas terjadi. Aspal yang panjang terasa demikian mulus. Hanya ada saya, sepeda, dan jalanan. 12 jam, tidak terasa selama itu.

Dalam contoh keseharian yang lebih relevan, tentang membaca. Membaca buku itu tantangan. Pun orang menyatakan gemar membaca, dalam prosesnya membaca melibatkan situasi argumentatif hingga lembar terakhir. Bedanya, seberapa kompleks kebutuhan argumentasi yang muncul bagi bacaan yang berbeda. Skill membaca; mengurai arti dan membandingan pengetahuan, perlu sebanding dengan tantangan dari buku yang dibaca, bukan cuma soal tebal, tetapi isinya.

Melalui art of Flow kelihatannya memang hidup akan lebih mudah. Namun seperti yang kita tahu, ngga segampang itu sih. 


Portal komplek
Rintangan yang saya pahami untuk mencapai dimensi Flow ada 2. 

Yang pertama bahwa challenge yang bekerja pada masyakarat (bersifat aktual) kadang tidak sebahasa dengan challenge yang kita miliki. Disini challenge, sebagai hal yang harus diselesaikan. Misalnya,bagi saya membaca ulang invisible cities untuk menangkap cara mencacah kualitas ruang dan potensi kawin silang antara narasi dan arsitektur, jauh lebih penting daripada membuat DPT. Padahal kenyataannya, SAMA. Hanya beda bahasa. 

Yang kedua, kita cenderung mempersepsikan tantangan lebih Maha ketimbang realita. Misalnya, buku tebal itu susah dibaca. Atau yang konyol adalah menyepelekan suatu tantangan. Misalnya membaca buku yang temanya asing sama sekali itu cukup sepotong-sepotong. 

Bisa saja, dan umumnya orang curang. Dengan menurunkan derajat tantangan menjadi 'tinggi' ketimbang 'begitu tinggi' lewat permainan mindset dan motivasi artifisial yang berjarak dengan kenyataan. Namun, seberapa lama itu akan bertahan?

Selalu saat kenyataannya menabrak (dan biasanya ditengah medan pertempuran), variabel lain muncul dalam proses menyelesaikan masalah. Yakni kekhawatiran atau rasa percaya diri berlebih. Perubahan psikologis ini ujung-ujungnya mengganggu ritme Flow menjadi naik dan turun sepanjang proses penyelesainnya. Reality check!














Sebelum muntah, sebat dululah.


Cara lain yang pernah saya lakoni adalah mencacah suatu masalah menjadi beberapa masalah kecil dalam satu proses. Misalnya bagian yang paling menyenangkan dari membuat maket adalah mengukur dan memotong bahan (iya, sedih). Menatanya, lalu, mempercantik. Kondisi Flow bisa ditempatkan pada pecahan masalah yang saya kuasai, lalu untuk pecahan masalah berikutnya kembali pada daya untuk bertahan. Cara ini, nggak asik.

Nerdwriter, salah satu channel baik di Youtube, membahas Flow dan seni untuk bekerja. Hal ini membuat saya ingat tentang art of labour dari buku The Human Condition. Pada kesimpulannya, jika orang kembali, atau mampu menilik nilai intrinsik dari suatu pekerjaan mengerjakan desrep demi desrep, rasanya kita, terutama saya bisa selamat. 



Refleksi
Tentu saja, tujuan dari tulisan ini mengingatkan saya, bahwa kesulitan menyelesaikan desrep tidak berada di langit ketujuh, serta tidak semudah membalik telapak tangan. Saya juga mengamati, selama menulis postingan ini, saya tidak mengalami proses Flow yang ajaib, lebih pada kondisi arousal. sebab niat dari merampungkannya ada 2, yang pertama mencatat dan merencanakan, yang kedua memperlebar jarak dengan kegugupan. Untuk postingan ini, saya tidak murni menulis untuk menulis, atau menulis untuk membebaskan pikiran. Yang paling utama, saya sebal dengan tulisan berbau motivasi pasar yang praktis.


 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design