Saturday, September 17, 2016

Jendela

Sempat dimuat di logikarasa

[1]
Ada sebuah jendela
Pada banyak waktu jendela kamar itu tertutup sempurna. Di saat yang lain saat tirainya terbuka dan daunnya ditarik ke dalam, seorang perempuan akan duduk di depannya seraya memandang cakrawala dengan muka pilu tanpa bergerak selama dua jam. Jendela itu berada pada ketinggian 4 lantai dari tanah, pada sebuah gedung rumah susun enam lantai yang sempat menjadi kawasan kriminal sebelum diberendel oleh aparat setempat, sehingga sekarang penghuninya hanyalah pengelola dan orang-orang tua yang menunggu maut. Maka, pemandangan seorang wanita muda bermata sayu di ambang jendela adalah sebuah kontras yang menarik diantara jemuran usang dan gedung tua yang kehilangan warnanya.

Friday, September 16, 2016

Sulap

Artikel dimuat di qureta pada 15 September 2016

Waktu itu saya menemukan postingan blog yang isinya kurang lebih begini:

Semua pesulap sebelum bersulap umumnya mengucapkan mantra;   
"Bukan sulap, bukan sihir!" 
Lalu, yang mereka lakukan itu apa dong?

Pertanyaan semacam ini sangat menarik secara pribadi. Ganjilnya, apa yang dilakukan para pesulap itu kontradiktif dengan ucapan mereka. Saya jadi curiga, untuk apa mereka ngomong begitu? 
Baru-baru ini setelah mengikuti diskusi dialektika Hegel, saya sedikit menyadari unsur negasi dan fungsinya dalam "mantra" tersebut.

Sulap, menurut hemat saya adalah tipuan yang menghibur. Sebab, apa-apa yang dilakukan pesulap pastilah sesuatu yang ajaib dan berjarak dari yang logis. Sesuatu yang ajaib biasanya menyenangkan (kecuali harapan palsu). Sulap umumnya tidak membahayakan, tapi mengandung kejutan. Contoh sulap yang berbahaya muncul dalam salah satu cerpen Seno yang kocak itu: Seorang pesulap babak belur digebuki karena mengubah udara menjadi uang. Ini kasus tragis, jika sulap dibawa mengharap.
Terlepas dari satir, umumnya semua unsur sulap mengakali penontonnya, termasuk mantra di atas.

Secara ringkas dialektika Hegel merangkum proses mencapai sintesis melalui dua kali pengingkaran (negasi) dari tesis dan antitesis. Pengingkaran ini bertujuan untuk membantah tesis dengan menegasinya lewat antitesis, yang kemudian disangkal kembali oleh sintesis sebagai gabungan utuh dari keduanya. Lalu berulang lagi sampai kiamat. Kalau dalam prakteknya bagi mantra di atas, kurang lebih kalimat itu dapat dijabarkan seperti ini:
Negasi dari sulap adalah yang bukan sulap,
Yang bukan sulap (dan bukan sihir) = bukan tipuan, 
sehingga, yang bukan tipuan = sifatnya nyata.

Jadi, ketika pesulap yang hendak menghilangkan burung dari sangkar berkata:
"Bukan sulap, bukan sihir."
Memiliki arti:
"Ini nyata, bisa dipercaya."

Di sini pesulap sedang memantrai penonton, bukan burungnya. Pesulap menyangkal aksinya melalui "mantra" itu untuk menghadirkan kesan "nyata". Sehingga, pesulap telah melakukan dua tipuan, (1) aksi sulap, dan (2) mantra yang menegasi aksi tersebut. 
Walaupun bagi saya sintesis dari aksi ini membuat blunder atau bersifat membatalkan laksana haiku, pendekatan ini lebih sakti daripada mantra lain seperti "sim sala bim (This transform into That), dan abracadabra (I Create as I speak)" yang menegaskan aksi bersulap.

Mengapa mantra ini lebih sakti bagi saya?
Sebab berdasarkan contoh historis lainnya, pengingkaran/larangan lebih kuat untuk menegaskan sebuah maklumat. Misalnya dalil-dalil dalam kitab suci secara umum dan Ten Commandement secara khusus. Ten Comandement yang berisi 10 larangan Tuhan, selalu berujung pada kesimpulan;
"Jalan yang benar hanya satu, yaitu menghindari hal-hal ini."

Sementara dalam sudut pandang arsitektur, negasi adalah alat penyelidikan untuk menganalisa suatu rancangan. Dengan menegasi, atau lebih dikenal sebagai proses reduksi, kita dapat mengetahui esensi dari suatu rancangan. Misalnya untuk mendefinisikan masjid, kita dapat menegasi apa yang bukan masjid. Masjid bukan kubah, bukan tiang, bukan sajadah. Yang tersisa kelak adalah esensi masjid, yakni tipologinya sebagai tempat ibadah masal yang memenuhi syarat-syarat ritual sholat. 
Dari sini kita tahu bahwa sintesis dari rancangan masjid adalah bermula dari hasil negasi yang bukan masjid (tipologi masjid) ditambah simbol-simbol kebudayaan. Karenanya, dalam kasus-kasus masjid tidak beratap kubah, kita tetap dapat memahaminya sebagai suatu masjid.

Dengan menegaskan suatu aksi melalui negasi, baik seorang pesulap, arsitek, maupun pendogma agama, dapat menampilkan suatu kesan kebenaran pada penontonnya. Ini bukan ujug-ujug penipuan, tetapi dapat menjadi proses yang sehat untuk mencapai suatu kesimpulan. Suatu larangan selama dibaca sebagai negasi, bukan hal yang negatif selama berada dalam proses dialog yang tepat. 

Kecuali larangan merokok di kantin tanpa kubus khusus perokok. Itu marginalisasi. 

Monday, September 12, 2016

Ants



I love ant-man movie. It's nerdy but clever yet funny. But now I hate ants.

The very same ant that helped Ant-man to destroy his nemesis building, -Nylanderia Fulva, recently had cost me dearly. But now i wonder if i mistook it for its distribution far from Indonesia. Nevertheless, i now hate ants. Be it common ant, let's just continue the story as it is.
This species destroyed my adapter, twice in a week. How? Their modus operandi, is to find nesting point without actually build one (rotten wood, electronic appliances, bed), in any cavity that, -ant-wise speaking, sufficiently sized for whole colony.

And I thought I was the laziest crafter in here.

The ridiculous things tho, like in Ant-man movie, as this ants nesting in electronic appliances, they got electrocuted one by one. The dead ones then releasing threat-hormones that called out same species to repeat the cycle, -This unfortunate loop, is the one that dangerous to us. Until it built up into a bodies of corpses and finally create short circuit which kills the poor machine.

"Help me! -lol, jk. U dead"
"We might as well take down the machine with us"
"Terrific"

As in the week: I bought secondhand laptop that running smoothly for few months until one day it refused to boot up and having no signs of life. Not knowing what happened, in utter panic I ran to computer services that morning whose owner was about to go on holiday with his family. We found out that the adaptor was dead, so I bought what was left in his belonging, it was inaventable I think. Counting 6 year, it's a miracle that the adaptor still functioning. I happily return to my place, not knowing the danger that lurks beneath my desk where I usually placed my adaptor. 

The next day I woke up with same laptop condition, -dead as diCaprio on Titanic. At this point I knew that nothing was wrong with my PC unit, so I checked the adaptor to see if the owner had gave me a bad one.

And so it was. These little hobo swarming inside and outside my adapter like it was public square of ant-town. I can imagine prophet-like ant lead the masses to promises land to die together. Lo and behold! great warm machine for our children.

Short story, I opened my old adaptor and found them nesting there. It almost like purgatory, -for the bodies of ants, that reddish stuff, swarming everywhere like holocaust victim (pardon my ignorance). I tried to clean it and put on power but it ended up in vain. I figures the new one had met the same miserable fate. The ant probably used same path to follow and cycled upon the same stupidity as its short-lived predecessor.

They nesting in big masses, electrocuted, live on their brothers corpses, short-circuited, and once again in glorious win, broke my adaptor, now in the matter of day.

Motherfucker.

On the other side it took me to remark my point of view about human and ant.
At the beginning of our race we filled mother-earth's cave to reproduce at triumphant rate for few thousands of year. We came out as we kept dying by winter or eaten by big cats, so we decided to make our own cave with many, -I mean, lots of approaches that most of the time made us forgot what we actually build in any architectural works ever existed: A-costumized-cavity.

We too, repeatly die at massive number as it no longer suitable lifestyle for us, just to signify something goes wrong in large scale. We "moved on", adapt, and collectively re-suicides in particular time intervals. Ants had nothing to name it for. We called it tragedy, or to sound academic, a dialectical progress.

To think that we are better race than ant just because we now have iPhone 7, is a banal thought. Hell, ant doesnt requires particular ideologies to live and meaning to build, they just did and its been well up to this point. Most people, even provided with these historical knowledge that cost a live(s), leads no better life than ants, for they strive and mocks others from their own species, just because a matter of culture.

Or worse, soccer team.

Fuck it, I probably too upset for I now only have noodles for the rest of the month.

Sunday, August 7, 2016

Antara Van Gennep dan Jamrud

Rite of passages (1961) adalah Judul buku yang dirujuk dosen pada kelas etno-architecture. Buku ini berbicara tentang liminality dalam konteks kesukuan. Menurut Van Gennep, ada 3 tahap utama dalam pola transisi identitas pada kehidupan berkesukuan. Pre-liminal, liminal, dan post-liminal. ketiganya merupakan tahap yang bekerja melalui mekanisme separation (melepaskan identitas lama), trasition (perjalanan antara menuju identitas baru), dan incorporation (memeluk identitas baru). Buku ini berisi deskripsi yang berupaya memecah pola ritual melalui contoh dari berbagai suku di amerika dan eropa. 

Konsep liminality lantas muncul dimana-mana akibat diperkenalkan kembali oleh Victor Turner dalam Forest of symbol, mulai dari mitos, literasi, budaya populer, hingga kajian arsitektur. Purgatory, sebagai lokasi in-between antara surga dan neraka, (yang menurut guru ngaji saya dulu adalah tempat bagi orang-orang tidak waras), juga memenuhi kualitas dari liminal space. Dream, salah satu karakter pentolan Neil Gaiman, merupakan karakter liminal yang hidup dan mengatur dunia mimpi (i.e. siang dan malam). Di Indonesia, kita mengenal trickster, atau aktor dunia liminal dengan nama Kancil; oportunis dan outsider. Saya sudah curiga dari kecil bahwa kisah kancil bukan tentang pesan moral untuk menjadi cerdas, melainkan licik tanpa ampun. Duar. 

Liminality dalam arsitektur
Sulit untuk membayangkan ilustrasi arsitektur dalam rite of passage, yang mana berfungsi praktis sebagai jurnal etnografi. Namun, petunjuk korelasi antara arsitektur dan ritual kesukuan diselipkan dalam salah satu kalimat metafora Gennep : "as a kind of house divided into rooms and corridors." 
Van gennep tidak secara eksplisit memaparkan hubungan antar keduanya. Ia berfokus pada definisi liminality dan indikasinya, dan secara umum, hal itu dapat bekerja dimana saja melalui mekanisme yang sama. 
Liminal space ternyata dapat diterapkan melalui rancangan, bukan hanya bekerja secara natural atau analogi puitis. Jika kualitas liminal dapat dipaparkan dalam pola, hal ini memungkinkan untuk membuat suatu rancangan berbasis pengalaman ruang yang sama, sehingga mengantar aktor untuk mengalami hal serupa. Nyatanya, hal ini kerap untuk dilakukan hingga saat ini. 

Perbedaan utama antara liminal space dan, katakan distopian atau disorienting space adalah yang pertama tidak hanya menghilangkan identitas lama, tetapi juga menghadirkan potensi baru bagi individu yang mengalami ruang tersebut. Sebagai contoh, Jewish Museum karya Daniel Libeskind, mencoba menghadirkan pengalaman disorientasi kepada pengunjungnya, melalui narasi historis selama melalui museum. Sementara pada rancangan liminoid, seperti kuil yunani dengan campuran kolom lelaki dan perempuan, berupaya menghadirkan kegamangan sebelum mencapai final point altar yang mewakili ke-Esaan dewa. 

Hal ini tampak mirip dengan tema 'in-between' yang menjadi konsep arsenal dari rumah tradisional jepang. Rumah tradisional jepang, dalam perspektif Taichiro Izaki, membagi bagian luar dan dalam rumah melalui keremangan yang dihadirkan oleh teras rumah. Disini, keremangan bekerja sebagai pembatas sekaligus jembatan antara gelap (in) dan terang (out), tetapi tidak lantas menghadirkan kualitas liminal yang wajib mereduksi identitas aktor di dalamnya. Keremangan dalam konsep orientalis, merujuk kepada pengalaman untuk menyatukan diri pada alam dengan menghilangkan batas antara luar dan dalam rumah. Hal ini juga disebut-sebut dalam Empire of sign sebagai usaha untuk melunturkan makna serupa dengan cara Haiku bekerja. 

Jamrud
Nah ini yang penting. Sementara Jamrud, salah satu band yang paling relevan dalam kehidupan kita (ya, saya deh), memberi contoh paling genap dalam mengenal konsep liminality. Salah satu lagu jamrud yang berjudul "Pelangi di matamu" bagi saya menceritakan tentang kondisi liminal yang dialami aktor. 

30 menit, kita disini, tanpa suara
dan aku resah, harus menunggu lama, 
kata darimu
Jam dinding pun tertawa
karena ku hanya diam//dan membisu
ingin kumaki//diriku sendiri
yang tak berkutik di depanmu

30 menit bekerja sebagai kerangka temporal yang melingkupi ruang liminal aktor. Ia menggambarkan bagaimana kondisi tersebut, yang diam-diam memenuhi kualitas liminoid: berada di ruang antara, centang. dalam kegamangan, centang. bingung, centang. dan ketidakpastian dari ujung waktu, dobel centang.

ada yang lain//di senyummu
yang membuat lidahku//gugup tak bergerak
ada yang lain//di bola matamu
yang memaksa diriku//tuk bilang 
aku sayang padamu

Sampai titik ini, saya menganggap bahwa hal itu tidak terucap oleh aktor ybs. Sehingga dapat dikatakan bahwa aktor masih berada di ruang liminal. 

mungkin sabtu nanti//kuungkap semua
isi di hati
dan aku benci//harus jujur padamu
tentang semua ini

Pada akhirnya, aktor masih berada dalam ruang liminal. Iya, rada mindblowing. Jung mungkin akan setuju bahwa hal ini contoh ketika seseorang berada terlalu nyaman di ruang liminal, tidak hendak mengambil identitas baru karena ruang tersebut menyisakan pilihan dan ide tentang keberhasilan, tanpa usaha. 

Tuesday, July 5, 2016

Hentai


Saat nyaris batal puasa karena tak sengaja berpapasan dengan konten hentai di Tumblr, saya tiba-tiba kepikiran; Bagaimana bisa sesuatu setabu dan seabnormal ini berkembang seperti agama?

Menurut google trend statistic, keyword hentai paling banyak dicari oleh masyarakat Filipina (100), yang kedua Indonesia (73). Saya curiga bahwa penduduk Filipina yang mengakses kata kunci tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah pelajar/mahasiswa Indonesia yang tengah merantau dan merindukan golden boy. 


Pertanyaan kedua muncul, bagaimana bisa perkembangannya juga melejit di Indonesia?

Dalam ringkasan: Sejarah hentai sudah berakar di Jepang sejak 1814. Tahun dimana masyarakat barat merayakan istilah ideologi transendental dan beberapa tahun sebelum kita dipaksa bercocok tanam sambil berkeringat darah. Pada tahun itu, Hokusai Katsushika menerbitkan novel The Dream of Fisherman, kisah tentang pencuri wanita yang dihukum dengan mengawini gurita, yang kelak melahirkan tentakel sebagai arkitipe simbol hentai[1]



Sementara di Indonesia, konsentrasi perkembangan hentai sulit dilacak terutama karena hal ini dinilai tidak signifikan, serta tidak ada catatan sejarah bahwa pedagang kapal menyelipkan hentai sebagai salah satu bentuk pertukaran terhadap rempah-rempah. 

Lewat ingatan pribadi, sejak saya SMP komik hentai sudah booming, dalam judul yang tidak saya ingat akibat hilang di bawah kasur serta judul-judul lain yang translasinya busuk setengah mati. Saat itu, komik hentai tidak lain berfungsi sebagai kunci jawaban tentang keingintahuan mengenai sesuatu di balik beha. 

Pakar hentai yang saya kenal (ridho dan rahadian) memahami bahwa produk cetak bajakan yang beredar di Indonesia lebih condong masuk ranah ecchi atau doujin (self-publishing work) yang melibatkan konten vulgar di dalamnya sebagai penyedap cerita. Hentai di sisi lain, secara tegas menjual eksplorasi seksual yang cenderung ganjil kepada peminatnya. Belakangan, hentai yang tidak berbasa-basi ini marak di jejaring maya dengan translasi yang sudah lancar berbahasa Indonesia baku.

Keganjilan yang saya maksud dari hentai antara lain tingkat abnormal dari fantasi seksual, dramatisasi visual, semangat misogis dan objektifikasi terhadap perempuan. Yang terakhir memang stereotipe dari pornografi, sisanya secara ekslusif dapat dikatakan sebagai kualitas substansial yang dimiliki hentai[2]. Fantasi seksual melibatkan elemen-elemen asing seperti alien, peri, dan fetish yang mengejutkan, sementara dramatisasi visual diperlihatkan mulai dari ukuran perbendaharaan fisik hingga posisi seks yang melebihi kepiawaian aktor sirkus. 

Imajinasi ini sukar untuk disajikan melalui pornografi live action, sebab membuat robot tentakel yang lincah dan memburai isi perut itu efek yang mahal. Sehingga fleksibilitas hentai sebagai produk ilustrasi lebih sering menjadi jawaban untuk menyalurkan imaji tersebut. Tuntutan untuk mengakali UU sensor pada 1907, mengakibatkan hentayist menggambarkan proyeksi seksual lewat alterasi simbol tentakel dan mahluk fabel untuk menggantikan penis dan birahi. Ternyata metode ini bertahan dan menjejak pada produk hentai belakangan. Disini, hentai telah mengalami pergeseran fungsi dari reaksi terhadap sensor menjadi sebentuk budaya populer di Jepang[3].

Sialnya, Indonesia yang jarang memiliki respon kreatif terhadap sensor, mengadopsi hentai sebagai sub kultur yang sama. Hal ini sejalan dengan popularitas anime dan manga yang berkembang di Indonesia sekitar 1990an. 

Indonesia sendiri punya sejarah lakon erotis yang mandiri. Hasil perburuan memperkenalkan saya pada Enny Arrow. Penulis novel stensil yang berkembang pada 1980an. Kedekatan kita pada tradisi tulisan, melahirkan karya akbar sejurus "Bahana Asmara", "Puncak Bukit Kemesraan", dan "Kisah Tante Sonya"[4]. Sementara dari aspek visual, kembali lagi melalui ingatan, komik Indonesia bergerak pada nuasana dunia persilatan dan epos pewayangan, tidak ketinggalan fan-fiction petruk dan gareng yang betul-betul seru seharga seribu rupiah. 


sedap


Sementara produk komik yang mendekati bentuk hentai dalam tema keganjilan, adalah seri siksa kubur yang pernah membuat saya rajin beribadah.



Menghemat kesimpulan, situasi perkembangan hentai kontemporer di Indonesia, selain karena tren turunan, muncul akibat respon terhadap sensor konten pornografi. Tidak heran bahwa peminat aktif hentai berasal dari remaja atau anak-anak. Selain kontennya lebih mudah diakses, hentai lebih mudah diterima sebagai paket dosa yang lebih murah, karena sebagian besar orang masih menganggap bahwa kartun bersifat mubah. Sehingga popularitasnya dibalik jeruji sensor lebih leluasa. 

Jika saja Eny Arrow adalah kartunis, pasti lain ceritanya. 

Disini saya berjarak dengan sikap mengenai moralitas membaca hentai. Toh kadang saya juga mengapresiasi beberapa produk hentai sebagai upaya kreatif untuk menyalurkan proyeksi seksual. Seperti seni baroque, hentai membahas ekspresi yang tergolong tabu dan merayakan unsur primodial dari manusia; seksualitas, hanya saja dengan cara yang cenderung banal.

Pencarian saya berakhir pada kenyataan nihil bahwa hentai dan signifikasinya di Indonesia berlaku sebagai alternasi terhadap pornografi secara umum. Perbedaan utama yang berlaku adalah bahwa di Indonesia, hentai sebagai budaya tandingan tidak menelurkan komunitas yang mengapresiasi penulis manga ataupun memberi kontribusi terhadap ekspresi kreatif secara masif maupun industri yang menguntungkan seperti di Jepang, melainkan sebagai bentuk perlawanan gagap dan penyaluran naluri seksual secara instan. 

Namun jangan khawatir,



Pranala luar:

Saturday, June 18, 2016

Flow


"gue belum dapet feel-nya" -kata seorang teman. "gue nggak passion disitu" -kata saya


Ini kalimat yang sering terdengar di sana-sini. Feel atau passion yang dimaksud, menurut Mihaly Csikszentmihalyi, disebut sebagai Flow. Bedanya mungkin feel atau workflow, dayanya lebih singkat ketimbang passion dan kemenerusannya.

Flow merupakan suatu kondisi mental ketika pelaku mendapati dirinya fokus pada pekerjaan dalam dunianya sendiri, lantas terlihat seperti scene di film saat protagonis menghadapi titik balik kehidupannya secara gemilang. Kondisi ini terjadi karena tantangan dari suatu masalah dan skill yang dimiliki untuk menyelesaikannya sama-sama berada pada level yang tinggi. Disebut sebagai secret of happiness, Mihaly berangkat pada fenomena seniman yang tenggelam dalam proses kreatifnya. Betapa merdeka mereka yang membuat sesuatu dengan tujuan seni sebagai seni

Wikipedia bilang, kondisi Flow diperlihatkan melalui beberapa indikasi: 

Intense and focused concentration on the present moment
Merging of action and awareness
A loss of reflective self-consciousness
A sense of personal control or agency over the situation or activity
A distortion of temporal experience, one's subjective experience of time is altered
Experience of the activity as intrinsically rewarding, also referred to as autotelic experience

Mihaly juga menyebutkan bahwa Flow adalah kondisi yang dapat diraih dan dilatih. Dengan kata lain, hak semua bangsa. Tentu saja ini menjadi demikian menarik dan seakan-akan menjadi jawaban surga tentang pemecahan masalah semua orang; tidak bisa menyelesaikan sesuatu dengan baik, atau sama sekali. 



Ini diagram yang penting, untuk melihat bagaimana posisi dan kondisi ajaib Flow dapat diraih.

Tentang mengalami hal itu, saya menggunakan contoh pengalaman touring sepeda. Saya paham bahwa jarak 100 km adalah jarak yang sulit untuk diselesaikan dalam satu hari. Namun hal itu jadi mungkin selama skill yang saya miliki cukup mumpuni. Saya memahami skill (cara mengendarai sepeda dengan benar, bukan dengan gemar) dan tantangan terkait (berapa banyak tanjakan, pemberhentian, dan pembagian waktu istirahat) secara realistis. Memang 6 gejala diatas terjadi. Aspal yang panjang terasa demikian mulus. Hanya ada saya, sepeda, dan jalanan. 12 jam, tidak terasa selama itu.

Dalam contoh keseharian yang lebih relevan, tentang membaca. Membaca buku itu tantangan. Pun orang menyatakan gemar membaca, dalam prosesnya membaca melibatkan situasi argumentatif hingga lembar terakhir. Bedanya, seberapa kompleks kebutuhan argumentasi yang muncul bagi bacaan yang berbeda. Skill membaca; mengurai arti dan membandingan pengetahuan, perlu sebanding dengan tantangan dari buku yang dibaca, bukan cuma soal tebal, tetapi isinya.

Melalui art of Flow kelihatannya memang hidup akan lebih mudah. Namun seperti yang kita tahu, ngga segampang itu sih. 


Portal komplek
Rintangan yang saya pahami untuk mencapai dimensi Flow ada 2. 

Yang pertama bahwa challenge yang bekerja pada masyakarat (bersifat aktual) kadang tidak sebahasa dengan challenge yang kita miliki. Disini challenge, sebagai hal yang harus diselesaikan. Misalnya,bagi saya membaca ulang invisible cities untuk menangkap cara mencacah kualitas ruang dan potensi kawin silang antara narasi dan arsitektur, jauh lebih penting daripada membuat DPT. Padahal kenyataannya, SAMA. Hanya beda bahasa. 

Yang kedua, kita cenderung mempersepsikan tantangan lebih Maha ketimbang realita. Misalnya, buku tebal itu susah dibaca. Atau yang konyol adalah menyepelekan suatu tantangan. Misalnya membaca buku yang temanya asing sama sekali itu cukup sepotong-sepotong. 

Bisa saja, dan umumnya orang curang. Dengan menurunkan derajat tantangan menjadi 'tinggi' ketimbang 'begitu tinggi' lewat permainan mindset dan motivasi artifisial yang berjarak dengan kenyataan. Namun, seberapa lama itu akan bertahan?

Selalu saat kenyataannya menabrak (dan biasanya ditengah medan pertempuran), variabel lain muncul dalam proses menyelesaikan masalah. Yakni kekhawatiran atau rasa percaya diri berlebih. Perubahan psikologis ini ujung-ujungnya mengganggu ritme Flow menjadi naik dan turun sepanjang proses penyelesainnya. Reality check!














Sebelum muntah, sebat dululah.


Cara lain yang pernah saya lakoni adalah mencacah suatu masalah menjadi beberapa masalah kecil dalam satu proses. Misalnya bagian yang paling menyenangkan dari membuat maket adalah mengukur dan memotong bahan (iya, sedih). Menatanya, lalu, mempercantik. Kondisi Flow bisa ditempatkan pada pecahan masalah yang saya kuasai, lalu untuk pecahan masalah berikutnya kembali pada daya untuk bertahan. Cara ini, nggak asik.

Nerdwriter, salah satu channel baik di Youtube, membahas Flow dan seni untuk bekerja. Hal ini membuat saya ingat tentang art of labour dari buku The Human Condition. Pada kesimpulannya, jika orang kembali, atau mampu menilik nilai intrinsik dari suatu pekerjaan mengerjakan desrep demi desrep, rasanya kita, terutama saya bisa selamat. 



Refleksi
Tentu saja, tujuan dari tulisan ini mengingatkan saya, bahwa kesulitan menyelesaikan desrep tidak berada di langit ketujuh, serta tidak semudah membalik telapak tangan. Saya juga mengamati, selama menulis postingan ini, saya tidak mengalami proses Flow yang ajaib, lebih pada kondisi arousal. sebab niat dari merampungkannya ada 2, yang pertama mencatat dan merencanakan, yang kedua memperlebar jarak dengan kegugupan. Untuk postingan ini, saya tidak murni menulis untuk menulis, atau menulis untuk membebaskan pikiran. Yang paling utama, saya sebal dengan tulisan berbau motivasi pasar yang praktis.


Saturday, April 16, 2016

Asosiasi Bebas

Di studio saya, ada ulangan mendadak. Entah apa namanya, yang jelas tidak berhubungan dengan kuis atau tulisan. Seluruh mahasiswa/i diminta untuk membuat model eksplorasi selama 45 menit per model untuk total 3 buah model. Jadi, selama 3 jam kami diminta untuk memaparkan ide spasial melalui model yang representatif.

Aturan mainnya juga sederhana, buat ide pertama yang terlintas di benak kalian, titah sang dosen. 

yang menarik, hal ini mirip dengan freewriting. 

Freewriting menggunakan asosiasi bebas untuk membentuk suatu paragraf. Apa-apa yang terlintas di benak dituliskan tanpa sensor atau penghapus. Fungsinya sederhana, menghilangkan hal-hal mencemaskan dari kegiatan menulis; keyakinan, struktur, tanggung jawab tulisan, dsb. 

Umumnya freewriting digunakan sebagai pendekatan kreatif untuk mengurai ide. Efek yang dikejar disini sama. Bahkan, kadang jika dibarengi niat, model yang dibuat dapat dikembangkan sebagai komponen utama project. 

Ultimatumnya juga jelas; cobalah melupakan tanggung jawab penyelesaian masalah dengan mencoba mengurai pikiran dalam model. Sebab model adalah instrumen penting dalam penalaran spasial.

Budi pekerti ini memang perlu dilestarikan dalam studio. 

Walaupun proses membuat model dengan terburu-buru bisa dianggap sporadis, dan hasil yang terbangun pada umumnya masih lemah dalam argumen, bahkan bisa terjebak dalam omong kosong dan debat telur ayam; 

jadi model ini menjelaskan hubungan spasial antara celah yang mereduksi bidang planar dalam rumah untuk memperkuat visibilitas dari subjek.
jadi dengan mengurangi dinding?
iya mbak
kenapa tidak diberi jendela saja?
oh iya 

Namun, proses itu sendiri mengantar seseorang untuk terbiasa mengkomposisikan kualitas spasial, membentuk ide secara keruangan, setidak-tidaknya memahami ide sendiri.

Hal ini mengingatkan saya, bahwa analogi antara arsitektur dan teks itu selaras. Salah satu dosen biasa menggunakan pendekatan naratif dalam menjelaskan desainnya. Dosen ini juga yang menganalogikan denah dengan tolak ukur peta gaming. 

Baginya, pada setiap titik dari sebuah karya arsitektural, penting untuk punya cerita. Dimana seseorang berdiri, disana bangunan punya obrolan. Tembok dan tali air punya cerita tentang arah, sebagaimana pohon kemboja mengajak seseorang untuk melewati taman sebelum memasuki rumah. Sebelum dan sesudah masuk rumah, orang sebaik-baiknya mendapat manfaat estetika setelah fungsi.

Dari tiap-tiap bagian rumah, merupakan bab yang membangun keseluruhan rumah. Dalam suatu bagian rumah, ada kompleksitas yang kaya, tanpa perlu melepaskan diri dari benang merah pintu depan hingga teras belakang. Bedah lebih dalam, tata perabotan dapat menjadi statement tentang suatu rumah. Masuk dan duduklah. 

Dan seperti sihir, rancangan yang baik dapat membuat orang duduk dan mengobrol, sama seperti saat menangis membaca buku kematian lennie dalam of mice and man; begitu saja, tanpa disuruh.

Maka, asosiasi bebas yang dilakukan hari itu, terlepas dari berakhir atau tidaknya di tempat sampah, membantu kami untuk mengingat kembali hal yang ingin kami ceritakan. Mahasiswa yang punya penggalan narasi patah-patah tentang fraksi cahaya dan kehangatan kamar tapi tak tahu cara menjelaskannya, punya dua kemungkinan, (1) terpaku (2) menemukannya diantara lekukan karton dan potongan beermat. 

Monday, April 11, 2016

Icarus



Ada dua lagu yang merepresentasikan legenda Icarus. Yang pertama, Kuning dari Rumahsakit, dan yang kedua Flight of Icarus oleh Iron Maiden. Lagu pertama, jika tidak didakwa sebagai upaya objektifikasi terhadap perempuan dengan titel matahari, secara liberal saya umpamakan sebagai point of view dari Icarus pasif, -jika, ia lebih sudi nyebat dengan Daedalus, -bapaknya, ketimbang mengejar matahari.

namun jarak yang kutempuh
tak membuatku lebih dekat lagi denganmu

ceritakan padaku indahnya keluh kesahmu
sebelum angin senja membasuh jauh

tetaplah di istanamu langit yang biru kelabu
biarlah rinduku kusimpan bersama mimpiku

Dalam skenario ini, Icarus pasti sampai dengan selamat ke Sisilia, ditambah kepuasan berdialog dengan matahari. Disini Icarus tahu diri, bahwa sayap dari bapaknya bukan untuk mencuri matahari, tetapi mencukupi kebutuhan perjalanan menuju kebebasan.

Pada lagu kedua, Iron Maiden melakukan reka ulang tragedi kejatuhan Icarus melalui narasi ketiga dan pertama dari Icarus sendiri. Sebagai catatan pribadi, lagu ini merupakan godam yang begitu kuat sampai saya tidak bisa meletakan ekspresi yang lebih bermoral selain; ah, tai.

Now the crowd breaks and a young boy appears
Looks the old man in the eye
As he spreads his wings and shouts at the crowd
In the name of God my father I fly.

His eyes seem so glazed
As he flies on the wings of a dream.
Now he knows his father betrayed
Now his wings turn to ashes to ashes his grave

Icarus yang malang, -jika tidak dibilang ceroboh. Begitu lupa daratan, Icarus memberontak pada kebesaran sang bapak, mencoba meraih matahari untuk mengalahkannya. Pada akhirnya ia bicara tentang kebencian, dan berjarak begitu rupa dengan hal yang ingin dia kenali. 

Icarus oh Icarus,
mengapa engkau berusaha
memeluk matahari
hanya untuk jatuh
seperti seorang keparat

Astaga, oh astaga
mari berkompromi
selagi doa ibu menyertai
dan Tuhan masih menaruh hati

Baiklah, ayo mulai lagi.