Thursday, March 12, 2015

Teman Saya Ini


Sebenarnya zaman testimonian temen ini sudah lewat sejak smp. Berhubung saya kesal tidak dapat hadir dalam ritual jumput telur, saya coba permalukan saja teman saya ini disini.

Saya kenal orang ini waktu ulang tahun irwin. Dia menghadiahi si imbisil sebungkus mild yang digangbang malam itu juga hingga melompong. Bicara punya bicara, selera film kita sama (yang biru beda), selera bukunya menarik, dan mudah diajak bicara hal-hal yang mengangkasa. Bedanya dia lebih rajin mandi. Ya saya kan cinta lingkungan dan aktivis penghematan air.

Teman saya ini, awalnya lebih mudah dijelaskan indikasi karakternya melalui kawin silang kata ‘tidak’ dan sifat buruk. Dia tidak bajingan, tidak pamer, tidak sombong, tidak norak, tidak pelit, tidak malas, tidak cabul (tentatif), tidak nimbun rokok, yang paling penting, tidak ikut-ikutan.

Belakangan saya tahu kualitas tanpa ‘tidak’ yang ia miliki. Mampu mengapresiasi suatu seni. Nah, kemampuan ini mewah, jika seseorang berkata film ini bagus, seru, dahsyat, maka ia berbasis percaya. Teman saya akan berkata bahwa film ini baik, karena (alasan). Bukti apresiatif ini terlihat dari kualitas foto Instagramnya. Aspek lain banyak, tapi tidak saya tulis karena tujuan dari tulisan ini mencoba mempermalukan teman saya (rasanya mulai gagal).


Teman saya ini pemikir bebas. Namun sering merasa belum bisa membebaskan pikirannya (udah, tembak aja doi sob, biar stalkernya ga nambah). Dia selalu punya pendapat yang unik, coba tanya karya fotografi termahal di dunia, ia akan bercerita tentang originnya. Apa itu reinassance, siapa Chuck Palaniuk, film berkualitas dan mengapa itu berkualitas, lagu indie beken, dan lain-lain. Hal-hal non-trivial yang jarang orang tertarik dengar, sebab kurang relevan bagi kebutuhan sosial anak-anak kampusnya (hidup mahasiswa). Bedanya, jika ia tahu maka tahu, bukan seperti saya yang suka gumoh-gumoh teori. Hal ini menjadi kualitas utama seseorang yang bagi saya nikmat untuk dicuri pengetahuannya.

Teman saya ini relativist, saya baru sadar setelah doi doktrin dengan bacaan chuck .P. Seorang relativist punya tenet utama; Suatu hal bisa jadi benar atau salah tergantung konteksnya. Kita tidak bisa segampang itu menyatakan kebenaran sebelum mengkaji ulang. Beda dengan nihilist yang mudah mengacungkan jari tengah terhadap semua belief. Umumnya, relativist dianggap plin-plan, tapi bagi saya, dalam pembicaraan awam seputar filsafat dan kritik sosial, relativist adalah orang yang bijak, karena apa yang diucapkan telah melewati saringan otak dengan kritik yang paten. Usia dibawah 23 belum punya kemewahan untuk menyatakan kebenaran (parsial) sebab diri sendiri belum menjadi, maka berhati-hati itu perlu. 

Kami pernah berombongan pergi ke Semeru. Saya beriman pada kalimat ‘alam memaksa orang untuk jujur’. Teman saya ini bukan koleris (karena saya ingat yang suka perintah bukan dia), bukan oportunis (karena saya ingat dia ikut memasak dan menyalakan api ketimbang tidur duluan), bukan melankolis (karena saya tidak ingat dia cium-cium bunga di tepi danau), mungkin plegmatis, sebab tidak ambil pusing untuk drama dan konfrontasi. Jika saya (ketiban rejeki) hendak pergi ke gunung lagi, maka teman saya ini pasti saya ajak untuk menjadi dokumenter.

Sebelum sibuk dan entah nantinya harus pakai dasi dan kemeja rapi, kami sering duduk bersama dan berbicang panjang dan lebar. Disini karakter utama ketidakbajingan (sebab menyatakan baik itu cenderung homo dan membosankan) teman saya terlihat, suka memprovide kopi dan mewakafkan rokok, rela rumahnya diasapi dan dihinggapi semalaman, belum lagi bukunya sering saya pinjam. Jika bicara, compact, tidak berbelit, dan suka menanggapi hal yang (kembali) dianggap sepele. Pembicaraan jadi panjang, bervariasi, berisi(semoga), dan menyenangkan. Saya memang bingung kenapa lingkaran ini begitu kecil, padahal rasanya tidak eksklusif dan ditutup-tutupi. Jadi saya sangat bersyukur untuk lingkaran ini.



Nah ini jepretannya, rabun jika dibilang culun 

Ini sedikit hadiah dari saya, sebuah tulisan pihak ketiga untuk mensubsidi refleksi diri tahunan. Banyak semoga, dipilih sendiri, nanti diAminkan (kalau ingat).


Selamat meneruskan nafas sob, semoga tahun ini angka 21 menjadi angka keberuntungan.

No comments: