Sunday, October 6, 2013

A note for brokenharted

2 comments :
Sahabat gue baru putus dengan cowoknya, she took it pretty good tho. *angkat topi*
Tapi memang, dalam minggu pertama dia ngalamin kehapitan yang cukup berat. Manusiawi.

Sampe pada titik dia bilang semua cowok brengsek. Generalisasi ini memang cukup sering dilontarkan oleh yang dikecewakan, atau diputusin. Generalisasi yang sama yang bikin gue mempertanyakan orientasi seksual gue pas doi bilang gitu.
'sis, aku ini cowok apa bukan? katakan, katakaaan!'

Why do we love?
Kita tau rokok itu berbahaya, yet umatnya tetep menghisap rokok terus menerus.
Same goes for love, kita tau main cinta itu beresiko. banget. Kalopun jadian, ujungnya putus. Kalopun terus sampai menikah, kita bakal dipisahkan oleh maut. In the end, kita bakal ngerasain sedih. Bahkan, sedihnya berbanding lurus dengan kebahagiaan yang dirasakan selama pdkt, jadian, menikah.
The greater the happiness, the greater the sadness when its end. Hukum ketiga Newton.

Gue pikir, kita main hati dengan resiko yang kita tau tersebut simply because the reason.
Kita pengen dianggap spesial oleh seseorang.
Kita pengen disentuh.
Kita pengen membuat cerita.
Kita pengen bahagia.
and all the reason that blinded up the risk.

Inti tulisan melankolis ini bukan ngebahas kenapa mencinta. Tapi kenapa mengulang. Gue becermin, dan melihat bahwa gue juga punya cerita2 berjudi hati yang kebanyakan berakhir dengan nestapa. Yet, gue masih siap untuk ngelempar hati gue ke meja judi. Kok goblok kit?

Saturday, October 5, 2013

3676 mdpl, nyaris (2)

No comments :

Setelah kongko sebentar di ranu kumbolo, kami segera menghadapi tanjakan cinta yang melegenda itu. Konon katanya bila kita melewati tanjakan ini tanpa menoleh ketika mendaki sambil mikirin doi, baik itu lawan ataupun sama jenis, maka cinta kita akan tersatukan dengannya. Dan seperti halnya kekonon-kononan lainnya, legenda ini merupakan omong kosong bagi gue. Kalo benar demikian, maka tanjakan cinta pasti lebih rame ketimbang orang tawaf setiap harinya. Biar begitu, pas nanjak gue berusaha keras mengingat wajah Tyas Mirasih tanpa menoleh dan berenti.

Habis melewati tanjakan cinta, kita dihadapkan pada padang savana yang terlah meng-ungu. Kalo kata aday padang lapang yang landai ini "Ars banget" karena dept Ars berwarna simbol ungu, hampir aja gue colok aday dengan pasak tenda karena mengingatkan gue pada kuliah. Aslinya di musim2 kering padang ini berwarna kuning dan keliatan lebih menghebohkan bagai tanah Afrika. Namun tanpa keliatan seperti itu savana ini juga sudah awesome enough untuk membungkam kami berduabelas.

Langit masih meneteskan gerimis dengan ragu-ragu.

5 menit pake ponco, 5 menit buka. ulangi. Siapa bilang kegalauan hanya milik peserta snmptn dan ababil bb, Langit juga bisa galau bung.

Kamipun sampai di cemoro kandang. Beristirahat sejenak sambil mengabadikan momen berdiri sebelah papan penunjuk area. Setelah itu ngga ada yang menduga bahwa medan yang dilewati lumayan menyebalkan. Menyebalkan karena hujan terus merintik, dan lelah terus menerpa. Lapar, gara2 nggak sarapan dengan baik ngebuat kami berenti di tengah jalan untuk masak ransum, dua kotak untuk berdua belas. Hangat dan renyah nasi (yang seharusnya enggak) mengisi tubuh dan memberi tenaga baru untuk pendakian, sementara.

Jam 3 sore, kami tepat tiba di kalimati. Tenda segera berdiri, api segera dinyalakan, perut-perut segera diisi. Nyawa kembali berkumpul. Nggak ada yang terlalu lucu selain ngeliatin figo boker diantara semak, atau si luhur yang make handuk adit buat cebok. Sore itu kelabu, dingin kurang bersahabat, tetapi mentari masih menembuskan sinarnya malu2. Its just pure fun.

Malam tiba, pukul 11 kami sudah bersiap melakukan pendakian akhir.
 
Free Joomla Templates Free Blogger Templates Free Website Templates Freethemes4all.com Free CSS Templates Free Wordpress Themes Free Wordpress Themes Templates Free CSS Templates dreamweaver SEO Design